Jadi gini, keroncongan disini bukan aliran musik tradisional
nusantara itu lho, tapi bunyi keroncongan dari perut lapar yang kurang asupan.
Lho, apa hubungannya santri dengan perut keroncongan? Apakah santri selalu
kelaparan?
Hm, gimana ya. Jadi gini, saya tidak mau menggenalisir
bahwa setiap santri itu sudah pernah ngalamin yang namanya kelaparan, santri
itu selalu kelaparan atau apalah. Tulisan ini hanya ingin merekam memori
penulis selama mondok di pesantren. Dan tentu saja setiap orang memiliki
pengalaman yang berbeda satu sama lain, termasuk dalam urusan perut ini.
Entahlah, yang jelas author dan kawan-kawan memang
sering banget ngerasa lapar terus. Entah karena stok makanan di lemari yang
kurang atau nggak ada sama sekali, uang jajan yang sudah habis di pertengahan
bulan atau jatah makan yang tidak cukup dan semacamnya. Yang jelas, perut ini
selalu berontak. Hehe. Ada pengalaman menarik soal perut ini.
Pertama, aksi tipu-tipu santri nakal di dapur
pesantren
Di pondok pesantren saya dulu, kami santri laki-laki
tidak masak sendiri. Ada santri perempuan yang memasak nasi dan lauk untuk kami
para santriwan. Sementara untuk urusan air kami masak sendiri di beberapa panci
besar. Mungkin di beberapa pesantren tradisional para santri membawa beras dan
lauk sendiri, kemudian masak-masak sendiri, nyuci-nyuci sendiri. (stop! Stop! Kok
malah nyanyi sihh..). dan tentunya lain lagi dengan pesantren modern. Biasanya di
pesantren modern para santri tidak direpotkan dengan urusan masak memasak. Waktunya
makan mereka hanya tinggal nunggu jatah di mat’am.
Kami santri laki-laki biasa mengantri di mulut pintu
dapur sembari menyodorkan piring plastik kami kepada ukhti-ukhti yang bertugas
piket di dapur. Nah, dari sinilah biasanya aksi tipu-tipu ala santri ikhwan nan
nakal terjadi.
“Saya berdua ya.” Ujar Farhan, seorang santri tingkat
MTs kepada teteh-teteh yang sedang bertugas di dapur.
Si teteh-teteh percaya saja dengan pengakuan si Farhan
itu sehingga dia menambahkan porsi nasi dan lauk ke dalam piring plastik yang
disodorkan Farhan.
Senyum lebar mengembang di bibir Farhan ketika dia
menerima piring dengan nasi dan lauk yang menggunung. Hatinya berbunga-bunga
bak baru saja menerima surat cinta dari sang pujaan hati.
Bergabunglah Farhan dengan gengnya di depan kamar
asrama. Teman-temannya heran kenapa si Farhan bisa mendapatkan porsi ala si
abang tukang beca.
“Lho, kok kamu dapet banyak sih, Han?” tanya si Asep
keheranan. Sementara matanya turun ke piring plastiknya yang hanya berisi
setengah dari porsi si Farhan.
“Aku bilangnya makan berdua.”
“Ya sudah, makan bareng ana aja Han, kebetulan ana
belum ngambil nasi. Males ngantrinya.” Sambar Sobari dari dalam kamar asrama.
Farhan mendelik. “Heh, aku tuh ngaku berdua tapi buat
sendiri. kalau kamu mau, ngantri saja sana!”
“Serius?”
“Iya.”
Akhirnya Sobari pun ikut-ikutan berlari ke pintu
dapur, ikut mengantri dengan semangat 45, ketika tiba gilirannya, dia segera
menyodorkan piring plastiknnya dan bilang ‘berdua.’ Mantra yang telah diajarkan
oleh si Farhan.
Perlahan tapi pasti, banyak juga yang mengetahui
rahasia si Farhan. Dan boleh dikatakan si Farhanlah yang menjadi pelopor
gerakan tipu-tipu dengan mantra ‘berdua ya’ kepada teteh-teteh polos di dapus
santri.
Yang jelas, si teteh-teteh piket juga nggak
bodoh-bodoh amat untuk mengendus sindikat penipuan-penipuan dari piring plastik
yang disodorkan dan senyum najong ala santri yang bermantra ‘berdua ya.’
“Akhir-akhir ini banyak banget deh yang makan barengan
berdua.” Ujar Fatimah sembari mengaduk sayur lodeh di wajan.
“Romantis sekali.” Timpal Jumirah sembari mengaduk
nasi di kuali.
“Eh, jangan mudah percaya gitu aja keles. Mereka tuh
ada yang memang ngaku berdua tapi nyatanya dimakan sendiri.”
“Darmaji kali ya.”
“Apaan tuh darmaji.”
“Ngadahar lima ngakuna hiji.”
Gerr!!!
“Gini aja, kalau ada yang bilang berdua, harusnya kita
tanya dia makan berdua sama siapa? Setuju
nggak sih.”
Akhirnya teteh-teteh piket itu setuju untuk tidak lagi
mudah dikacangin oleh santri-santri nakal berperut karet tersebut. Mueheheh.
Di hari kedua, si teteh-teteh petugas piket pun mulai
menggunakan jurus interogasi tersebut.
“Berdua ma’a man?” tanya si Maesaroh kepada si Farhan
yang untuk kesekian kalinya bilang makan berdua.
Jelas saja si Farhan gelagapan ditanya berdua sama siapa,
sementara benaknya melanglang buana mencari nama yang bisa dijadikan tumbal. “Sama
Asep.” Jawabnya kemudian setelah nama ‘Asep’ nyantol di benaknya yang lumayan
pinter untuk urusan perut.
Si teteh-teteh mengangguk paham dan menyendok nasi dan
lauk dengan dua porsi. Sementara si Farhan hanya bisa pasrah. Mau nggak mau dia
harus mencari asep dan rela makan sepiring berdua bareng Asep.
Setelah menerima piring, Farhan pun langsung ngacir ke
asrama dan mencari Asep. “Asep Aina Asep? Hal tandzur wein Asep?” tanya Farhan
kepada si Sobar yang rebahan di dipan sembari membaca buku.
“La a’rif. la andzur asep.” Jawab Sobri dan tak lepas
dari buku yang dia baca. Terpaksa si Farhan menunggu si Asep dengan perut yang
mulai menyanyi. Di tempat lain, tanpa Farhan sadari Asep sedang mengantri
dengan santri lainnya di mulut pintu dapur. Hingga tibalah giliran Asep
menyodorkan piring.
“Makan berdua.”
“Sama siapa?”
Si Asep pun kelabakan, dan entah kebetulan atau
pegimana, tiba-tiba nama Farhan terlintas di benaknya. Mungin faktor solidaritas
dari kumpulan perut-perut karet sehingga nama yang muncul nama Farhan. “Sama
Farhan!”
“Lho, bukannya tadi Farhan udah ngambil jatahnya.” Seru
Teh Maesaroh dengan memasang muka sewot. “oh iya, dia juga tadi ngambil jatah
berdua. Nama kamu siapa?”
“Saya Asep.”
“Naaah....tadi si Farhan sudah ngambil jatah kamu
juga.”
Merah padamlah wajah si Asep. Tanpa menunggu lama dia
segera berlari ke asarama.
“Heh, ini piringnya ambil lagi.” Seru Maesaroh dari
mulut pintu dapur. Si Asep kembali ke pntu dapur untuk mengambil piring yang
tertinggal dan kembali berlari ke arah asrama untuk memakan jatahnya sebelum
benar-benar abis dimakan si Farhan.
Disanalah dia melihat Farhan. Di atas dipan dengan
muka yang nelangsa. Demi melihat batang hidung (eh, bukan cuman batang
hidungnya aja sih) si Asep, sumringahlah si Farhan. “Darimana saja sih kamu,
aku nungguin kamu dari tadi.”
“Kamu nggak makan jatahku kan?”
“Ya kale gue sejahat itu.”
“Kirain.”
“Gini-gini gue juga setia kawan keles...”
“Wah, tamatlah sudah riwayat kita Han. Si teteh-teteh
sudah tahu trik kita soal makan berdua.”
“Sudahlah jangan menangis lagi. Kita cukup sampai
disini.”
“Apaan sih malah nyanyi!!”
Nah sob, itulah fragmen tentang trik tipu-tipu ala
santri berperut karet seperti Asep dan Farhan. Adakah diantara kamu yang
seperti mereka berdua. Mueheheh... BTW, itu bukan nama asli lho ya. Sengaja aku
samarkan demi nama baik mereka berdua.
Kedua, mencari makanan alternatif untuk mengganjal
perut yang selalu minta isi.
Nah, kalau yang satu ini sih biasanya kami mencari
buah kelapa yang sudah jatuh dari pohonnya di kebun sekitar pondok. Jika ada
kelapa jatuh, kami langsung mengambil kampak atau golok dan membelah kelapa tua
itu. Meminum airnya dan memakan kelapanya. Hm, manis-manis gurih gitu lho.
Selain buah kelapa, kami juga biasa nyari buah
kedondong masak yang sudah jatuh dari pohonnya. Rasanya manis-manis asem gitu. Pokoknya
kita harus selalu ikhtiar bagiamana supaya perut kita adem tentrem nggak
berontak meski uang jajan sudah habis.
Ketiga, deketin teman yang baru dianterin makanan dari
rumah, disambangin ortunya atau menerima paket makanan.
Tahu nggak sih kalau anak yang baru disambangin
ortunya itu mendadak jadi bintang primadona. Dia dideketin temen-temennya. Bahkan
yang awalnya jadi musuh, untuk sementara akan berpura-pura jadi hamba sahaya
nan baik dan tidak sombong demi mendapatkan jatah makanan dari kardus makanan.
Well, biasa sih si santri yang mendapatkan kiriman
makanan dari ortu mereka selalu selektif dalam memilih teman yang ikut makan
bareng mereka. Hal ini dikarenakan makanan yang ada tentu nggak cukup untuk semua
santri. Jadinya paling makan bareng geng, temen dekat, teman sekasur atau paling
banyakan dengan teman sekelas.

No comments:
Post a Comment