POV SARDI
Tingkah lucu si ikal memang tidak pernah ada habisnya. Bukan lucu
sih, lebih tepatnya tingkah konyol nan menjengkelkan. Itu sih menurut si Mila. seperti
kejadian sore kali ini. Alkisah (kayak mau mendongeng aja ya) kami bertiga
sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menonton reality show di televisi
kami.
“Mah, tadi siang Ikal dites sama bu Ustadzah.”
“Wah, di tes apa sih Kal. Dites hafalan sholat atau bacaan
surat-surat pendek. Ikal sudah hafal kan bacaan sholat?”
“Sudah ma. Tapi bukan. Ikal nggak ditanya bacaan sholat. Ikal dites
hafalan doa harian.”
“ikal bisa jawab?”
“Bisa dong.” Jawab Ikal dengan nada bangga.
Jujur, aku sih percaya si Ikal lulus tes bacaan doa-doa harian
sebagaimana pengakuannya. Tapi akan jauh lebih percaya jika saat ini aku
mencoba untuk menguji anakku dengan beberapa pertanyaan.
‘Nah, biar papa lebih percaya, gimana kalau papa tes lagi sekarang.
Mau kan?” tanyaku kepada si Ikal.
“Mau pa. Coba kasih ikal pertanyaan.” Jawab Ikal sumringah. Dia sudah
duduk tersimpuh dan khusyu untuk mendengarkan pertanyaan yang akan aku ajukan. Sementara
si Mila hanya tersenyum simpul di sampingku.
“Coba sebutkan doa masuk WC.” Pintaku kepada si Ikal.
"Allahumma Inni A'uu dzubika minal khubutsi wal khobaiz"
jawab si Ikal dengan benar.
“Seratus!!” timpal Mila disertai tepuk tangan. Betapa bangga dia
punya anak sepintar Ikal. Ya, meski kadang menjengkelkan, tapi ternyata anak
kami ini anak yang sholeh, baik hati dan tidak sombong. Eheheh
“Sekarang pertanyaan kedua, coba sebutkan doa ketika bercermin!”
Dengan lantang, Ikal membaca, "Allahumma Kamma Hassanta
Khalqii Fahassin Khuluqii"
“Nah, kalo Ikal bercermin, jangan lupa baca doanya ya. Jangan Cuma hafal
doang, tapi nggak pernah diamalin.” Timpal Mila di sampingku.
Si Ikal mengangguk takzim.
“Nah, sekarang pertanyaan ketiga. Coba sebutkan doa mau tidur.
Dengan lantang si Ikal membaca, “Bismillahi Allaahumma Jannibnaas
syaithaana wa Jannibis syaithaana maa razaqtanaa...."
Aku dan Mila langsung terjengit dan meloncat dari sofa saking
kagetnya. Aku kan nggak salah ngasih pertanyaan kan? Kenapa dia malah membaca
doa sebelum berhubungan suami istri. wah bahaya ini.
“Ikal? Emang bu ustadzah ngajarin doa mau tidur, bacaannya seperti
itu?”
Si Ikal mengelengkan kepala. “Nggak ma. Ikal belum belajar doa
sebelum tidur sama bu Ustadzah. Teman-teman katanya udah hafal semua. Tapi dulu
kan Ikal sakit ketika bu ustadzah ngajarin doanya di TPA.”
Aku mengangguk paham. Memang pekan kemarin Ikal sempat sakit dua
hari sehingga tidak ngaji di TPA. Mungkin bertepatan ketika bu Ustadzah
mengajari anak-anak doa sebelum tidur. Pantas saja, Ikal belum tau doa sebelum
tidur, tapi tahu doa-doa lainnya. kemudian timbul pertanyaan, “Terus, kamu dapet
doa itu darimana?”
Si Ikal menatapku dengan tatapan heran, “Lho, dia ini kan ayah
tempel dekat tempat tidur. Ikal denger tiap malam ayah selalu membacanya.”
Haaaaahhhhh...?” aku dan Mila koor ‘berhah’ secara bersamaan. Kemudian
setelah itu aku hanya bisa tepok jidat.
"Kemarin malam papa baca doa sebelum tidur tiga kali ya. Emangnya
harus berapa kali sih pa?” tuh kan, sudah bisa ketebak. Pertanyaan si Ikal
pasti beranak. Sudah kubilang di serial sebelumnya, si Ikal ini memang mirip sherlock
holmes. Tapi pertanyaannya bikin jengkel tujuh keliling.
“Muka si Mila sudah merah padam bak kepiting rebus. Sedetik kemudian
dia mencubit lenganku dengan keras sembari berbisik. “Makanya! Doanya dihafal,
jangan ditempel. Gini akibatnya!”
“Iya...iya...”
Kemudian si Mila mengalihkan pandangannya kepada si sherlock holmes
kecil yang menantikan jawaban. Lihatlah, seakan-akan di kedua bola matanya yang
kecil menari-nari seribu tanda tanya.
“Ikal sayang, doa itu khusus dibaca papa saja. Nggak boleh dibaca
sama anak kecil.”
“Oh, jadi doa mau tidur anak-anak sama dewasa beda ya ma.”
‘Iya, sayang. Beda. Jadi Ikal baca doa mau tidur khusus anak-anak
saja. Nanti mama ajarin ya.”
“Oh, tapi kok ustadzah nggak bilang itu doa mau tidur buat orang
dewasa ma.”
“Apa?” Jadi bu ustadzah ngasih pertanyaan yang sama?” kali ini aku
terlonjak untuk yang kedua kalinya.
“Iya Pak. Karena Ikal nggak tau, ya udah, ikal baca doa tadi.”
“Terus apa kata bu Ustadzah?”
“Bu Ustadzah hanya geleng-geleng kepala.”

No comments:
Post a Comment