3 May 2020

[Balada Suami Istri Koplak] Obat Kuat


[POV SARDI]
Siang itu Ikal sudah pulang dari sekolah sejak setengah jam yang lalu. Sementara istriku sudah sibuk di dapur setelah tiga jam lamanya kami berolahraga bersama dari pagi hingga menjelang dzuhur. Well, kamu paham kan maksud dari olahraga yang aku maksudkan itu? Aku pikir jika kamu sudah dewasa dan cukup umur paham apa yang aku maksud. Tapi jika kamu belum juga paham, tidak perlu bertanya-tanya sampai tanya ke pak RT segala. Bisa repot urusan. Apalagi jika kamu bocil yang belum cukup umur. Lebih baik skip aja tulisan ini dan cari postingan lain yang layak untuk kamu baca di usiamu yang sekarang. Lagian apa-apaan sih ada anak Balita masuk KBM tanpa pentauan orang tua. Yang benar saja
Oh, aku jadi melantur ya. Kita kembali ke topik. Jadi, setelah kami kelelahan, si Mila pun berinisiatif untuk memasak makan siang paling spesial; terong balado dan daging rendang. Begitulah, kalau habis olahraga, meskipun didera oleh rasa lelah, Mila selalu cerah cerita secerah matahari pagi yang terbit di ufuk timur sana. Mungkin ‘olahraga bersama’ bisa dikatakan sebagai doping yang menambah semangat dan kebahagiaan. Mungkin. Karena aku belum menanyakannya kepada Mila.
Karena aku juga merasakan hal yang sama, aku pun segera memakai baju dan keluar dari kamar sebagai base camp pertempuran kami. Kemudian dengan semangat empat lima menghampiri Mila yang sedang sibuk memasak di dapur.
“Perlu bantuan nggak, Mil?” tanyaku sok peduli.
“Nggak usah Bang. Istirahat aja dulu.” Jawab si Mila tak kalah ramah dan mesra. Padahal, aslinya dia adalah wanita paling cerewet sedunia yang tiada ada bandingnya. Padahal, hampir setiap hari dia selalu mengomeliku.
“Oh, itu cucian menumpuk di pojokan. Biar abang saja yang cuci ya.”
“Nggak usah bang. Nanti abis masak Mila cuci, kok.”
“Udah, nggak usah membantah. Lagian hari ini kan Abang libur kerja. Jadi apa salahnya bantu-bantu istri di rumah.” Aku tetap ngeyel karena ingin disebut sebagai suami perhatian cap kaki tiga. Eh, kok jadi ngiklan.
“Ya terserah abang deh.” Balas Mila sembari mengangkat kedua bahunya yang ramping, eh, maksudnya berisi dan mulai sibuk dengan bumbu di wajan.
“Maa...cermin Ikal dimana siiih..” itu teriakan Ikal dari ruang depan. Sepertinya dia kelabakan mencari cermin. Begitulah anak kami yang satu ini. Meskipun masih ingusan, tapi doyan sekali bercermin dan bersolek layaknya model. Nggak tau dah, entah masa depan dia bakalan jadi model beneran atau amatiran. Yang jelas, dia selalu bercermin sampai-sampai aku khawatir si cermin protes dan pecah saking sering diplototin si Ikal anak semata wayang kami.
“Ya ditempatnya lah dek.” Jawab Mila dari dapur.
“Nggak adaa!!” teriak Ikal tak sabaran.
“Oh iya, mama lupa. Tadi mama pinjem. Coba lihat di atas nakas di kamar mama.” Teriak Mila dari dapur.
Sepuluh menit kemudian si Ikal kembali menghampiri Mila di dapur sembari menenteng sebuah botol kecil berwarna hitam. Aku sampai terkesiap dibuatnya. Et dah ni bocah. Bukannya tadi dia nyari cermin, kok sekarang malah bawa WGB (wah gede banget). Itu lho, obat anu yang katanya anu. Btw, author juga jual kok kalo kamu berminat. (skip! Dilarang ngiklan)
“Ma, ini apa sih?” tanya si Ikal dengan wajah polosnya yang menjengkelkan.
“Itu obat kuat sayang.” Timpalku kemudian. Padahal si Mila sudah mangap untuk menjelaskan. Dan sepersekian detik kemudian si Mila mengerling dan memelototiku dengan sedemikian rupa.
“Obat kuat untuk apa?” tanya si Ikal lebih lanjut. Oke, dia sepertinya layak jadi seorang detektif daripada seorang model sok ganteng. Atau jangan-jangan dia bakalan jadi seorang model sekaligus detektif. Atau wartawan? Ah, masa bodo.
Si Mila berdehem dan mulai menjelaskan dengan pilihan kata yang mungkin bisa dicerna. “Jadi, obat kuat ini vitamin yang diminum ayah untuk memberi kekuatan. Biar ayah giat bekerja dan nggak mudah cape.”
“Salah mil, itu bukan kapsul, itu obat oles.” Timpalku demi mendengar penjelasan si Mila. Masa obat oles dibilang vitamin. Si Mila tampak semakin kesal dan mungkin sangat ingin menjambak rambutku.
“Oh, obat oles ya pa. Kayak salep ya pak.” Tanya si Ikal lebih lanjut.
Si Mila tampak sudah tidak sabaran. “Kenapa sih tanya-tanya. Sana pergi main. Katanya tadi mau ngambil cermin, malah bawa obat, eh, salep, eh, maksudnya vitamin ayah. Sini, biar mama simpen.”
“Oh, Ikal paham. Nanti kalau ayah dioles pake salep ini bakalan kayak superman ya Ma.”
“Iyaaaa......” sekarang kesabaran si Mila sudah mencapai titik kulminasi dan artinya dia sudah tidak tahan dengan tingkah si sherlock holmes kecil di hadapan kami berdua.
“Wah....diolesnya dimana sih Ma. Ikal jadi pengen make. Boleh kan ma...pa... biar ikal jadi superman yang bisa terbang dan loncat-loncat di gedung”
“Yang loncat kesana kemari di gedung itu spiderman sayang, bukan superman.” Koreksiku.
“Terserah lu, dah Sardi!” bentak Mila. “Anak tanya nggak jelas malah kamu layanin.” Kemudian kembali mengarahkan kedua bola matanya yang dari tadi melotot ke arah si Ikal yang polos tanpa dosa. “Sini! Biar mama simpan botolnya! Ini khusus buat papa, nggak boleh dipakai anak kecil. Nanti bisa mati!”
Demi mendengar kata mati, akhirnya si Ikal menyerahkan botol hitam itu ke tangan istriku dan langsung berlari meninggalkan dapur. Mungkin dia ingin bercermin dan bersolek.
“Gara-gara kamu sih Sar. Kalo habis make tuh simpan di dalam laci!” gerutu si Mila dengan wajah merah padam.
“Lha, mana tahu aku si Ikal bakalan masuk ke kamar kita.” Aku mencoba membela diri.
“Pokoknya kalau habis make langsung taruh di dalam laci. Kamu nggak mau kan kejadian ini terulang lagi.”
“Iya....Iya...”
Si Mila masih cemberut karena tragedi obat kuat barusan. Mungkin efek dopamin sehabis olahraga bersama telah menguar dan hilang seketika gara-gara pertanyaan-pertanyaan bodoh si Ikal dan....kecerobohanku sendiri.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment