16 Apr 2020

KETIKA MAZHAB DAN ‘MANHAJ’ MENJADI AGAMA


Musabab saya menulis artikel ini adalah rasa heran yang luar biasa melihat fanatisme kelompok dan mazhab yang semakin menggenjala. Bukan hanya fanatisme dari orang-orang bermazhab tradisionalis semacam Nadhiyin dan sufi, tapi juga fanatisme dari ‘la mazhab’ yang menamai diri mereka sebagai salafi. Saya pribadi tidak menamai diri saya dengan embel-embel apa pun. Saya seorang muslim yang sangat benci dan muak dengan fanatisme.

Musabab lain dari artikel ini adalah, pagi tadi saya melihat thread seorang akhwat ‘salaf’ yang dengan yakin mengatakan tidak akan pernah menikah dengan seorang lelaki selain salafi. Tidak sufi, tidak tablighi, tidak ikhwani, tidak juga yang lainnya. Karena menurutnya, muslim yang paling baik itu ya salafi. Aku hanya mesem-mesem saja. Jangan salah sangka bahwa saya menulis ini karena cinta saya ditolak oleh akhwat semacam dia. Bukan!  Saya hanya miris saja melihat

Kasus yang sama sering sekali saya lihat di kalangan nadhiyin. Sampai-sampai saya pernah denger cerita tentang seorang santri ngalong yang lumayan agak berontak karena tidak ikut tradisi NU, hingga kyainya bilang kepada dia, “Kecil-kecil sudah jadi Muhammadiyah!”

Pun, penulis sendiri pernah mengalami dibully habis-habisan di masa SMP dulu hanya karena keluarga penulis berbeda dari warga nadhiyin kebanyakan. Penulis tidak qunut dan tidak tahlilan sehingga mereka mengolok-olok saya, “Dasar Persis Muhaqqoq.”

Saya sendiri tidak tahu persis apa arti muhaqoq, dan saya sendiri bukan orang persis. Hanya kebetulan saja mirip orang persis yang tidak tahlilan. Itu saja. Hingga lambat laun di masa sekarang, istilah wahabi semakin menggenjala untuk mereka yang selalu dianggap tidak manut sama tradisi islam nadhiyin.

Seharusnya, umat islam itu saling rangkul dan tidak perlu merasa hanya kelompoknya yang paling baik, yang lain tidak.  Sampai-sampai tidak mau menikah dengan muslim di luar kelompoknya (ini sih mirip-mirip jamaah LDII), tidak mau ikut pengajiannya dan tidak mau membantu saudaranya. Sampai-sampai jika ada muslim yang tertindas, dia mikir dua kali sambil bilang, “Mazhabnya apa? Manhajnya apa? Ustadznya siapa?” kelar dah hidup lo.

Kadang penulis sendiri merasa jadi bola pingpong. Orang nadhiyin bilang, saya ini orang salafi karena tidak qunut dan tahlilan. Eh orang salafi bilang saya ini sururi yang tidak semanhaj dengan mereka. Bodo amat, memangnya siapa yang mau diaku saya mah woles aja, selama agama saya islam, pedoman saya alquran dan nabi saya Muhammad saw, saya seorang muslim sejati. Saya tidak ingin dikotak-kotak seperti itu. Pun, selama saudara-saudara punya kitab, tuhan dan nabi yang sama, kita sodaraan.

Etapi, bukan berarti perbedaan ini nggak boleh ya. Silakan kamu jadi NU, jadi seorang muhammadiyah atau jadi orang salafi, tapi mbok ya jangan naif sampai-sampai hanya meganggap bahwa pemegang kunci surga itu hanya dirinya sendiri dan kelompoknya.
Sudah begitu saja.
Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment