Santri mana yang tidak kenal dengan istilah ghasab. Sepertinya
setiap santri sudah mafhum dengan istilah yang satu ini. Ghasab sendiri adalah
istilah untuk menyebut seseorang yang memakai atau menggunakan barang milik
orang lain tanpa seizin pemiliknya. Dan lelakuan tidak beradab ini sering
terjadi di pondok pesantren. Tentunya nggak semua santri lho ya, hanya ada
beberapa santri badung binti bandel yang melakukan ghasab. Termasuk penulis
sendiri sudah sering menjadi korban ghasab. Memang sih nggak separah pencurian,
tapi tetap saja bikin jengkel dan makan hati.
Banyak sekali barang yang biasa dighasab oleh santri
bandel. Mulai dari sendal, handuk, peralatan mandi hingga baju sekalipun.
Pernah suatu hari saya kelabakan mencari sendal yang
tiba-tiba raib dari depan masjid. Eh, usut punya usut ternyata sendal saya
sudah jalan duluan ke asrama. Pasti ada yang menghasab. Marah nian hati ini.
Banyak sekali kejadian menggelikan sekaligus miris
terkait kelakukan buruk yang satu ini. Seperti yang dialami sahabat saya Wendi
yang dengan pedenya menghasab sendal Pak Kyai dari halaman masjid. Dia kira itu
sendal santri yang seenaknya bisa dia ghasab. Hehe
Akhirnya, setelah selesai wirid, pak Kyai kelabakan
nyari sendalnya yang raib secara tiba-tiba. Dan setelah diusut dari hulu ke
hilir dan ditanya kesana kemari, maka diketahuilah bahwa pelakunya adalah si
Wendi. Apes nian nasibmu, Wendi.
Mungkin kamu bertanya-tanya, kok bisa sih ada santri
yang memakai sendal orang lain. Apakah dia tidak punya sandal? Well, bisa jadi
dia tidak punya sandal karena sandalnya hilang atau putus. Dan mungkin bisa
jadi tiap minggu selalu ada santri yang sendalnya putus atau hilang. Bisa jadi,
ini hanya asumsi. Sementara jumlah santri di asrama ada ratusan. Nah, ketika
ada satu orang yang sendalnya hilang, maka dia akan memakai sendal punya orang
lain ketika berangkat ke masjid atau ke kelas, dan si korban akan mencari
korban yang lainnya untuk dia embat sendalnya. Istilahnya, siapa cepat dia
dapat. Satu untuk semua. Udah kayak semboyan salasatu stasiun televisi swasta
aja ya. Hehe
Nah, ada lagi kisah seru yang pernah aku alami. Kali ini
tentang kasus ghasab peralatan mandi.
Alkisah, aku sudah membeli sampo urang-aring yang
berwarna hitam itu. Biar rambutku hitam berkilau kayak di iklan. Witwiww..
hingga kemudian ada satu fenomena aneh tentang sampo urang-aring punyaku ini. Anehnya,
kenapa sampoku cepat habis. Baru dipakai tiga hari kok udah habis hingga tetes
terakhir. Aku punya firasat, jangan-jangan sampo urang-aringku dighasab orang
lain.
Jiwa detektifku terpanggil. ‘Aku harus mengetahui
siapa pelakunya.’ Begitu pikirku saat itu
Akhirnya, diam-diam aku selalu mengawasi gayung tempat
peralatan mandiku. Kira-kira siapa yang berani mengembat sampoku ya. Dan,
jeng-jeng! Akhirnya aku mengetahui siapa pelakunya setelah melakukan
pengintaian yang dramatis. Dia Dani. Seniorku.
Tanpa pikir panjang, aku segera mengisi botol sampo
urang-aringku dengan kecap hitam kedelai sebanyak tiga sachet. Ada seringai
puas yang bertengger di bibirku demi membayangkan si Dani yang sampoan tapi
ternyata samponya bau kecap dan tidak berbusa sama sekali. Dan, mulai saat itu
aku selalu menunggu moment paling indah dalam hidupku.
Tepat suatu sore yang damai, si Dani datang dengan
keringat yang membanjiri tubuh atletisnya. Hm, tampaknya dia sehabis latihan
voley. Dan bisa ditebak kan, dia langsung pergi ke kamar mandi dengan terlebih
dahulu mengambil botol sampo urang-aringku tanpa beban. Sementara aku hanya
rebahan di ranjang asrama sembari membaca novel selundupan dengan senyum di
kulum. Btw, tentang novel selundupan, aku akan mengulasnya nanti ya.
Dari ranjang penantian ini, aku mendengar senandung si
Dani yang sedang gebyar-gebyur di kamar mandi. Hingga pada akhirnya aku
mendengar teriakannya.
“Ahhh....dasar rese! Kok samponya nggak berbusa sih!”
Aku tertawa sepuas-puasnya. Seakan-akan tawa itu
adalah titip orgasme paling memuaskan dalam hidupku
“Anjir kecap!” sayup-sayup aku mendengar gerutuan
kedua si Dani dari arah kamar mandi.
“Rasakan pembalasanku!!!” seruku dengan tatapan dendam
ala-ala mertua jahat di sinetron.

No comments:
Post a Comment