17 Apr 2020

Perkara Mata yang Selalu Jelalatan


Keganjenan santri akan mencapai titik kulminasinya ketika mereka berbicara tentang lawan jenisnya. Nggak percaya? Aku sendiri ngalamin di pondok dulu, maksudku teman-temanku pernah mengalaminya dan aku tentu saja disini hanya sebagai pencerita, bukan faktor utama. Ciyuss! Eh tunggu dulu, tapi lagi-lagi aku ingin bilang bahwa aku nggak mau menggenalisir lho ya. Karena nggak semua santri itu ganjen dan centil, termasuk penulis yang kece badai ini. (wew, silakan muntah kalau kamu pengen muntah.)
Nah, konon katanya di pondok pesantren itu interaksi antara laki-laki dan perempuan itu sangat-sangat terbatas. Nggak ada istilah kita bisa ketemu atau ngobrol dengan makhluk bernama wanita kecuali sama ibu atau kerabat yang nyambangin kita ketika waktu menjenguk tiba. Bahkan di ranah kegiatan belajar mengajar pun demikian. Di beberapa pesantren, tidak dibolehkan seorang guru perempuan mengajar di kelas laki-laki, tapi guru laki-laki untuk beberapa keadaan dibolehkan mengajar di kelas perempuan, itu pun dengan batasan dan hijab yang ketat. Tapi kalau di pondok penulis sendiri sih tidak demikian, guru perempuan pun bisa mengajar di kelas laki-laki, wabil khusus di kelas sekolah formal.
Btw, maka nggak heran jika banyak santri yang terpana ketika melihat santriwati ada di hadapan mereka, pun sebaliknya. Kali ini aku ingin membocorkan aksi mereka-mereka yang matanya selalu jelalatan.
Ketika author mondok dulu, kadang ada akhwat yang lewat di depan asrama karena ada keperluan dengan adik laki-lakinya yang ada di asrama ikhwan. Di lain kesempatan, para akhwat biasanya melintas di depan asrama ikhwan ketika hendak berbelanja atau izin keluar. Di pondok pesantrenku, hanya ada satu gerbang untuk keluar masuk pondok yang letaknya tepat di dekat pondok atau asrama ikhwan, sementara asrama putri berada di belakang dipisah oleh rumah Aa, pemimpin pondok.
Nah, ketika ada akhwat yang pada lewat dengan menundukan wajahnya yang merona, kami eh, maksudnya mereka (karena penulis nggak pernah ikutan ngintip) santri nan ganjen langsung merubung di dekat jendela. Menonton para bidadari yang turun dari kayangan dengan langkah yang tergesa.
Sebaliknya, ternyata para akhwat tak jauh beda. Mereka seringkali bergerombol di loteng dan berbisik-bisik satu sama lain ketika ada gerombolan ikhwan yang mengantri di mulut pintu dapur. Sesekali mereka curi-curi pandang satu sama lain. Nah, kalau sudah begitu, nggak heran deh kasus berkirim surat sering terjadi. Btw, ini udah aku ceritain di part awal lho ya.
Well, perasaan dag dig dug ser ketika melihat atau bertemu lawan jenis sih wajar. Cuman kita dituntut untuk menjaga hati dan perasaan serta menjaga iman sehingga panah-panah cupid yang dilontarkan setan tida tepat sasaran.
Pernah ada lho kasus seorang santri atau santriwati yang dikeluarkan dari pondok gara-gara sering pacaran. Et dah, itu mondok di pesantren mau belajar atau nyari jodoh sih. Bahkan, penulis juga pernah mendengar berita tentang santriwati yang justru hamil di luar nikah ketika mondok, atau ustadz yang berbuat mesum dengan santrinya dan semacamnya. Lagi-lagi penulis mohon maaf nih ya. Bukan berarti menggenalisir. Kasus ini tidak sebanding dengan kontribusi pesantren yang luar biasa. Boleh dikatakan nol koma nol nol sekian persen dari semua pesantren di seantero nusantara.
Penulis juga bukan bermaksud menjatuhkan atau mencap negatif pesantren. Toh penulis sendiri seorang insan pesantren yang telah merasakan manisnya kehidupan di pondok bertahun-tahun lamanya. Sangat tidak adil jika kamu-kamu memandang nyinyir pesantren hanya karena seupil kasus yang tidak layak untuk digeneralisir.
Btw, kalo kamu punya kisah-kisah unik selama mondok, bisa kok bagi-bagi disini.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment