17 Apr 2020

Kesurupan dan Kisah Horor lainnya


Seumur hidup, aku belum pernah mengalami pengalaman horor yang bikin bulu ketek, eh, bulu kuduk merinding. Hanya saja, aku pernah mendengar kisah-kisah horor dari teman-temanku sesama santri. Entah mereka jujur atau hanya membual. Tapi yang jelas, memang seringkali ada kisah-kisah yang memang benar terjadi dan tidak bisa dipungiri. Toh pada dasarnya islam sendiri tidak menyangkal adanya ‘dunia lain’. Sayangnya, seringkali tayangan-tayangan di televisi atau majalah klenik memunculkan kisah bahwa seakan-akan ‘setan dkk’ memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh manusia. Seakan-akan manusia adalah makhluk lemah yang tidak bisa ngapa-ngapain di hadapan setan dengan berlusin-lusin namanya.
Padahal justru di dalam islam disebutkan manusia adalah makhluk yang unggul dan sempurna. Setan dan jin tidak memiliki kekuasaan apa pun terhadap kehidupan kita, tentunya karena seorang musim yang sejati memiliki sandaran yang Maha Kuat, Allah swt.
Oke, di part ini aku akan mencoba mengisahkan ulang kisah-kisah yang aku dengar dari pengakuan teman-teman dan beberapa pengalaman penulis sendiri.
Pertama, kasus kesurupan
Aku masih ingat ketika suatu malam, ada teriakan-teriakan dan tangisan yang terdengar dari asrama akhwat. Teriakannya keras banget, sampai-sampai kami bertanya-tanya, ada apakah gerangan?
Kemudian ada informasi bahwa ada seorang akhwat yang kesurupan, masih mending nggak jadi kesurupan masal yang sambung menyambung menjadi satu, itulah indonesia. (eh, nggak nyambung ya.)
Karena penasaran, aku pun bertanya ke keponakanku yang sama-sama nyanti dan tentu saja seasrama dengan si akhwat yang kesurupan.
“Tadi ada yang kesurupan ya?” tanyaku penasaran.
“Iya, ngeri baget. Berjam-jam dia nggak mau keluar?”
“Apanya yang nggak mau keluar?”
“Jinnya.”
“Ada yang bilang sih katanya itu jin udah nemenin dia sejak lama, sebelum dia masuk pondok gitu. Konon akinya itu punya ilmu kanuragaan dan si jin mau nggak mau nurun ke anak cucunya.”
Dan kisah yang sama juga saya alami ketika mondok di sebuah ma’had di kota bogor. Saat itu ada seorang teman yang sering banget kerasukan jin. Jin itu akan datang merasuki si korban ketika korbannya tengah sendirian atau tengah melamun nggak jelas. Makanya ustadz kami sering mewanti-wanti kami supaya menyibukan diri dengan berbagai kegiatan, terutama berdzikir dan membaca al-quran.
“Jika hati kosong, maka setan akan sangat mudah menguasai hati kita. Tapi jika hati kita diisi dengan selalu mengingat Allah swt, maka tidak ada tempat bagi setan untuk menguasai jiwa kita.”
Hingga pada suatu hari, ketika kami para santri sedang melakukan pelatihan ruqyah syar’iyah, tiba-tiba Toni, teman kami kerasukan.
Awalnya kami disuruh oleh ustadz untuk berpasangan dengan teman masing-masing dan meruqyah temannya dengan ayat-ayat yang diajarkan. Saat itu, Abdullah meruqyah Toni, teman seasramanya.
“Bacakan ayat-ayat tersebut di telinga kanan teman kalian, dan yang dibacakan harap diam dan memejamkan mata.” Pinta ustadz kepada kami.
Si Abdullah pun membacakan ayat-ayat ruqyah hingga ketika sampai di pertengahan, tiba-tiba Toni bereaksi. Telinganya bergerak-gerak dan matanya membelalak.
Si Abdullah menghentikan bacaannya, kelabakan dan menatap ustadz untuk meminta saran.
“Lanjutkan bacaanmu.” Seru ustadz. Akhirnya mau tak mau Abdullah melanjutkan bacaannya sehingga si Toni semakin tak terkendali.
“Coba kalian bantu Abdullah, pegang tuh si Toni.” Kami yang berada di sekelilingnya langsung mendekati Toni dan memegangi pundak, tangan dan kakinya. Sementara Abdullah melanjutkan bacaan ruqyahnya.
“Mau apa kalian?” seru si Toni dengan mata yang membeliak, sampai-sampai hitam pupilnya tidak lagi kelihatan. Bahkan suara yang keluar bukan suara Toni. Suaranya lebih berat.
“Kami hanya ingin kamu keluar dari tubuh teman kami, Toni.”
“Jangan ganggu aku. Aku ini sudah berdiam diri di sini belasan tahun. Kalian tidak boleh ganggu aku.” Geram suara itu dengan dialek medan.
“Kamu tidak berhak diam di tubuh Toni. Toni tidak ingin kamu berada disini.”
“Jangan sok tahu. Aku ini pembantu kakeknya. Kakeknya yang bilang aku harus jaga anak cucunya.”
“Kamu bukan menjaganya, tapi justru kamu membuat Toni tak tenang.” Seru ustadz kami. Kali ini dia yang mengambil alih. Dia meminta kami semua untuk membaca ayat-ayat ruqyah bersama-sama. Semakin keras dan banyak yang membaca ayat ruqyah, semakin jin itu berulah. Sampai-sampai kami sendiri kewalahan. Tapi lambat tapi pasti, Toni sudah kembali sadar setelah muntah dua kali. Dan setelah itu dia pingsan.
Keesokan harinya, kami langsung bertanya kepada Toni tentang pengakuan si jin.
“Eh, bener nggak sih kalo Jin yang menghuni tubuh kamu itu piaraan ompung kamu?” tanyaku penasaran.
Si Toni mengangguk pelan. “Iya, dulu Ompung katanya minta bantuan sama Jin. Tapi anehnya bapakku tidak pernah ngalamin kayak ginian. Cuman aku yang ngalamin.” Aku si Toni.
Syukur alhamdulillah, semenjak ruqyah tersebut, dan ditambah beberapa kali ruqyah, Toni terbebas dari gangguan jin warisan.
Selain kesurupan, aku juga pernah mendengar tentang hantu-hantu ala pondok. Salahsatunya adalah pengakuan Rofik yang mengaku mendengar suara-suara aneh dari kelas ketika malam tiba.
Ceritanya, saat itu rofiq tengah bertugas ronda dengan tiga temannya. Di pondok pesantren kami ada dua sift ronda setiap malamnya. Sift pertama dari jam 9 malam hingga jam 12 malam. Kemudian sift kedua dari jam 12 hingga jam 3 dini hari. Kebetulan rofik kebagian jadwal sift kedua.
Ketika tengah berkeliling di koridor kelas, Rofiq mengaku mendengar suara kursi yang digeser di atas lantai. Dia pikir ada santri yang tidur di kelas. Sudah menjadi kebiasaan bahwa santri iseng tidur di kelas karena mencari suasana baru. Meski hal ini seringkali dilarang oleh mudir.
Rofiq menyorot senter ke dalam ruang kelas, tapi dia tidak menemukan siapa pun di dalam kelas. Rofiq pun segera beranjak dari koridor kelas dengan hati yang dag dig dug tak karuan. Lebih-lebih dia hanya sendirian, sementara dua temannya ketiduran di teras depan setelah menghabiskan snack jatah ronda. Hm, nasibnya ronda sama orang pemalas.
Lain cerita rofiq, lain pula cerita Hadi. Dia mengaku sering mendengar suara tuts-tuts komputer dan suara lembaran kertas yang dibuka dari ruang TU.  Kejadiannya sama persis ketika ronda.
Nah, kalau kamu sendiri, punya cerita horor apa ketika nyantri? Bagi-bagi disini ya...

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment