15 Apr 2020

Perkara Perut yang Selalu Keroncongan


Jadi gini, keroncongan disini bukan aliran musik tradisional nusantara itu lho, tapi bunyi keroncongan dari perut lapar yang kurang asupan. Lho, apa hubungannya santri dengan perut keroncongan? Apakah santri selalu kelaparan?
Hm, gimana ya. Jadi gini, saya tidak mau menggenalisir bahwa setiap santri itu sudah pernah ngalamin yang namanya kelaparan, santri itu selalu kelaparan atau apalah. Tulisan ini hanya ingin merekam memori penulis selama mondok di pesantren. Dan tentu saja setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda satu sama lain, termasuk dalam urusan perut ini.
Entahlah, yang jelas author dan kawan-kawan memang sering banget ngerasa lapar terus. Entah karena stok makanan di lemari yang kurang atau nggak ada sama sekali, uang jajan yang sudah habis di pertengahan bulan atau jatah makan yang tidak cukup dan semacamnya. Yang jelas, perut ini selalu berontak. Hehe. Ada pengalaman menarik soal perut ini.
Pertama, aksi tipu-tipu santri nakal di dapur pesantren
Di pondok pesantren saya dulu, kami santri laki-laki tidak masak sendiri. Ada santri perempuan yang memasak nasi dan lauk untuk kami para santriwan. Sementara untuk urusan air kami masak sendiri di beberapa panci besar. Mungkin di beberapa pesantren tradisional para santri membawa beras dan lauk sendiri, kemudian masak-masak sendiri, nyuci-nyuci sendiri. (stop! Stop! Kok malah nyanyi sihh..). dan tentunya lain lagi dengan pesantren modern. Biasanya di pesantren modern para santri tidak direpotkan dengan urusan masak memasak. Waktunya makan mereka hanya tinggal nunggu jatah di mat’am.
Kami santri laki-laki biasa mengantri di mulut pintu dapur sembari menyodorkan piring plastik kami kepada ukhti-ukhti yang bertugas piket di dapur. Nah, dari sinilah biasanya aksi tipu-tipu ala santri ikhwan nan nakal terjadi.
“Saya berdua ya.” Ujar Farhan, seorang santri tingkat MTs kepada teteh-teteh yang sedang bertugas di dapur.
Si teteh-teteh percaya saja dengan pengakuan si Farhan itu sehingga dia menambahkan porsi nasi dan lauk ke dalam piring plastik yang disodorkan Farhan.
Senyum lebar mengembang di bibir Farhan ketika dia menerima piring dengan nasi dan lauk yang menggunung. Hatinya berbunga-bunga bak baru saja menerima surat cinta dari sang pujaan hati.
Bergabunglah Farhan dengan gengnya di depan kamar asrama. Teman-temannya heran kenapa si Farhan bisa mendapatkan porsi ala si abang tukang beca.
“Lho, kok kamu dapet banyak sih, Han?” tanya si Asep keheranan. Sementara matanya turun ke piring plastiknya yang hanya berisi setengah dari porsi si Farhan.
“Aku bilangnya makan berdua.”
“Ya sudah, makan bareng ana aja Han, kebetulan ana belum ngambil nasi. Males ngantrinya.” Sambar Sobari dari dalam kamar asrama.
Farhan mendelik. “Heh, aku tuh ngaku berdua tapi buat sendiri. kalau kamu mau, ngantri saja sana!”
“Serius?”
“Iya.”
Akhirnya Sobari pun ikut-ikutan berlari ke pintu dapur, ikut mengantri dengan semangat 45, ketika tiba gilirannya, dia segera menyodorkan piring plastiknnya dan bilang ‘berdua.’ Mantra yang telah diajarkan oleh si Farhan.
Perlahan tapi pasti, banyak juga yang mengetahui rahasia si Farhan. Dan boleh dikatakan si Farhanlah yang menjadi pelopor gerakan tipu-tipu dengan mantra ‘berdua ya’ kepada teteh-teteh polos di dapus santri.
Yang jelas, si teteh-teteh piket juga nggak bodoh-bodoh amat untuk mengendus sindikat penipuan-penipuan dari piring plastik yang disodorkan dan senyum najong ala santri yang bermantra ‘berdua ya.’
“Akhir-akhir ini banyak banget deh yang makan barengan berdua.” Ujar Fatimah sembari mengaduk sayur lodeh di wajan.
“Romantis sekali.” Timpal Jumirah sembari mengaduk nasi di kuali.
“Eh, jangan mudah percaya gitu aja keles. Mereka tuh ada yang memang ngaku berdua tapi nyatanya dimakan sendiri.”
“Darmaji kali ya.”
“Apaan tuh darmaji.”
“Ngadahar lima ngakuna hiji.”
Gerr!!!
“Gini aja, kalau ada yang bilang berdua, harusnya kita tanya dia  makan berdua sama siapa? Setuju nggak sih.”
Akhirnya teteh-teteh piket itu setuju untuk tidak lagi mudah dikacangin oleh santri-santri nakal berperut karet tersebut. Mueheheh.
Di hari kedua, si teteh-teteh petugas piket pun mulai menggunakan jurus interogasi tersebut.
“Berdua ma’a man?” tanya si Maesaroh kepada si Farhan yang untuk kesekian kalinya bilang makan berdua.
Jelas saja si Farhan gelagapan ditanya berdua sama siapa, sementara benaknya melanglang buana mencari nama yang bisa dijadikan tumbal. “Sama Asep.” Jawabnya kemudian setelah nama ‘Asep’ nyantol di benaknya yang lumayan pinter untuk urusan perut.
Si teteh-teteh mengangguk paham dan menyendok nasi dan lauk dengan dua porsi. Sementara si Farhan hanya bisa pasrah. Mau nggak mau dia harus mencari asep dan rela makan sepiring berdua bareng Asep.
Setelah menerima piring, Farhan pun langsung ngacir ke asrama dan mencari Asep. “Asep Aina Asep? Hal tandzur wein Asep?” tanya Farhan kepada si Sobar yang rebahan di dipan sembari membaca buku.
“La a’rif. la andzur asep.” Jawab Sobri dan tak lepas dari buku yang dia baca. Terpaksa si Farhan menunggu si Asep dengan perut yang mulai menyanyi. Di tempat lain, tanpa Farhan sadari Asep sedang mengantri dengan santri lainnya di mulut pintu dapur. Hingga tibalah giliran Asep menyodorkan piring.
“Makan berdua.”
“Sama siapa?”
Si Asep pun kelabakan, dan entah kebetulan atau pegimana, tiba-tiba nama Farhan terlintas di benaknya. Mungin faktor solidaritas dari kumpulan perut-perut karet sehingga nama yang muncul nama Farhan. “Sama Farhan!”
“Lho, bukannya tadi Farhan udah ngambil jatahnya.” Seru Teh Maesaroh dengan memasang muka sewot. “oh iya, dia juga tadi ngambil jatah berdua. Nama kamu siapa?”
“Saya Asep.”
“Naaah....tadi si Farhan sudah ngambil jatah kamu juga.”
Merah padamlah wajah si Asep. Tanpa menunggu lama dia segera berlari ke asarama.
“Heh, ini piringnya ambil lagi.” Seru Maesaroh dari mulut pintu dapur. Si Asep kembali ke pntu dapur untuk mengambil piring yang tertinggal dan kembali berlari ke arah asrama untuk memakan jatahnya sebelum benar-benar abis dimakan si Farhan.
Disanalah dia melihat Farhan. Di atas dipan dengan muka yang nelangsa. Demi melihat batang hidung (eh, bukan cuman batang hidungnya aja sih) si Asep, sumringahlah si Farhan. “Darimana saja sih kamu, aku nungguin kamu dari tadi.”
“Kamu nggak makan jatahku kan?”
“Ya kale gue sejahat itu.”
“Kirain.”
“Gini-gini gue juga setia kawan keles...”
“Wah, tamatlah sudah riwayat kita Han. Si teteh-teteh sudah tahu trik kita soal makan berdua.”
“Sudahlah jangan menangis lagi. Kita cukup sampai disini.”
“Apaan sih malah nyanyi!!”
Nah sob, itulah fragmen tentang trik tipu-tipu ala santri berperut karet seperti Asep dan Farhan. Adakah diantara kamu yang seperti mereka berdua. Mueheheh... BTW, itu bukan nama asli lho ya. Sengaja aku samarkan demi nama baik mereka berdua.
Kedua, mencari makanan alternatif untuk mengganjal perut yang selalu minta isi.
Nah, kalau yang satu ini sih biasanya kami mencari buah kelapa yang sudah jatuh dari pohonnya di kebun sekitar pondok. Jika ada kelapa jatuh, kami langsung mengambil kampak atau golok dan membelah kelapa tua itu. Meminum airnya dan memakan kelapanya. Hm, manis-manis gurih gitu lho.
Selain buah kelapa, kami juga biasa nyari buah kedondong masak yang sudah jatuh dari pohonnya. Rasanya manis-manis asem gitu. Pokoknya kita harus selalu ikhtiar bagiamana supaya perut kita adem tentrem nggak berontak meski uang jajan sudah habis.
Ketiga, deketin teman yang baru dianterin makanan dari rumah, disambangin ortunya atau menerima paket makanan.
Tahu nggak sih kalau anak yang baru disambangin ortunya itu mendadak jadi bintang primadona. Dia dideketin temen-temennya. Bahkan yang awalnya jadi musuh, untuk sementara akan berpura-pura jadi hamba sahaya nan baik dan tidak sombong demi mendapatkan jatah makanan dari kardus makanan.
Well, biasa sih si santri yang mendapatkan kiriman makanan dari ortu mereka selalu selektif dalam memilih teman yang ikut makan bareng mereka. Hal ini dikarenakan makanan yang ada tentu nggak cukup untuk semua santri. Jadinya paling makan bareng geng, temen dekat, teman sekasur atau paling banyakan dengan teman sekelas.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment