Seumur hidup, aku belum pernah mengalami pengalaman
horor yang bikin bulu ketek, eh, bulu kuduk merinding. Hanya saja, aku pernah
mendengar kisah-kisah horor dari teman-temanku sesama santri. Entah mereka
jujur atau hanya membual. Tapi yang jelas, memang seringkali ada kisah-kisah
yang memang benar terjadi dan tidak bisa dipungiri. Toh pada dasarnya islam
sendiri tidak menyangkal adanya ‘dunia lain’. Sayangnya, seringkali
tayangan-tayangan di televisi atau majalah klenik memunculkan kisah bahwa
seakan-akan ‘setan dkk’ memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan oleh
manusia. Seakan-akan manusia adalah makhluk lemah yang tidak bisa ngapa-ngapain
di hadapan setan dengan berlusin-lusin namanya.
Padahal justru di dalam islam disebutkan manusia
adalah makhluk yang unggul dan sempurna. Setan dan jin tidak memiliki kekuasaan
apa pun terhadap kehidupan kita, tentunya karena seorang musim yang sejati
memiliki sandaran yang Maha Kuat, Allah swt.
Oke, di part ini aku akan mencoba mengisahkan ulang
kisah-kisah yang aku dengar dari pengakuan teman-teman dan beberapa pengalaman
penulis sendiri.
Pertama, kasus kesurupan
Aku masih ingat ketika suatu malam, ada
teriakan-teriakan dan tangisan yang terdengar dari asrama akhwat. Teriakannya
keras banget, sampai-sampai kami bertanya-tanya, ada apakah gerangan?
Kemudian ada informasi bahwa ada seorang akhwat yang
kesurupan, masih mending nggak jadi kesurupan masal yang sambung menyambung
menjadi satu, itulah indonesia. (eh, nggak nyambung ya.)
Karena penasaran, aku pun bertanya ke keponakanku yang
sama-sama nyanti dan tentu saja seasrama dengan si akhwat yang kesurupan.
“Tadi ada yang kesurupan ya?” tanyaku penasaran.
“Iya, ngeri baget. Berjam-jam dia nggak mau keluar?”
“Apanya yang nggak mau keluar?”
“Jinnya.”
“Ada yang bilang sih katanya itu jin udah nemenin dia
sejak lama, sebelum dia masuk pondok gitu. Konon akinya itu punya ilmu
kanuragaan dan si jin mau nggak mau nurun ke anak cucunya.”
Dan kisah yang sama juga saya alami ketika mondok di
sebuah ma’had di kota bogor. Saat itu ada seorang teman yang sering banget
kerasukan jin. Jin itu akan datang merasuki si korban ketika korbannya tengah
sendirian atau tengah melamun nggak jelas. Makanya ustadz kami sering
mewanti-wanti kami supaya menyibukan diri dengan berbagai kegiatan, terutama
berdzikir dan membaca al-quran.
“Jika hati kosong, maka setan akan sangat mudah
menguasai hati kita. Tapi jika hati kita diisi dengan selalu mengingat Allah
swt, maka tidak ada tempat bagi setan untuk menguasai jiwa kita.”
Hingga pada suatu hari, ketika kami para santri sedang
melakukan pelatihan ruqyah syar’iyah, tiba-tiba Toni, teman kami kerasukan.
Awalnya kami disuruh oleh ustadz untuk berpasangan
dengan teman masing-masing dan meruqyah temannya dengan ayat-ayat yang
diajarkan. Saat itu, Abdullah meruqyah Toni, teman seasramanya.
“Bacakan ayat-ayat tersebut di telinga kanan teman
kalian, dan yang dibacakan harap diam dan memejamkan mata.” Pinta ustadz kepada
kami.
Si Abdullah pun membacakan ayat-ayat ruqyah hingga
ketika sampai di pertengahan, tiba-tiba Toni bereaksi. Telinganya bergerak-gerak
dan matanya membelalak.
Si Abdullah menghentikan bacaannya, kelabakan dan
menatap ustadz untuk meminta saran.
“Lanjutkan bacaanmu.” Seru ustadz. Akhirnya mau tak
mau Abdullah melanjutkan bacaannya sehingga si Toni semakin tak terkendali.
“Coba kalian bantu Abdullah, pegang tuh si Toni.” Kami
yang berada di sekelilingnya langsung mendekati Toni dan memegangi pundak,
tangan dan kakinya. Sementara Abdullah melanjutkan bacaan ruqyahnya.
“Mau apa kalian?” seru si Toni dengan mata yang
membeliak, sampai-sampai hitam pupilnya tidak lagi kelihatan. Bahkan suara yang
keluar bukan suara Toni. Suaranya lebih berat.
“Kami hanya ingin kamu keluar dari tubuh teman kami,
Toni.”
“Jangan ganggu aku. Aku ini sudah berdiam diri di sini
belasan tahun. Kalian tidak boleh ganggu aku.” Geram suara itu dengan dialek
medan.
“Kamu tidak berhak diam di tubuh Toni. Toni tidak
ingin kamu berada disini.”
“Jangan sok tahu. Aku ini pembantu kakeknya. Kakeknya yang
bilang aku harus jaga anak cucunya.”
“Kamu bukan menjaganya, tapi justru kamu membuat Toni
tak tenang.” Seru ustadz kami. Kali ini dia yang mengambil alih. Dia meminta kami
semua untuk membaca ayat-ayat ruqyah bersama-sama. Semakin keras dan banyak
yang membaca ayat ruqyah, semakin jin itu berulah. Sampai-sampai kami sendiri
kewalahan. Tapi lambat tapi pasti, Toni sudah kembali sadar setelah muntah dua
kali. Dan setelah itu dia pingsan.
Keesokan harinya, kami langsung bertanya kepada Toni
tentang pengakuan si jin.
“Eh, bener nggak sih kalo Jin yang menghuni tubuh kamu
itu piaraan ompung kamu?” tanyaku penasaran.
Si Toni mengangguk pelan. “Iya, dulu Ompung katanya
minta bantuan sama Jin. Tapi anehnya bapakku tidak pernah ngalamin kayak
ginian. Cuman aku yang ngalamin.” Aku si Toni.
Syukur alhamdulillah, semenjak ruqyah tersebut, dan
ditambah beberapa kali ruqyah, Toni terbebas dari gangguan jin warisan.
Selain kesurupan, aku juga pernah mendengar tentang
hantu-hantu ala pondok. Salahsatunya adalah pengakuan Rofik yang mengaku
mendengar suara-suara aneh dari kelas ketika malam tiba.
Ceritanya, saat itu rofiq tengah bertugas ronda dengan
tiga temannya. Di pondok pesantren kami ada dua sift ronda setiap malamnya. Sift
pertama dari jam 9 malam hingga jam 12 malam. Kemudian sift kedua dari jam 12
hingga jam 3 dini hari. Kebetulan rofik kebagian jadwal sift kedua.
Ketika tengah berkeliling di koridor kelas, Rofiq
mengaku mendengar suara kursi yang digeser di atas lantai. Dia pikir ada santri
yang tidur di kelas. Sudah menjadi kebiasaan bahwa santri iseng tidur di kelas
karena mencari suasana baru. Meski hal ini seringkali dilarang oleh mudir.
Rofiq menyorot senter ke dalam ruang kelas, tapi dia
tidak menemukan siapa pun di dalam kelas. Rofiq pun segera beranjak dari
koridor kelas dengan hati yang dag dig dug tak karuan. Lebih-lebih dia hanya
sendirian, sementara dua temannya ketiduran di teras depan setelah menghabiskan
snack jatah ronda. Hm, nasibnya ronda sama orang pemalas.
Lain cerita rofiq, lain pula cerita Hadi. Dia mengaku
sering mendengar suara tuts-tuts komputer dan suara lembaran kertas yang dibuka
dari ruang TU. Kejadiannya sama persis
ketika ronda.
Nah, kalau kamu sendiri, punya cerita horor apa ketika
nyantri? Bagi-bagi disini ya...

No comments:
Post a Comment