26 Apr 2020

4 TIPE ORANG SYIAH, [TIDAK SEMUA ORANG SYIAH KAFIR]

Di postingan sebelumnya, saya sudah menulis tentang alasan kenapa saya tidak berani mengkafirkan seluruh orang syiah. Terlepas dari mayoritas mereka telah keluar dari islam, tapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa diantaranya yang hanya terjatuh pada amalan bid’ah sehingga agak terburu-buru jika memukul rata bahwa semua orang syiah adalah sesat dan kafir. Lagi pula, yang disebutkan di dalam buku MUI tentang kesesatan syiah adalah ‘SYIAH ITSNA ASY’ARI/RAFIDHI’ yang sudah jelas-jelas sesat dan menyesatkan.

Disini, saya ingin mengungkapkan tentang 4 tipe orang syiah berdasar pengalaman saya berinteraksi dengan mereka

Tipe pertama, orang ekstrimis yang ghuluw dan menampakan langsung kebenciannya

Mereka inilah yang doyan sekali mencaci maki para sahabat dan Aisyah, istri Rasulullah saw tercinta. Untuk spesies seperti mereka ini, saya tidak akan pernah sudi untuk berteman atau berinteraksi. Siapa yang sudi berteman dengan mereka yang bermulut kotor? Andai ada seorang manusia jahat yang mencaci ibu kita, tentu saja kita akan sangat-sangat benci hingga level dewa. Apatah ini istri sang nabi tercinta yang tentunya lebih kita cintai dari ibu kita sendiri.

Tipe orang seperti ini juga tidak akan mau diajak berdiskusi secara sehat. Maunya gontok-gontokan dan tidak mau kalah. Mereka taklid dan jumud terhadap para mullah

Tipe kedua, orang syiah yang malu-malu kucing dengan keyakinannya

Mereka adalah mayoritas dari orang-orang syiah yang saya tahu. Mungkin mereka sedang bertaqiyah, mungkin juga lain. Waspada boleh, parno juga jangan. Toh yang saya tahu dari cerita teman-teman sunni di pakistan dan India, terjadi relasi dan interaksi yang baik antara sunni dan syiah di sana. Hanya saja, tentu saja di kalangan internal mereka, mereka akan membicarakan satu sama lain.
Ini nggak jauh beda seperti kita-kita ini. Orang-orang nadhiyin suka sekali membicarakan tentang wahabi di pengajian mereka. Bahkan pengajian orang salafi dibubarkan dan dipersekusi. Meski ada juga yang akur dalam muamalah dan menyerahkan muamalah secara nafsi-nasfi. Saya yang konon kata orang PERSIS bisa hidup rukun dengan orang-orang NU. Toh di tengah perbedaan ini kita masih tetap berteman.

Pun dengan syiah yang malu-malu kucing ini. Selama mereka tidak menampakan kebenciannya. Saya tidak menolak berinteraksi dengan mereka.

Tipe ketiga, yang moderat dan berpikiran terbuka

Orang-orang seperti inilah yang enak diajak bicara dan bisa memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan hidayah. Saya pernah berdiskusi dengan satu dua orang dari orang syiah asal Afghanistan dan britania. Ashraf Safradi, seorang shi’i dari afghan pernah secara jujur mengatakan bahwa dirinya lebih mengutamakan ali dibanding tiga khilafah sebelumnya. Tapi dia tidak berani mencaci dihadapan saya. Dia memiliki pandangan bahwa sunni-syia adalah one ummah. Lambat tapi pasti dia menerima bahwa sunni yang benar. Alhamdulillah. Pun teman dari Britania yang mengaku kepada saya dia tidak suka dengan orang-orang alawi dan rezim asad yang membunuh sunni di suriah. See, intinya, syiah juga saling benci antara sekte sebagaimana sunni gontok-gontokan satu sama lain.

Bahkan ada juga syiah yang tidak mentolerir Qamezani, ritual menyiksa diri di hari asyura. Mayoritas mullah syiah mengatakan bahwa qamezani adalah tradisi yang tidak ada sangkut pautnya dalam syiah. Bahkan mereka mengatakan bahwa syiah yang melakukan qamezani adalah sesat dan bid’ah karena menyerupai orang nasrani. Pun dalam hal mut’ah dan mencaci istri Rasulullah. Sebagian tokoh seperti mufasir syiah ath-thobatobai mengatakan bahwa tidak boleh bagi orang-orang syiah mencaci istri nabi tanpa terkecuali karena kedudukan mereka yang mulia di sisi nabi.

Bahkan teman syiah saya dari India memojokan saya dengan mengatakan, “Bagaimana mungkin kamu menyesatkanku sementara saya membaca dan memakai al-quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa hindi oleh seorang sunni.”

Tipe keempat, syiah sekuler yang tidak peduli dengan kesyiahannya.

Banyak lho syiah-syiah sekuler di Iran sana. Mereka tidak mau pake hijab, tidak mau shalat dan puasa. Mereka tidak peduli dengan kesyiahan mereka. Sebelas dua belaslah dengan orang sekuler yang mengaku sunni.

Nah, tak jauh beda dengan syiah. Orang-orang kita (sunni) juga terbagi dalam klasifikasi yang sama. Betapa banyak sunni yang taklid sampai taraf dewa sehingga kyai dianggap maksum. Apalagi para habaib dan sayid yang sebagian kecil diantara kita ada yang menganggap mereka maksum.  Betapa banyak sunni yang menyembah kuburan dengan meminta syafaat kepada kyai fulan dan fulan, betapa banyak kyai yang mengaku sunni tapi merangkap dukun berjubah kyai yang menjual ajian dan rajah. Betapa banyak sunni yang sekuler dan menganggap bahwa hukum allah tidak layak diterapkan. Apa bedanya dengan amalan-amalan orang syiah?

Orang baik dan buruk itu dimana-mana ada. Orang islam ada yang baik dan buruk akhlaknya. Orang kristen ada yang baik dan buruk budinya. Pun, orang ahmadi atau syiah juga ada yang baik dan buruk tingkah lakunya. Catat ya (biar nggak ada yang bilang saya syiah, ehehe) bahwa yang saya maksud disini soal interaksi dan muamalah sebagai manusia. Saya di paragraf ini bukan berbicara tentang aqidah. Karena secara aqidah kita sepakat, syiah sesat.
Semoga kita menjadi orang-orang yang adil dalam menjudge orang lain.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment