Musabab saya menulis artikel ini adalah rasa heran yang luar
biasa melihat fanatisme kelompok dan mazhab yang semakin menggenjala. Bukan hanya
fanatisme dari orang-orang bermazhab tradisionalis semacam Nadhiyin dan sufi,
tapi juga fanatisme dari ‘la mazhab’ yang menamai diri mereka sebagai salafi. Saya
pribadi tidak menamai diri saya dengan embel-embel apa pun. Saya seorang muslim
yang sangat benci dan muak dengan fanatisme.
Musabab lain dari artikel ini adalah, pagi tadi saya melihat
thread seorang akhwat ‘salaf’ yang dengan yakin mengatakan tidak akan pernah
menikah dengan seorang lelaki selain salafi. Tidak sufi, tidak tablighi, tidak
ikhwani, tidak juga yang lainnya. Karena menurutnya, muslim yang paling baik
itu ya salafi. Aku hanya mesem-mesem saja. Jangan salah sangka bahwa saya
menulis ini karena cinta saya ditolak oleh akhwat semacam dia. Bukan! Saya hanya miris saja melihat
Kasus yang sama sering sekali saya lihat di kalangan
nadhiyin. Sampai-sampai saya pernah denger cerita tentang seorang santri
ngalong yang lumayan agak berontak karena tidak ikut tradisi NU, hingga kyainya
bilang kepada dia, “Kecil-kecil sudah jadi Muhammadiyah!”
Pun, penulis sendiri pernah mengalami dibully habis-habisan
di masa SMP dulu hanya karena keluarga penulis berbeda dari warga nadhiyin
kebanyakan. Penulis tidak qunut dan tidak tahlilan sehingga mereka
mengolok-olok saya, “Dasar Persis Muhaqqoq.”
Saya sendiri tidak tahu persis apa arti muhaqoq, dan saya
sendiri bukan orang persis. Hanya kebetulan saja mirip orang persis yang tidak
tahlilan. Itu saja. Hingga lambat laun di masa sekarang, istilah wahabi semakin
menggenjala untuk mereka yang selalu dianggap tidak manut sama tradisi islam
nadhiyin.
Seharusnya, umat islam itu saling rangkul dan tidak perlu
merasa hanya kelompoknya yang paling baik, yang lain tidak. Sampai-sampai tidak mau menikah dengan muslim
di luar kelompoknya (ini sih mirip-mirip jamaah LDII), tidak mau ikut
pengajiannya dan tidak mau membantu saudaranya. Sampai-sampai jika ada muslim
yang tertindas, dia mikir dua kali sambil bilang, “Mazhabnya apa? Manhajnya apa?
Ustadznya siapa?” kelar dah hidup lo.
Kadang penulis sendiri merasa jadi bola pingpong. Orang nadhiyin
bilang, saya ini orang salafi karena tidak qunut dan tahlilan. Eh orang salafi
bilang saya ini sururi yang tidak semanhaj dengan mereka. Bodo amat, memangnya
siapa yang mau diaku saya mah woles aja, selama agama saya islam, pedoman saya
alquran dan nabi saya Muhammad saw, saya seorang muslim sejati. Saya tidak
ingin dikotak-kotak seperti itu. Pun, selama saudara-saudara punya kitab, tuhan
dan nabi yang sama, kita sodaraan.
Etapi, bukan berarti perbedaan ini nggak boleh ya. Silakan kamu
jadi NU, jadi seorang muhammadiyah atau jadi orang salafi, tapi mbok ya jangan
naif sampai-sampai hanya meganggap bahwa pemegang kunci surga itu hanya dirinya
sendiri dan kelompoknya.
Sudah begitu saja.

No comments:
Post a Comment