SUATU hari seorang teman bertanya kepadaku, “antum ngaji
dimana, akh?”
“Saya ngaji di ustadz fulan.” Jawab saya.
“Oh.. ustadz fulan ya.” Timpal teman saya dengan nada
nyinyir. Saya tidak tahu apa musabab dia nyinyir dan menampakan roman tidak
suka ketika mengetahui saya belajar dan ngaji sama ustadz fulan.
Beberapa minggu kemudian, teman saya mengirimkan picture via
pesan whatsapp yang menampilkan ‘ustadz-ustadz sunnah’ yang dia klaim sebagai
ustadz paling benar versinya. “Belajar dari ustadz-ustadz ini akh. Insha Allah
aman. Ustadz yang dirujuk harus bermanhaj salaf.”
Saya hanya tercenung dan diam beberapa saat sambil ngomong
di dalam hati, “Memangnya belajar dari ustadz fulan itu nggak aman?
Di lain kesempatan, teman yang lain dari backgroun keagamaan
yang berbeda dari teman pertama saya bertanya, “kamu mondok dimana, kang?”
“Saya mondok di ma’had anu.”
“Walaah, pesantren wahabi itu.” Serunya kemudian. Kemudian dengan
panjang lebar dia menerangkan kepada saya tentang bahaya kelompok yang dia
sebut wahabi. padahal, saya sendiri merasa pondok pesantren itu bukan pondok
pesantren wahabi sebagaimana yang dia tuduhkan. Bahkan ngobrol tentang wahabi
saja sangat tidak relavan dengan pemahaman saya. Karena banyak sekali
kesalahpahaman dan fitnah disana-sini.
Belakangan saya tahu sahabat kedua ini ngaji di pesantren nadhiyin
dan habib lovers. Belakangan, dia juga sering sekali mengejek ustadz-ustadz
yang dia sebut sebagai ‘ustadz wahabi’ dengan ejekan yang sungguh bikin miris.
.
Well, dari dua fragmen di atas, kita bisa sama-sama menarik
benang merah bahwa ada dua kubu yang saling bersinggungan satu sama lain. Sementara
saya berada di tengah-tengah mereka. Yang satu dianggap sebagai kelompok islam
puritan, yang kedua disebut kelompok islam tradisional.
Kedua-duanya sama-sama taklid buta terhadap ustadz-ustadz
atau kyai mereka. Bahkan konon yang katanya melarang keras taklid terhadap
mazhab dan figure, justru jatuh ke dalam sikap yang sama. Konon yang katanya
bermazhab itu fleksibel, justru mereka sendiri yang rigid dengan tidak mau
mengambil pendapat selain pendapat dari ustadz-ustaz yang menjadi rujukan
mereka.
“Pokoknya, ustadz saya ini ustadz sunnah, ustadz salaf. Pemahaman
dia benar. tidak mungkin salah. Lha wong, rujukannya quran sunnah.”
Dan sikap yang sama juga terjadi di kelompok sebelah.
“Ini habib lho, keturunan kangjeng nabi, masa iya salah. Ini
kyai fulan keturunan kyai fulan. Masa iya salah.”
Seakan-akan, ustadz atau kyai mereka itu maksum dan tidak
mungkin salah.
Jika mau jujur, kedua kelompok mulim ini sudah ada sejak
zaman dahulu, bahkan sebelum kemerdekaan RI. Konon, Tuanku Imam Bondjol dari
tanah sumbar adalah gambaran dari seorang islam puritan yang menentang
kemusyrikan dan kebid’ahan kaum adat di tanah sumbar. Setelah menuntut ilmu
dari mekah bersama teman-temannya, Tuanku Imam Bonjol berdakwah di tengah kaum
adat untuk mengembalikan kemurnian al-Quran dan sunnah.
Konon Muhammadiyah adalah manifestasi dari islam puritan yang
mendobrak takhayul, bid;ah dan khurafat di masyarakat jawa. Konon nahdatul
Ulama adalah manifestasi dari islam tradisional yang beda jauh dengan narasi
islam yang dibawa Muhammadiyah. Bahkan, konon, antara Kyai Haji Ahmad Dahlan
dan Kyai Hasyim asy-ari satu perguruan yang saling menyayangi satu sama lain.
Dulu, kaum muslimin saling bersatu padu. Dulu, kaum muslimin
saling mendukung terlepas dari perbedaan yang mereka miliki satu sama lain.
Lalu, tidak bolehkah kita mengoreksi saudara muslim yang
salah? Tidak bolehkah kita mengkritik sesama muslim yang di mata kita dia
mengamalkan amalan yang tidak benar? tidak bolehkah kita membahas penyimpangan
yang ada pada saudara kita?
Boleh! Sangat boleh! Bahkan harus.
Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hindari nyinyir
dan judging. Perhatikan adab ketika memberi nasihat. Dan sampaikan dengan
hikmah dan mauidhotil hasanah.
Adapun, muslim yang baik adalah muslim yang bersikap pertengahan,
berada di tengah-tengah dan tidak bersikap ekstrim. Tidak taklid buta dan tidak
menghakimi.
Saya nyaman belajar dengan siapa pun. Guru saya adalah ustadz
Felix yang para pembencinya menyebut dia seorang HTI. Guru saya adalah ustadz
Salim A Fillah dari PKS, Ustadz Firanda, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Tuasikal
yang orang-orang bilang mereka salafi/wahabi. ustadz saya adalah Adi Hidayat
yang katanya background Muhammadiyah, dan ustadz Abdus Shomad yang katanya
berasal dari Nadhiyin.
Mereka sama-sama mengajarkan kebaikan dan mengajarkan
bagaimana kita berislam. Ambil ilmu dari mana pun dan dari siapa pun. Jangan pernah
jumud dan taklid. Karena hal itu tidak membawa kebaikan apa pun.
Wassalam.

No comments:
Post a Comment