4 May 2020

[Diari Santri] Kreatifitas si Tukang Contek


Jujur saja, selama sejarah kehidupanmu di bangku sekolah, pernah nggak sih kamu nyontek? Kayaknya sih mayoritas pelajar pernah nyontek ya. Terlepas dia menyontek ketika ulangan harian, ulangan pekanan atau ujian nasional. Kayaknya kita-kita semua sudah pernah menjadi manusia curang bernama si penyontek. Atau bahkan ngasih contekan? Hehe.
Nah, meskipun pondok pesantren itu isinya orang-orang sholeh, baik hati dan tidak sombong (iya dong), tapi tidak menutup kemungkinan ada diantara mereka orang-orang yang bermental jahad dan curang. Makanya nggak heran ada kasus pacaran,pencurian de el-el. Termasuk diantaranya adalah kasus nyontek ketika ujian. Nah, apa yang mau aku ceritain disini adalah tentang yang satu ini.
Dan, semua akan aku mulai dari ceritaku sendiri di dunia ‘contek menyontek’ ini.
Dulu, aku paling nggak suka dengan pelajaran matematika. Entah kenapa, aku nggak pernah mau akur sama angka-angka. Bagiku, angka selalu membuat pusing tujuh keliling. Dulu suka banget IPA. Tapi setelah masuk SMP, aku sadar bahwa aku telah tertipu dengan kehadiaran si Fisika dan si Kimia yang dengan seenaknya membawa rumus-rumus memusingkan diantara angka-angka yang harus aku hitung. Akhirnya, hanya si Biologi yang masih bertahan di hati. Selebihnya aku mesra dengan si bahasa.
Nah, berhubung aku punya keterbatasan dalam eksakta, akhirnya aku membuat sebuah kesepakatan bersama dengan Yasir dan Fajar. Yasir terkenal memiliki otak encer dalam pelajaran bahasa arab, sementara Fajar piawai dalam matematika. Dan aku, tentu saja punya segudang wawasan dalam sejarah dan bahasa inggris.
“Sir, gimana kalau kita saling tolong menolong.”
“Maksudnya?” tanya Yasir masih belum paham dengan rencana besarku.
“Maksudnya, kita bertiga saling bantu dalam pelajaran yang akan diujiankan. Kita bagi-bagi tugas aja. Aku belajar sejarah sama bahasa, kamu belajar bahasa arab, dan kamu, Fajar belajar matematika. Nah, nanti pas ujian kita bisa bantu sesuai dengan keahlian masing-masing.”
“Hei, tolong menolong itu dalam kebaikan, bukan keburukan. At-Ta’awanu alal birri wat takwa.” Sekarang Fajar mulai menimpali. Dia lebih alim dari kami berdua, memang.
“Fajar, kali ini aja kita ngelakuin trik ini. Please...”
“Nggak ah! Takut dosa.” Sergah Fajar.
“Kamu mau bahasa arab sama sejarah kamu dapet nilai jeblok?” tanya Yasir menakut-nakuti.
Fajar tercenung sejenak. Dan setelah itu dia hanya bisa mengangguk lemah. Mungkin membayangkan angka merah di kertas ujiannya. “Oke deh kalau begitu. Tapi caranya gimana? Duduknya kan dipisah, mana berjauhan lagi.”
“Gampang...” timpalku sembari menjentikan jari telunjuk dengan jempol, “pake sandi dong.”
“Maksudnya?” kali ini si Yasir yang menimpali dengan wajah yang penuh dengan rasa ingin tahu.
“Jadi gini, kita harus saling melempar sandi saja. Garuk kepala artinya A. Mencet hidung artinya B. batuk artinya C, dan mengorek kuping artinya D.”
“Wah...canggih. mantap nih.” Kali ini Fajar yang berseru antusias. “Kita ajak yang lain aja yuk. Kan nggak semuanya pinter di mata pelajaran yang diujiankan.”
Kami bertiga saling pandang dan sejurus kemudian tertawa bersamaan.
“Ide yang bagus. Si Ismail kan jago kimia, si Fatah jago di Fisika. Nah si Asep bisa diandalkan di pelajaran basa sunda.”
Maka, rencana itu pun kami laksanakan tepat ketika hari ujian tiba.
Tapi rupanya tetap aja ustadz pengawas bisa mencium gelagat tidak baik diantara kami semua. Itu bermula dari seringnya si Fajar menggeram atau berdehem. Apes memang, kebanyakan jawaban di ujian pelajaran matematika C. Itu sih kata si Fajar setelah ujian selesai. Makanya sering banget bikin batuk. Hehe.
“Fajar, kamu kenapa?” tanya Ustadz Baidhowi.
“Nggak tadz.” Jawab Fajar takut-takut.
“Kamu sakit?”
“Nggak tadz.”
“Dari tadi kok batuk terus. Tenggorokan kamu sakit?”
“Nggak ustads.”
“Ya sudah. Jangan batuk terus. Ganggu sama yang lain.”
Aku, Yasir dan yang lainnya hanya saling pandang.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment