Disini, saya ingin mengungkapkan tentang 4 tipe orang syiah
berdasar pengalaman saya berinteraksi dengan mereka
Tipe pertama, orang ekstrimis yang ghuluw dan menampakan
langsung kebenciannya
Mereka inilah yang doyan sekali mencaci maki para sahabat
dan Aisyah, istri Rasulullah saw tercinta. Untuk spesies seperti mereka ini,
saya tidak akan pernah sudi untuk berteman atau berinteraksi. Siapa yang sudi
berteman dengan mereka yang bermulut kotor? Andai ada seorang manusia jahat
yang mencaci ibu kita, tentu saja kita akan sangat-sangat benci hingga level
dewa. Apatah ini istri sang nabi tercinta yang tentunya lebih kita cintai dari
ibu kita sendiri.
Tipe orang seperti ini juga tidak akan mau diajak berdiskusi
secara sehat. Maunya gontok-gontokan dan tidak mau kalah. Mereka taklid dan
jumud terhadap para mullah
Tipe kedua, orang syiah yang malu-malu kucing dengan
keyakinannya
Mereka adalah mayoritas dari orang-orang syiah yang saya
tahu. Mungkin mereka sedang bertaqiyah, mungkin juga lain. Waspada boleh, parno
juga jangan. Toh yang saya tahu dari cerita teman-teman sunni di pakistan dan
India, terjadi relasi dan interaksi yang baik antara sunni dan syiah di sana. Hanya
saja, tentu saja di kalangan internal mereka, mereka akan membicarakan satu
sama lain.
Ini nggak jauh beda seperti kita-kita ini. Orang-orang
nadhiyin suka sekali membicarakan tentang wahabi di pengajian mereka. Bahkan pengajian
orang salafi dibubarkan dan dipersekusi. Meski ada juga yang akur dalam
muamalah dan menyerahkan muamalah secara nafsi-nasfi. Saya yang konon kata
orang PERSIS bisa hidup rukun dengan orang-orang NU. Toh di tengah perbedaan
ini kita masih tetap berteman.
Pun dengan syiah yang malu-malu kucing ini. Selama mereka
tidak menampakan kebenciannya. Saya tidak menolak berinteraksi dengan mereka.
Tipe ketiga, yang moderat dan berpikiran terbuka
Orang-orang seperti inilah yang enak diajak bicara dan bisa
memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan hidayah. Saya pernah berdiskusi
dengan satu dua orang dari orang syiah asal Afghanistan dan britania. Ashraf
Safradi, seorang shi’i dari afghan pernah secara jujur mengatakan bahwa dirinya
lebih mengutamakan ali dibanding tiga khilafah sebelumnya. Tapi dia tidak
berani mencaci dihadapan saya. Dia memiliki pandangan bahwa sunni-syia adalah
one ummah. Lambat tapi pasti dia menerima bahwa sunni yang benar.
Alhamdulillah. Pun teman dari Britania yang mengaku kepada saya dia tidak suka
dengan orang-orang alawi dan rezim asad yang membunuh sunni di suriah. See,
intinya, syiah juga saling benci antara sekte sebagaimana sunni gontok-gontokan
satu sama lain.
Bahkan ada juga syiah yang tidak mentolerir Qamezani, ritual
menyiksa diri di hari asyura. Mayoritas mullah syiah mengatakan bahwa qamezani
adalah tradisi yang tidak ada sangkut pautnya dalam syiah. Bahkan mereka mengatakan
bahwa syiah yang melakukan qamezani adalah sesat dan bid’ah karena menyerupai
orang nasrani. Pun dalam hal mut’ah dan mencaci istri Rasulullah. Sebagian tokoh
seperti mufasir syiah ath-thobatobai mengatakan bahwa tidak boleh bagi orang-orang
syiah mencaci istri nabi tanpa terkecuali karena kedudukan mereka yang mulia di
sisi nabi.
Bahkan teman syiah saya dari India memojokan saya dengan
mengatakan, “Bagaimana mungkin kamu menyesatkanku sementara saya membaca dan
memakai al-quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa hindi oleh seorang sunni.”
Tipe keempat, syiah sekuler yang tidak peduli dengan
kesyiahannya.
Banyak lho syiah-syiah sekuler di Iran sana. Mereka tidak mau
pake hijab, tidak mau shalat dan puasa. Mereka tidak peduli dengan kesyiahan
mereka. Sebelas dua belaslah dengan orang sekuler yang mengaku sunni.
Nah, tak jauh beda dengan syiah. Orang-orang kita (sunni)
juga terbagi dalam klasifikasi yang sama. Betapa banyak sunni yang taklid
sampai taraf dewa sehingga kyai dianggap maksum. Apalagi para habaib dan sayid
yang sebagian kecil diantara kita ada yang menganggap mereka maksum. Betapa banyak sunni yang menyembah kuburan
dengan meminta syafaat kepada kyai fulan dan fulan, betapa banyak kyai yang
mengaku sunni tapi merangkap dukun berjubah kyai yang menjual ajian dan rajah. Betapa
banyak sunni yang sekuler dan menganggap bahwa hukum allah tidak layak
diterapkan. Apa bedanya dengan amalan-amalan orang syiah?
Orang baik dan buruk itu dimana-mana ada. Orang islam ada
yang baik dan buruk akhlaknya. Orang kristen ada yang baik dan buruk budinya. Pun,
orang ahmadi atau syiah juga ada yang baik dan buruk tingkah lakunya. Catat ya
(biar nggak ada yang bilang saya syiah, ehehe) bahwa yang saya maksud disini
soal interaksi dan muamalah sebagai manusia. Saya di paragraf ini bukan
berbicara tentang aqidah. Karena secara aqidah kita sepakat, syiah sesat.
Semoga kita menjadi orang-orang yang adil dalam menjudge
orang lain.

No comments:
Post a Comment