17 Apr 2020

TENTANG PALESTINA, KENAPA SAYA SETUJU SOLUSI DUA NEGARA


Dalam menyikapi konflik israel-palestina, kaum muslimin terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama, kaum muslimin yang tidak mengakui eksistensi negara israel dan hanya mengakui palestina. Kedua, kaum muslimin yang mengakui kedua negara, baik palestina maupun israel. Tapi ada segelintir kaum muslimin yang sangat pro zionis sampai-sampai ada istilah muslim zionis. Misal, jika di Indonesia ada kristen zionis dan mantan presiden RI Abdurrahman Wahid alm, yang mendapatkan gelar kehormatan dari gerakan zionisme karena pembelannya terhadap kaum zionis.
Sementara itu, non-muslim pun terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang mengakui perjuangan kemerdekaan Palestina. Kedua, mereka yang pro zionis dan tidak mengakui Palestina sebagai negara.
Lalu dimana posisi saya?
Saya jelas akan mendeklarasikan keperbihakan saya terhadap Palestina. Mereka adalah kaum yang terzalimi dan dirampas tanahnya. Mereka adalah kaum terjajah yang direnggut hak-haknya.
Dulu, saya tidak sudi mengakui israel sebagai negara. Tapi saat ini saya berpendapat bahwa solusi dua negara adalah ‘solusi alternatif’ untuk kedamaian. Hal ini sebagaimana langkah dan sikap Indonesia yang mendukung ‘solusi dua negara’ dalam menyikapi konflik Palestina-israel.
Kenapa solusi dua-negara?
Pertama, Palestina tidak akan mendapatkan kemerdekaan penuh menjadi sebuah negara tunggal (tanpa israel) selama demokrasi masih menjadi hukum di dunia ini. Palestina tidak akan mendapatkan kebebasannya selama eksistensi PBB masih ada dan khilafah ala minhajin nubuwah belum tegak di muka bumi. Bisakah Palestina menjadi negara tunggal sementara PBB sendiri mengakui Israel? Bisakah palestina mempertahankan negaranya sementara zionis sendiri didukung negara adikuasa dan diakui dunia? Bisakah Palestina bertahan sementara negara-negara arab berkhianat dengan bermesraan dengan Israel.
Kedua, dengan banyaknya populasi imigran Yahudi di tanah jajahan (negara israel), maka kita akan bertanya-tanya, apakah mereka akan diusir dari tanah Palestina sebagaimana orang-orang Palestina diusir dari tanah mereka di masa lampau. Sementara diantara mereka adalah anak cucu dari imigran generasi pertama yang didatangkan oleh gerakan zionis yang menginginkan berdirinya negara zionis. Jika iya, kemana mereka akan dipulangkan? Ke negara asalnya? apakah mereka akan tetap tinggal dengan mengakui negara palestina? Saya juga bingung.
Ketiga, berdasarkan survei, ternyata banyak pula warga israel yang bukan berada di daerah-daerah konflik seperti di tepi barat dan pinggiran gaza, (terutama di tel aviv) yang merasa jengah dengan perselisihan dan konflik berkepanjangan. Mereka ingin hidup damai dan berdampingan. Hingga muncullah beberapa organgisasi yahudi israel untuk hak asasi manusia seperti bt’selem dan rabbis for human right. Mereka dengan gigih memperjuangkan hak-hak orang palestina. Bahkan dimusuhi oleh teman-teman yahudi mereka yang tidak pro palestina. Pun banyak penulis dan aktifis yang menginginkan hal yang sama seperti  novelis israel Amos Oz. Ada juga kisah di novel ‘Borderlife’ yang ditulis oleh Dorit Rabinyan yang mengisahkan kisah cinta israeli-palestina.
Ketiga,hak untuk kembali bagi rakyat palestina adalah keniscayaan. Karena mereka berhak untuk tinggal dan kembali di tanah kelahiran. Hal itu tidak akan menjadi kenyataan selama israel tidak mengakui eksistensi palestina. Dan dari pengalaman yang sudah-sudah, sebuah kemustahilan bagi israel mengakui negara palestina. Karena pada kenyataannya, israel didirikan untuk melenyapkan palestina.
Oleh karena itu, saya tidak jadi mendeklarasikan bahwa saya mendukung dua negara. Adapun, saya tetap mengapresiasi orang-orang israel yang mendukung perjuangan palestina. Semoga saja, spesies orang-orang yahudi seperti mereka menjadi inspirasi untuk yahudi-yahudi lainnya. Mereka adalah manusia dan kita juga manusia.
Salam.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment