[POV SARDI]
Siang itu Ikal sudah pulang dari sekolah sejak setengah jam yang
lalu. Sementara istriku sudah sibuk di dapur setelah tiga jam lamanya kami
berolahraga bersama dari pagi hingga menjelang dzuhur. Well, kamu paham kan
maksud dari olahraga yang aku maksudkan itu? Aku pikir jika kamu sudah dewasa
dan cukup umur paham apa yang aku maksud. Tapi jika kamu belum juga paham,
tidak perlu bertanya-tanya sampai tanya ke pak RT segala. Bisa repot urusan. Apalagi
jika kamu bocil yang belum cukup umur. Lebih baik skip aja tulisan ini dan cari
postingan lain yang layak untuk kamu baca di usiamu yang sekarang. Lagian apa-apaan
sih ada anak Balita masuk KBM tanpa pentauan orang tua. Yang benar saja
Oh, aku jadi melantur ya. Kita kembali ke topik. Jadi, setelah kami
kelelahan, si Mila pun berinisiatif untuk memasak makan siang paling spesial;
terong balado dan daging rendang. Begitulah, kalau habis olahraga, meskipun
didera oleh rasa lelah, Mila selalu cerah cerita secerah matahari pagi yang
terbit di ufuk timur sana. Mungkin ‘olahraga bersama’ bisa dikatakan sebagai
doping yang menambah semangat dan kebahagiaan. Mungkin. Karena aku belum
menanyakannya kepada Mila.
Karena aku juga merasakan hal yang sama, aku pun segera memakai
baju dan keluar dari kamar sebagai base camp pertempuran kami. Kemudian dengan
semangat empat lima menghampiri Mila yang sedang sibuk memasak di dapur.
“Perlu bantuan nggak, Mil?” tanyaku sok peduli.
“Nggak usah Bang. Istirahat aja dulu.” Jawab si Mila tak kalah
ramah dan mesra. Padahal, aslinya dia adalah wanita paling cerewet sedunia yang
tiada ada bandingnya. Padahal, hampir setiap hari dia selalu mengomeliku.
“Oh, itu cucian menumpuk di pojokan. Biar abang saja yang cuci ya.”
“Nggak usah bang. Nanti abis masak Mila cuci, kok.”
“Udah, nggak usah membantah. Lagian hari ini kan Abang libur kerja.
Jadi apa salahnya bantu-bantu istri di rumah.” Aku tetap ngeyel karena ingin
disebut sebagai suami perhatian cap kaki tiga. Eh, kok jadi ngiklan.
“Ya terserah abang deh.” Balas Mila sembari mengangkat kedua
bahunya yang ramping, eh, maksudnya berisi dan mulai sibuk dengan bumbu di wajan.
“Maa...cermin Ikal dimana siiih..” itu teriakan Ikal dari ruang
depan. Sepertinya dia kelabakan mencari cermin. Begitulah anak kami yang satu
ini. Meskipun masih ingusan, tapi doyan sekali bercermin dan bersolek layaknya
model. Nggak tau dah, entah masa depan dia bakalan jadi model beneran atau amatiran.
Yang jelas, dia selalu bercermin sampai-sampai aku khawatir si cermin protes
dan pecah saking sering diplototin si Ikal anak semata wayang kami.
“Ya ditempatnya lah dek.” Jawab Mila dari dapur.
“Nggak adaa!!” teriak Ikal tak sabaran.
“Oh iya, mama lupa. Tadi mama pinjem. Coba lihat di atas nakas di
kamar mama.” Teriak Mila dari dapur.
Sepuluh menit kemudian si Ikal kembali menghampiri Mila di dapur
sembari menenteng sebuah botol kecil berwarna hitam. Aku sampai terkesiap
dibuatnya. Et dah ni bocah. Bukannya tadi dia nyari cermin, kok sekarang malah
bawa WGB (wah gede banget). Itu lho, obat anu yang katanya anu. Btw, author
juga jual kok kalo kamu berminat. (skip! Dilarang ngiklan)
“Ma, ini apa sih?” tanya si Ikal dengan wajah polosnya yang
menjengkelkan.
“Itu obat kuat sayang.” Timpalku kemudian. Padahal si Mila sudah
mangap untuk menjelaskan. Dan sepersekian detik kemudian si Mila mengerling dan
memelototiku dengan sedemikian rupa.
“Obat kuat untuk apa?” tanya si Ikal lebih lanjut. Oke, dia
sepertinya layak jadi seorang detektif daripada seorang model sok ganteng. Atau
jangan-jangan dia bakalan jadi seorang model sekaligus detektif. Atau wartawan?
Ah, masa bodo.
Si Mila berdehem dan mulai menjelaskan dengan pilihan kata yang
mungkin bisa dicerna. “Jadi, obat kuat ini vitamin yang diminum ayah untuk
memberi kekuatan. Biar ayah giat bekerja dan nggak mudah cape.”
“Salah mil, itu bukan kapsul, itu obat oles.” Timpalku demi
mendengar penjelasan si Mila. Masa obat oles dibilang vitamin. Si Mila tampak
semakin kesal dan mungkin sangat ingin menjambak rambutku.
“Oh, obat oles ya pa. Kayak salep ya pak.” Tanya si Ikal lebih
lanjut.
Si Mila tampak sudah tidak sabaran. “Kenapa sih tanya-tanya. Sana pergi
main. Katanya tadi mau ngambil cermin, malah bawa obat, eh, salep, eh,
maksudnya vitamin ayah. Sini, biar mama simpen.”
“Oh, Ikal paham. Nanti kalau ayah dioles pake salep ini bakalan
kayak superman ya Ma.”
“Iyaaaa......” sekarang kesabaran si Mila sudah mencapai titik
kulminasi dan artinya dia sudah tidak tahan dengan tingkah si sherlock holmes
kecil di hadapan kami berdua.
“Wah....diolesnya dimana sih Ma. Ikal jadi pengen make. Boleh kan
ma...pa... biar ikal jadi superman yang bisa terbang dan loncat-loncat di
gedung”
“Yang loncat kesana kemari di gedung itu spiderman sayang, bukan
superman.” Koreksiku.
“Terserah lu, dah Sardi!” bentak Mila. “Anak tanya nggak jelas
malah kamu layanin.” Kemudian kembali mengarahkan kedua bola matanya yang dari
tadi melotot ke arah si Ikal yang polos tanpa dosa. “Sini! Biar mama simpan botolnya!
Ini khusus buat papa, nggak boleh dipakai anak kecil. Nanti bisa mati!”
Demi mendengar kata mati, akhirnya si Ikal menyerahkan botol hitam
itu ke tangan istriku dan langsung berlari meninggalkan dapur. Mungkin dia
ingin bercermin dan bersolek.
“Gara-gara kamu sih Sar. Kalo habis make tuh simpan di dalam laci!”
gerutu si Mila dengan wajah merah padam.
“Lha, mana tahu aku si Ikal bakalan masuk ke kamar kita.” Aku mencoba
membela diri.
“Pokoknya kalau habis make langsung taruh di dalam laci. Kamu nggak
mau kan kejadian ini terulang lagi.”
“Iya....Iya...”
Si Mila masih cemberut karena tragedi obat kuat barusan. Mungkin efek
dopamin sehabis olahraga bersama telah menguar dan hilang seketika gara-gara
pertanyaan-pertanyaan bodoh si Ikal dan....kecerobohanku sendiri.

No comments:
Post a Comment