Jujur saja, selama sejarah kehidupanmu di bangku
sekolah, pernah nggak sih kamu nyontek? Kayaknya sih mayoritas pelajar pernah
nyontek ya. Terlepas dia menyontek ketika ulangan harian, ulangan pekanan atau
ujian nasional. Kayaknya kita-kita semua sudah pernah menjadi manusia curang
bernama si penyontek. Atau bahkan ngasih contekan? Hehe.
Nah, meskipun pondok pesantren itu isinya orang-orang
sholeh, baik hati dan tidak sombong (iya dong), tapi tidak menutup kemungkinan
ada diantara mereka orang-orang yang bermental jahad dan curang. Makanya nggak
heran ada kasus pacaran,pencurian de el-el. Termasuk diantaranya adalah kasus
nyontek ketika ujian. Nah, apa yang mau aku ceritain disini adalah tentang yang
satu ini.
Dan, semua akan aku mulai dari ceritaku sendiri di
dunia ‘contek menyontek’ ini.
Dulu, aku paling nggak suka dengan pelajaran
matematika. Entah kenapa, aku nggak pernah mau akur sama angka-angka. Bagiku,
angka selalu membuat pusing tujuh keliling. Dulu suka banget IPA. Tapi setelah
masuk SMP, aku sadar bahwa aku telah tertipu dengan kehadiaran si Fisika dan si
Kimia yang dengan seenaknya membawa rumus-rumus memusingkan diantara
angka-angka yang harus aku hitung. Akhirnya, hanya si Biologi yang masih
bertahan di hati. Selebihnya aku mesra dengan si bahasa.
Nah, berhubung aku punya keterbatasan dalam eksakta,
akhirnya aku membuat sebuah kesepakatan bersama dengan Yasir dan Fajar. Yasir
terkenal memiliki otak encer dalam pelajaran bahasa arab, sementara Fajar
piawai dalam matematika. Dan aku, tentu saja punya segudang wawasan dalam
sejarah dan bahasa inggris.
“Sir, gimana kalau kita saling tolong menolong.”
“Maksudnya?” tanya Yasir masih belum paham dengan
rencana besarku.
“Maksudnya, kita bertiga saling bantu dalam pelajaran
yang akan diujiankan. Kita bagi-bagi tugas aja. Aku belajar sejarah sama
bahasa, kamu belajar bahasa arab, dan kamu, Fajar belajar matematika. Nah,
nanti pas ujian kita bisa bantu sesuai dengan keahlian masing-masing.”
“Hei, tolong menolong itu dalam kebaikan, bukan
keburukan. At-Ta’awanu alal birri wat takwa.” Sekarang Fajar mulai menimpali. Dia
lebih alim dari kami berdua, memang.
“Fajar, kali ini aja kita ngelakuin trik ini. Please...”
“Nggak ah! Takut dosa.” Sergah Fajar.
“Kamu mau bahasa arab sama sejarah kamu dapet nilai
jeblok?” tanya Yasir menakut-nakuti.
Fajar tercenung sejenak. Dan setelah itu dia hanya
bisa mengangguk lemah. Mungkin membayangkan angka merah di kertas ujiannya. “Oke
deh kalau begitu. Tapi caranya gimana? Duduknya kan dipisah, mana berjauhan
lagi.”
“Gampang...” timpalku sembari menjentikan jari
telunjuk dengan jempol, “pake sandi dong.”
“Maksudnya?” kali ini si Yasir yang menimpali dengan
wajah yang penuh dengan rasa ingin tahu.
“Jadi gini, kita harus saling melempar sandi saja. Garuk
kepala artinya A. Mencet hidung artinya B. batuk artinya C, dan mengorek kuping
artinya D.”
“Wah...canggih. mantap nih.” Kali ini Fajar yang
berseru antusias. “Kita ajak yang lain aja yuk. Kan nggak semuanya pinter di
mata pelajaran yang diujiankan.”
Kami bertiga saling pandang dan sejurus kemudian
tertawa bersamaan.
“Ide yang bagus. Si Ismail kan jago kimia, si Fatah
jago di Fisika. Nah si Asep bisa diandalkan di pelajaran basa sunda.”
Maka, rencana itu pun kami laksanakan tepat ketika
hari ujian tiba.
Tapi rupanya tetap aja ustadz pengawas bisa mencium
gelagat tidak baik diantara kami semua. Itu bermula dari seringnya si Fajar
menggeram atau berdehem. Apes memang, kebanyakan jawaban di ujian pelajaran
matematika C. Itu sih kata si Fajar setelah ujian selesai. Makanya sering
banget bikin batuk. Hehe.
“Fajar, kamu kenapa?” tanya Ustadz Baidhowi.
“Nggak tadz.” Jawab Fajar takut-takut.
“Kamu sakit?”
“Nggak tadz.”
“Dari tadi kok batuk terus. Tenggorokan kamu sakit?”
“Nggak ustads.”
“Ya sudah. Jangan batuk terus. Ganggu sama yang lain.”
Aku, Yasir dan yang lainnya hanya saling pandang.

No comments:
Post a Comment