Yang namanya manusia tentu punya karakter dan sifat
yang berbeda satu sama lain, termasuk para santri di pondok pesantren. Yah,
boleh dibilang pesantren adalah miniatur kecil dari ‘bhineka tunggal ika’. Bagaimana
tidak, santri di pondok pesantren datang dari berbagai wilayah dengan
kebudayaan dan kebiasaan yang tentunya berbeda satu sama lain.
Dan termasuk urusan sifat dan karakter, di pondok
pesantrenlah kamu bisa paham dan mengerti tentang perbedaan. Di pesantren juga
kamu bisa menemukan orang-orang yang baik nan menawan, tapi ada juga yang bikin
keki dan menjengkelkan. Termasuk santri-santri dengan spesies pelit mere ge
hese. Hehehe.
Ngobrolin tentang sifat pelit binti kikir ini, memang
ini bukan sifat seorang muslim sejati. Tapi nggak menutup kemungkinan sih ada
santri yang pelit dengan level yang berbeda-beda satu sama lain. Ada yang
sangat loyal, sampai-sampai rajin banget nraktir teman-temannya. Ada yang
sedikit pelit, setengah pelit, sampai yang pelitnya nyampe level dewa. Hehe
Nah, kali ini aku mau ngobrolin tentang si pelit level
dewa. Aku mau menceritakan hal ini karena ini emang menarik dan kadang kocak
buat dibahas.
Ada lho santri yang sampe pelitnya, dia nggak rela
kalau makanan yang ada dilemarinya ikut kemakan sama teman-teman seasrama. Sampai-sampai
kalau makan harus sembunyi-sembunyi.
Author pernah punya adik kelas yang pinter banget
untuk urusan sembunyi-sembunyi dalam menghabiskan koleksi makanannya di lemari.
Biasanya WC atau kamar mandi jadi tempat persembunyian untuk menghabiskan
makanan atau jajanan yang dia beli. Mungkin kamu bertanya-tanya, emangnya
kenapa kalau ngemil terang-terangan? Lha, kamu belum tahu sih kalau anak
pesantren itu orangnya to the point. Nggak ada yang namanya rasa sungkan buat
minta makanan. Bahkan tanpa minta pun suka ikut nimbrung. Dan tentu saja orang
yang makan sendirian terang-terangan tanpa ngajak teman-temen bakalan
dinyinyirin orang lain. Makanya dia lebih memilih makan di tempat yang sepi. Et
dah, ngemil aja kayak ngelakuin dosa ya, harus sembunyi-sembunyi. Ahaha
Pernah juga sih author bareng sohib sekamar makan
berdua tanpa ngajak yang lain. Alasannya bukan karena kami pelit, tapi memang
makanan yang kami punya cuman seuprit. Lebih baik buat kami berdua aja kenyang,
baru nanti ngenyangin orang lain jika ada rezeki lebih. Eh, salah nggak sih. Tapi
menurutku wajar-wajar aja sih ya.
Waktu itu kami buka plastik noga wijen di atas ranjang
kasur paling bawah.
Kresk!...kresk!!
Si Erhan, sohibku dengan hati-hati membuka plastik
supaya tidak menimbulkan kegaduhan. Tapi tetep aja si plastik berkhianat kepada
tuannya dengan menimbulkan bunyi-bunyian ala plastik makanan.
Nah, ketika makanan dibuka, tiba-tiba dua kepala nongol
dari ranjang yang lain. “Wah, ada makanan nih!” seru mereka berbarengan.
Aku dan si Erhan hanya senyum-senyum najong, “Yah...batal
pesta makan berdua nih, Ni.”
“Nggak papa.” Jawabku lemes.
Empat orang teman sekamar langsung terjun dari ranjang
tingkat dua bak spidermen atau tarzan kelaparan. Kemudian ikut bergabung
bersama kami; mengunyah noga wijen yang sudah agak mencair itu.
“Enak ya.” Ujar si perusak suasana.
“Yang namanya gratis sih emang enak, keles.” Balas si
Erhan.
Aku cuman mesem aja.
Menurutku sih, pelit itu sifat yang bisa jadi bumerang
buat si empunya itu sendiri. selain bikin orang lain ilfil dan nggak suka,
terkadang si pelit juga dimusuhi lho ya.
Pernah ada santri yang lumayan barbar menjungkir
balikan lemari seorang teman yang kebetulan agak pelit (jika tidak boleh
dikatakan pelit). Nggak heran, akibatnya isi lemari pada tumpah ruah semua,
termasuk makanan di dalamnya. Sadis amat ini mah! Dua-duanya bisa jadi dapet
dosa. Orang pertama, dapet dosa karena sifat pelitnya. Orang kedua dapet dosa
karena sifat barbarnya.
Di kesempatan yang lain, si barbar dengan pedenya mencoret
tanda silang di pintu lemari si pelit (ini aktornya berbeda dari yang pertama).
Tak tanggung-tanggung, di pintu itu ditulis memakai kapur tulis dengan bunyi;
DISINI ADA HARTA KARUN. SILAKAN AMBIL.’ Kalau udah begini, si empunya lemari
bakalan malu semalu-malunya. Efek positifnya, sejak saat itu dia jadi berkurang
level kepelitannya.
Author sendiri selalu diwanti-wanti sama emak untuk
selalu berbagi. Apalagi kalau bapak datang menyambangi author dengan dua kardus
makanan ala kampung. Isinya nggak lebih dari keripik singkong atau keripik
pisang, nasi timbel plus lalab, ikan, terasi dan teman-teman. Dan berbagai
macam pengananan lainnya.
“Bagiin ke teman-temannya.” Begitu pinta emak lewat
telepon bapak.
“Iya mak.” Jawabku. Tanpa diminta pun aku dengan rela
hati memberikan makanan-makanan itu ke teman-teman. Dalam beberapa menit saja
sudah ludes dirongrong belasan teman sekamar. Meski kadang sengaja menyembunyikan
satu atau dua keripik buat persediaan. Ehehe.
Makanya nggak heran deh, kalau bapak datang menjenguk,
teman-temanku pada berseri-seri alamat bakalan makan timbel bareng terasi khas
bikinan emakku yang emang bikin perut ketagihan minta selalu diiisi.

No comments:
Post a Comment