17 Apr 2020

DALAM BERAGAMA, FANATIK ITU PERLU


DI Postingan sebelumnya saya telah mengetengahkan tentang bahaya fanatisme dan sikap ashobiyah dalam berorganigasi, berpartai, mermazhab dan bermanhaj. Sayangnya, ada beberapa pihak yang salah paham sehingga menganggap saya orang yang tidak memiliki fanatisme dalam beragama.
Tidak dude. Yang saya kritisi itun adalah fanatisme dalam berhizb sehingga mudah menjatuhkan sesama kaum muslimin. Tapi tentu saja fanatisme sangat dibutuhkan dalam beragama.
Andai Rasulullah saw tidak fanatik, maka tentu saja beliau tidak akan pernah mendakwahkan islam di Mekah dan Madinah.
Andai Rasulullah saw tidak fanatik, tentu beliau mau saja menerima tawaran para gegeden qurays yang meminta beliau saw untuk menyembah sembahan mereka sewaktu-waktu. Hingga turunlah ayat, lakum dinukum waliyadin.
Andai Rasulullah saw tidak fanatik, tentu beliau tidak akan pernah memerangi yahudi Khaibar yang berkhianat.
Andai para sahabat tidak fanatik, tentu mereka tidak akan pernah bersemangat menyebarkan ajaran islam ke berbagai penjuru negeri sehingga berhasil menaklukan dua imperium besar, Persia dan Romawi.
Andai mu’tasim billah tidak fanatik, tentu dia tidak akan pernah mengerahkan ratusan ribu pasukan hanya untuk membela seorang muslimah yang dilecehkan oleh seorang pasukan romawi yang iseng menyingkap hijabnya.
Andai alfatih tidak fanatik, tentu tidak pernah ada kisah paling heroik dan epik tentang perahu-perahu yang berlayar di daratan sehingga takluklah imperum besar bizantium yang telah diramalkan oleh sang utusan terakhir saw.
Kita harus fanatik. Kita harus tetap berpegang teguh terhadap ajaran agama kita. Hanya saja, seringkali orang-orang kafir dan munafik dari kaum sekuler dan liberal memfitnah kita dengan sebutan radikalis. Jika memang radikalis itu adalah fanatisme dalam beragama. Ya, saya seorang radikalis sejati.
Justru sifat fanatisme dalam beragama dan memegang teguh ajaran agama inilah yang menjadi sebab kesejahteraan, kedamaian dan keselamatan. Pejabat yang fanatik terhadap ajaran islam, ianya tidak akan pernah berani untuk korupsi atau nilep uang.
Seorang lelaki harus fanatik dengan kelelakiannya. Jika tidak, bisa jadi dia menjadi bencong yang kemayu dan hilang kejantanannya.
Untuk hal-hal yang bersifat prinsip dan qath’iy seperti ranah aqidah, kita harus fanatik. Tak boleh ikut-ikutan perayaan agama orang lain atau mengucapkan selamat kepada non muslim dalam perayaan mereka. Untuk hal-hal dalam ranah khilafiyah, maka sangat naif jika menerapkan sikap fanatik. Seorang muslimah boleh tidak bercadar, boleh juga bercadar. Seorang boleh qunut subuh, boleh juga tidak memakai qunut subuh. Semua hanya pilihan. Tidak perlu fanatisme. Jika fanatisme dalam khilafiyah ini timbul, maka yang ada adalah perpecahan dan permusuhan terhadap sesama muslim.

KITA HARUS RADIKAL

Mungkin kamu terkejut ketika membaca judul di atas? Yang benar saja? Sah-sah saja jika anda terkejut karena memang selama ini kita mengenal term radikal yang selalu disandingkan dengan aksi kekerasan dan terorisme. Kamu radikal berarti kamu berpotensi menjadi seorang yang intoleran. Kamu radikal berarti kamu bisa menjadi seorang teroris tulen.

Jelas ini sebuah distorsi definisi yang sangat mengkhawatirkan. Pertama kali saya mendengar kata ‘radikal’ benak saya juga selalu menghubungkannya dengan intoleransi dan terorisme. Tapi tanpa sengaja saya menemukan kenyataan bahwa definisi dari kata radikal itu sendiri tidak sesangar yang dibayangkan.

Saya menemukan arti kata ‘radikal’ di dalam KBBI yang tentunya ini adalah versi definisi yang benar. Siapa sih yang tidak tahu KBBI, dan definisi mana yang lebih tepat dibanding KBBI.

Mari saya kutip definisi radikal versi KBBI,

Radikal 1. Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Contoh kalimat: perubahan yang radikal (berarti perubahan total sampai pada prinsip-prinsip dasar). 2. Definisi politik_amat keras menuntut perubahan dalam undang-undang dan pemerintahan. 3. Maju dalam berpikir dan bertindak.

Nah, jelas sudah bahwa tidak ada kaitan yang begitu kentara antara radikalisme dengan terorisme. Sepertinya BNPT perlu diarahkan untuk membuka KBBI ya.

Karena radikal adalah perubahan yang mendasar dan total, maka kita pun wajib menjadi pribadi-pribadi yang radikal. Seorang muslim yang baik adalah muslim yang kembali kepada ajaran yang murni, quran dan sunnah. Karena itulah perubahan total sampai pada prinsip-prinsip yang dasar.

Seorang siswa/ mahasiswa harus menjadi pribadi yang radikal sehingga bisa lulus ujian atau mendapat nilai IPK yang tinggi. Jika tidak menjadi pribadi yang radikal dalam dunia pendidikan, maka semakin banyak generasi malas yang tidak punya tujuan.

Dan apa pun dan siapa pun kita, harus menjadi pribadi yang radikal, yang tidak ambigu dan tidak memiliki pegangan hidup yang jelas. Radikalkan hidup anda, maka Anda akan sukses. Percaya kepada saya, jangan percaya kepada distorsi definisi.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment