Keganjenan santri akan mencapai titik kulminasinya
ketika mereka berbicara tentang lawan jenisnya. Nggak percaya? Aku sendiri
ngalamin di pondok dulu, maksudku teman-temanku pernah mengalaminya dan aku
tentu saja disini hanya sebagai pencerita, bukan faktor utama. Ciyuss! Eh
tunggu dulu, tapi lagi-lagi aku ingin bilang bahwa aku nggak mau menggenalisir
lho ya. Karena nggak semua santri itu ganjen dan centil, termasuk penulis yang
kece badai ini. (wew, silakan muntah kalau kamu pengen muntah.)
Nah, konon katanya di pondok pesantren itu interaksi
antara laki-laki dan perempuan itu sangat-sangat terbatas. Nggak ada istilah
kita bisa ketemu atau ngobrol dengan makhluk bernama wanita kecuali sama ibu
atau kerabat yang nyambangin kita ketika waktu menjenguk tiba. Bahkan di ranah
kegiatan belajar mengajar pun demikian. Di beberapa pesantren, tidak dibolehkan
seorang guru perempuan mengajar di kelas laki-laki, tapi guru laki-laki untuk
beberapa keadaan dibolehkan mengajar di kelas perempuan, itu pun dengan batasan
dan hijab yang ketat. Tapi kalau di pondok penulis sendiri sih tidak demikian,
guru perempuan pun bisa mengajar di kelas laki-laki, wabil khusus di kelas
sekolah formal.
Btw, maka nggak heran jika banyak santri yang terpana
ketika melihat santriwati ada di hadapan mereka, pun sebaliknya. Kali ini aku
ingin membocorkan aksi mereka-mereka yang matanya selalu jelalatan.
Ketika author mondok dulu, kadang ada akhwat yang
lewat di depan asrama karena ada keperluan dengan adik laki-lakinya yang ada di
asrama ikhwan. Di lain kesempatan, para akhwat biasanya melintas di depan
asrama ikhwan ketika hendak berbelanja atau izin keluar. Di pondok pesantrenku,
hanya ada satu gerbang untuk keluar masuk pondok yang letaknya tepat di dekat
pondok atau asrama ikhwan, sementara asrama putri berada di belakang dipisah
oleh rumah Aa, pemimpin pondok.
Nah, ketika ada akhwat yang pada lewat dengan
menundukan wajahnya yang merona, kami eh, maksudnya mereka (karena penulis
nggak pernah ikutan ngintip) santri nan ganjen langsung merubung di dekat
jendela. Menonton para bidadari yang turun dari kayangan dengan langkah yang
tergesa.
Sebaliknya, ternyata para akhwat tak jauh beda. Mereka
seringkali bergerombol di loteng dan berbisik-bisik satu sama lain ketika ada
gerombolan ikhwan yang mengantri di mulut pintu dapur. Sesekali mereka
curi-curi pandang satu sama lain. Nah, kalau sudah begitu, nggak heran deh
kasus berkirim surat sering terjadi. Btw, ini udah aku ceritain di part awal
lho ya.
Well, perasaan dag dig dug ser ketika melihat atau
bertemu lawan jenis sih wajar. Cuman kita dituntut untuk menjaga hati dan
perasaan serta menjaga iman sehingga panah-panah cupid yang dilontarkan setan
tida tepat sasaran.
Pernah ada lho kasus seorang santri atau santriwati
yang dikeluarkan dari pondok gara-gara sering pacaran. Et dah, itu mondok di
pesantren mau belajar atau nyari jodoh sih. Bahkan, penulis juga pernah
mendengar berita tentang santriwati yang justru hamil di luar nikah ketika
mondok, atau ustadz yang berbuat mesum dengan santrinya dan semacamnya. Lagi-lagi
penulis mohon maaf nih ya. Bukan berarti menggenalisir. Kasus ini tidak sebanding
dengan kontribusi pesantren yang luar biasa. Boleh dikatakan nol koma nol nol
sekian persen dari semua pesantren di seantero nusantara.
Penulis juga bukan bermaksud menjatuhkan atau mencap
negatif pesantren. Toh penulis sendiri seorang insan pesantren yang telah
merasakan manisnya kehidupan di pondok bertahun-tahun lamanya. Sangat tidak
adil jika kamu-kamu memandang nyinyir pesantren hanya karena seupil kasus yang
tidak layak untuk digeneralisir.
Btw, kalo kamu punya kisah-kisah unik selama mondok,
bisa kok bagi-bagi disini.

No comments:
Post a Comment