18 Apr 2020

NGAJI DIMANA?


SUATU hari seorang teman bertanya kepadaku, “antum ngaji dimana, akh?”

“Saya ngaji di ustadz fulan.” Jawab saya.
“Oh.. ustadz fulan ya.” Timpal teman saya dengan nada nyinyir. Saya tidak tahu apa musabab dia nyinyir dan menampakan roman tidak suka ketika mengetahui saya belajar dan ngaji sama ustadz fulan.
Beberapa minggu kemudian, teman saya mengirimkan picture via pesan whatsapp yang menampilkan ‘ustadz-ustadz sunnah’ yang dia klaim sebagai ustadz paling benar versinya. “Belajar dari ustadz-ustadz ini akh. Insha Allah aman. Ustadz yang dirujuk harus bermanhaj salaf.”
Saya hanya tercenung dan diam beberapa saat sambil ngomong di dalam hati, “Memangnya belajar dari ustadz fulan itu nggak aman?
Di lain kesempatan, teman yang lain dari backgroun keagamaan yang berbeda dari teman pertama saya bertanya, “kamu mondok dimana, kang?”
“Saya mondok di ma’had anu.”
“Walaah, pesantren wahabi itu.” Serunya kemudian. Kemudian dengan panjang lebar dia menerangkan kepada saya tentang bahaya kelompok yang dia sebut wahabi. padahal, saya sendiri merasa pondok pesantren itu bukan pondok pesantren wahabi sebagaimana yang dia tuduhkan. Bahkan ngobrol tentang wahabi saja sangat tidak relavan dengan pemahaman saya. Karena banyak sekali kesalahpahaman dan fitnah disana-sini.
Belakangan saya tahu sahabat kedua ini ngaji di pesantren nadhiyin dan habib lovers. Belakangan, dia juga sering sekali mengejek ustadz-ustadz yang dia sebut sebagai ‘ustadz wahabi’ dengan ejekan yang sungguh bikin miris.
.
Well, dari dua fragmen di atas, kita bisa sama-sama menarik benang merah bahwa ada dua kubu yang saling bersinggungan satu sama lain. Sementara saya berada di tengah-tengah mereka. Yang satu dianggap sebagai kelompok islam puritan, yang kedua disebut kelompok islam tradisional.
Kedua-duanya sama-sama taklid buta terhadap ustadz-ustadz atau kyai mereka. Bahkan konon yang katanya melarang keras taklid terhadap mazhab dan figure, justru jatuh ke dalam sikap yang sama. Konon yang katanya bermazhab itu fleksibel, justru mereka sendiri yang rigid dengan tidak mau mengambil pendapat selain pendapat dari ustadz-ustaz yang menjadi rujukan mereka.
“Pokoknya, ustadz saya ini ustadz sunnah, ustadz salaf. Pemahaman dia benar. tidak mungkin salah. Lha wong, rujukannya quran sunnah.”
Dan sikap yang sama juga terjadi di kelompok sebelah.
“Ini habib lho, keturunan kangjeng nabi, masa iya salah. Ini kyai fulan keturunan kyai fulan. Masa iya salah.”
Seakan-akan, ustadz atau kyai mereka itu maksum dan tidak mungkin salah.
Jika mau jujur, kedua kelompok mulim ini sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sebelum kemerdekaan RI. Konon, Tuanku Imam Bondjol dari tanah sumbar adalah gambaran dari seorang islam puritan yang menentang kemusyrikan dan kebid’ahan kaum adat di tanah sumbar. Setelah menuntut ilmu dari mekah bersama teman-temannya, Tuanku Imam Bonjol berdakwah di tengah kaum adat untuk mengembalikan kemurnian al-Quran dan sunnah.
Konon Muhammadiyah adalah manifestasi dari islam puritan yang mendobrak takhayul, bid;ah dan khurafat di masyarakat jawa. Konon nahdatul Ulama adalah manifestasi dari islam tradisional yang beda jauh dengan narasi islam yang dibawa Muhammadiyah. Bahkan, konon, antara Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim asy-ari satu perguruan yang saling menyayangi satu sama lain.
Dulu, kaum muslimin saling bersatu padu. Dulu, kaum muslimin saling mendukung terlepas dari perbedaan yang mereka miliki satu sama lain.
Lalu, tidak bolehkah kita mengoreksi saudara muslim yang salah? Tidak bolehkah kita mengkritik sesama muslim yang di mata kita dia mengamalkan amalan yang tidak benar? tidak bolehkah kita membahas penyimpangan yang ada pada saudara kita?
Boleh! Sangat boleh! Bahkan harus.
Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hindari nyinyir dan judging. Perhatikan adab ketika memberi nasihat. Dan sampaikan dengan hikmah dan mauidhotil hasanah.
Adapun, muslim yang baik adalah muslim yang bersikap pertengahan, berada di tengah-tengah dan tidak bersikap ekstrim. Tidak taklid buta dan tidak menghakimi.
Saya nyaman belajar dengan siapa pun. Guru saya adalah ustadz Felix yang para pembencinya menyebut dia seorang HTI. Guru saya adalah ustadz Salim A Fillah dari PKS, Ustadz Firanda, Ustadz Khalid Basalamah, Ustadz Tuasikal yang orang-orang bilang mereka salafi/wahabi. ustadz saya adalah Adi Hidayat yang katanya background Muhammadiyah, dan ustadz Abdus Shomad yang katanya berasal dari Nadhiyin.
Mereka sama-sama mengajarkan kebaikan dan mengajarkan bagaimana kita berislam. Ambil ilmu dari mana pun dan dari siapa pun. Jangan pernah jumud dan taklid. Karena hal itu tidak membawa kebaikan apa pun.
Wassalam.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment