DI Postingan sebelumnya saya telah mengetengahkan tentang
bahaya fanatisme dan sikap ashobiyah dalam berorganigasi, berpartai, mermazhab
dan bermanhaj. Sayangnya, ada beberapa pihak yang salah paham sehingga
menganggap saya orang yang tidak memiliki fanatisme dalam beragama.
Tidak dude. Yang saya kritisi itun adalah fanatisme dalam
berhizb sehingga mudah menjatuhkan sesama kaum muslimin. Tapi tentu saja
fanatisme sangat dibutuhkan dalam beragama.
Andai Rasulullah saw tidak fanatik, maka tentu saja beliau
tidak akan pernah mendakwahkan islam di Mekah dan Madinah.
Andai Rasulullah saw tidak fanatik, tentu beliau mau saja
menerima tawaran para gegeden qurays yang meminta beliau saw untuk menyembah
sembahan mereka sewaktu-waktu. Hingga turunlah ayat, lakum dinukum waliyadin.
Andai Rasulullah saw tidak fanatik, tentu beliau tidak akan
pernah memerangi yahudi Khaibar yang berkhianat.
Andai para sahabat tidak fanatik, tentu mereka tidak akan
pernah bersemangat menyebarkan ajaran islam ke berbagai penjuru negeri sehingga
berhasil menaklukan dua imperium besar, Persia dan Romawi.
Andai mu’tasim billah tidak fanatik, tentu dia tidak akan
pernah mengerahkan ratusan ribu pasukan hanya untuk membela seorang muslimah
yang dilecehkan oleh seorang pasukan romawi yang iseng menyingkap hijabnya.
Andai alfatih tidak fanatik, tentu tidak pernah ada kisah
paling heroik dan epik tentang perahu-perahu yang berlayar di daratan sehingga
takluklah imperum besar bizantium yang telah diramalkan oleh sang utusan
terakhir saw.
Kita harus fanatik. Kita harus tetap berpegang teguh
terhadap ajaran agama kita. Hanya saja, seringkali orang-orang kafir dan munafik
dari kaum sekuler dan liberal memfitnah kita dengan sebutan radikalis. Jika memang
radikalis itu adalah fanatisme dalam beragama. Ya, saya seorang radikalis
sejati.
Justru sifat fanatisme dalam beragama dan memegang teguh
ajaran agama inilah yang menjadi sebab kesejahteraan, kedamaian dan
keselamatan. Pejabat yang fanatik terhadap ajaran islam, ianya tidak akan
pernah berani untuk korupsi atau nilep uang.
Seorang lelaki harus fanatik dengan kelelakiannya. Jika tidak,
bisa jadi dia menjadi bencong yang kemayu dan hilang kejantanannya.
Untuk hal-hal yang bersifat prinsip dan qath’iy seperti
ranah aqidah, kita harus fanatik. Tak boleh ikut-ikutan perayaan agama orang
lain atau mengucapkan selamat kepada non muslim dalam perayaan mereka. Untuk hal-hal
dalam ranah khilafiyah, maka sangat naif jika menerapkan sikap fanatik. Seorang
muslimah boleh tidak bercadar, boleh juga bercadar. Seorang boleh qunut subuh,
boleh juga tidak memakai qunut subuh. Semua hanya pilihan. Tidak perlu
fanatisme. Jika fanatisme dalam khilafiyah ini timbul, maka yang ada adalah
perpecahan dan permusuhan terhadap sesama muslim.
KITA HARUS RADIKAL
Mungkin kamu terkejut ketika membaca judul di
atas? Yang benar saja? Sah-sah saja jika anda terkejut karena memang selama ini
kita mengenal term radikal yang selalu disandingkan dengan aksi kekerasan dan
terorisme. Kamu radikal berarti kamu berpotensi menjadi seorang yang intoleran.
Kamu radikal berarti kamu bisa menjadi seorang teroris tulen.
Jelas ini sebuah distorsi definisi yang sangat
mengkhawatirkan. Pertama kali saya mendengar kata ‘radikal’ benak saya juga
selalu menghubungkannya dengan intoleransi dan terorisme. Tapi tanpa sengaja
saya menemukan kenyataan bahwa definisi dari kata radikal itu sendiri tidak
sesangar yang dibayangkan.
Saya menemukan arti kata ‘radikal’ di dalam
KBBI yang tentunya ini adalah versi definisi yang benar. Siapa sih yang tidak
tahu KBBI, dan definisi mana yang lebih tepat dibanding KBBI.
Mari saya kutip definisi radikal versi KBBI,
Radikal 1. Secara mendasar (sampai kepada hal
yang prinsip). Contoh kalimat: perubahan yang radikal (berarti perubahan total
sampai pada prinsip-prinsip dasar). 2. Definisi politik_amat keras menuntut
perubahan dalam undang-undang dan pemerintahan. 3. Maju dalam berpikir dan
bertindak.
Nah, jelas sudah bahwa tidak ada kaitan yang
begitu kentara antara radikalisme dengan terorisme. Sepertinya BNPT perlu
diarahkan untuk membuka KBBI ya.
Karena radikal adalah perubahan yang mendasar
dan total, maka kita pun wajib menjadi pribadi-pribadi yang radikal. Seorang
muslim yang baik adalah muslim yang kembali kepada ajaran yang murni, quran dan
sunnah. Karena itulah perubahan total sampai pada prinsip-prinsip yang dasar.
Seorang siswa/ mahasiswa harus menjadi pribadi
yang radikal sehingga bisa lulus ujian atau mendapat nilai IPK yang tinggi.
Jika tidak menjadi pribadi yang radikal dalam dunia pendidikan, maka semakin
banyak generasi malas yang tidak punya tujuan.
Dan apa pun dan siapa pun kita, harus menjadi
pribadi yang radikal, yang tidak ambigu dan tidak memiliki pegangan hidup yang
jelas. Radikalkan hidup anda, maka Anda akan sukses. Percaya kepada saya,
jangan percaya kepada distorsi definisi.
No comments:
Post a Comment