15 Apr 2020

Perkara Si Pelit Binti Medit


Yang namanya manusia tentu punya karakter dan sifat yang berbeda satu sama lain, termasuk para santri di pondok pesantren. Yah, boleh dibilang pesantren adalah miniatur kecil dari ‘bhineka tunggal ika’. Bagaimana tidak, santri di pondok pesantren datang dari berbagai wilayah dengan kebudayaan dan kebiasaan yang tentunya berbeda satu sama lain.
Dan termasuk urusan sifat dan karakter, di pondok pesantrenlah kamu bisa paham dan mengerti tentang perbedaan. Di pesantren juga kamu bisa menemukan orang-orang yang baik nan menawan, tapi ada juga yang bikin keki dan menjengkelkan. Termasuk santri-santri dengan spesies pelit mere ge hese. Hehehe.
Ngobrolin tentang sifat pelit binti kikir ini, memang ini bukan sifat seorang muslim sejati. Tapi nggak menutup kemungkinan sih ada santri yang pelit dengan level yang berbeda-beda satu sama lain. Ada yang sangat loyal, sampai-sampai rajin banget nraktir teman-temannya. Ada yang sedikit pelit, setengah pelit, sampai yang pelitnya nyampe level dewa. Hehe
Nah, kali ini aku mau ngobrolin tentang si pelit level dewa. Aku mau menceritakan hal ini karena ini emang menarik dan kadang kocak buat dibahas.
Ada lho santri yang sampe pelitnya, dia nggak rela kalau makanan yang ada dilemarinya ikut kemakan sama teman-teman seasrama. Sampai-sampai kalau makan harus sembunyi-sembunyi.
Author pernah punya adik kelas yang pinter banget untuk urusan sembunyi-sembunyi dalam menghabiskan koleksi makanannya di lemari. Biasanya WC atau kamar mandi jadi tempat persembunyian untuk menghabiskan makanan atau jajanan yang dia beli. Mungkin kamu bertanya-tanya, emangnya kenapa kalau ngemil terang-terangan? Lha, kamu belum tahu sih kalau anak pesantren itu orangnya to the point. Nggak ada yang namanya rasa sungkan buat minta makanan. Bahkan tanpa minta pun suka ikut nimbrung. Dan tentu saja orang yang makan sendirian terang-terangan tanpa ngajak teman-temen bakalan dinyinyirin orang lain. Makanya dia lebih memilih makan di tempat yang sepi. Et dah, ngemil aja kayak ngelakuin dosa ya, harus sembunyi-sembunyi. Ahaha
Pernah juga sih author bareng sohib sekamar makan berdua tanpa ngajak yang lain. Alasannya bukan karena kami pelit, tapi memang makanan yang kami punya cuman seuprit. Lebih baik buat kami berdua aja kenyang, baru nanti ngenyangin orang lain jika ada rezeki lebih. Eh, salah nggak sih. Tapi menurutku wajar-wajar aja sih ya.
Waktu itu kami buka plastik noga wijen di atas ranjang kasur paling bawah.
Kresk!...kresk!!
Si Erhan, sohibku dengan hati-hati membuka plastik supaya tidak menimbulkan kegaduhan. Tapi tetep aja si plastik berkhianat kepada tuannya dengan menimbulkan bunyi-bunyian ala plastik makanan.
Nah, ketika  makanan dibuka, tiba-tiba dua kepala nongol dari ranjang yang lain. “Wah, ada makanan nih!” seru mereka berbarengan.
Aku dan si Erhan hanya senyum-senyum najong, “Yah...batal pesta makan berdua nih, Ni.”
“Nggak papa.” Jawabku lemes.
Empat orang teman sekamar langsung terjun dari ranjang tingkat dua bak spidermen atau tarzan kelaparan. Kemudian ikut bergabung bersama kami; mengunyah noga wijen yang sudah agak mencair itu.
“Enak ya.” Ujar si perusak suasana.
“Yang namanya gratis sih emang enak, keles.” Balas si Erhan.
Aku cuman mesem aja.
Menurutku sih, pelit itu sifat yang bisa jadi bumerang buat si empunya itu sendiri. selain bikin orang lain ilfil dan nggak suka, terkadang si pelit juga dimusuhi lho ya.
Pernah ada santri yang lumayan barbar menjungkir balikan lemari seorang teman yang kebetulan agak pelit (jika tidak boleh dikatakan pelit). Nggak heran, akibatnya isi lemari pada tumpah ruah semua, termasuk makanan di dalamnya. Sadis amat ini mah! Dua-duanya bisa jadi dapet dosa. Orang pertama, dapet dosa karena sifat pelitnya. Orang kedua dapet dosa karena sifat barbarnya.  
Di kesempatan yang lain, si barbar dengan pedenya mencoret tanda silang di pintu lemari si pelit (ini aktornya berbeda dari yang pertama). Tak tanggung-tanggung, di pintu itu ditulis memakai kapur tulis dengan bunyi; DISINI ADA HARTA KARUN. SILAKAN AMBIL.’ Kalau udah begini, si empunya lemari bakalan malu semalu-malunya. Efek positifnya, sejak saat itu dia jadi berkurang level kepelitannya.
Author sendiri selalu diwanti-wanti sama emak untuk selalu berbagi. Apalagi kalau bapak datang menyambangi author dengan dua kardus makanan ala kampung. Isinya nggak lebih dari keripik singkong atau keripik pisang, nasi timbel plus lalab, ikan, terasi dan teman-teman. Dan berbagai macam pengananan lainnya.
“Bagiin ke teman-temannya.” Begitu pinta emak lewat telepon bapak.
“Iya mak.” Jawabku. Tanpa diminta pun aku dengan rela hati memberikan makanan-makanan itu ke teman-teman. Dalam beberapa menit saja sudah ludes dirongrong belasan teman sekamar. Meski kadang sengaja menyembunyikan satu atau dua keripik buat persediaan. Ehehe.
Makanya nggak heran deh, kalau bapak datang menjenguk, teman-temanku pada berseri-seri alamat bakalan makan timbel bareng terasi khas bikinan emakku yang emang bikin perut ketagihan minta selalu diiisi.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment