Akhir-akhir ini di KBM saya membaca beberapa artikel terkait
sekte syiah. Terlepas dari pro da kontra, saya hanya bisa berpesan kepada
teman-teman semuanya untuk selalu berpikir terbuka, berpikir untuk mencari
kebenaran dan tentunya tidak mencampakan sikap adil.
Sebagian orang mengatakan bahwa tema ini sangat sensitif
sehingga tidak layak untuk didiskusikan. Mereka beranggapan bahwa tema ini
hanya bisa mendatangkan keributan dan permusuhan. Tapi benarkah? Tolak ukur
sensitif itu bukan karena tema itu bertentangan. Karena justru kita butuh untuk
terbuka dan mencari titik dimana kita bisa mendapatkan kebenaran dari
pertentangan tersebut.
Tapi terlepas dari semua itu, saya tidak akan pernah berani
mengkafirkan semua orang syiah? Apa? Jangan kau anggap aku pro syiah. Apalagi
dibilang orang syiah. Sebagaimana saya baca komentar teman-teman terhadap
seorang teman sunni yang menulis tentang syiah.
Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya tidak berani
dengan tegas mengkafirkan semua orang yang mengaku syiah?
Pertama, syiah adalah ideologi sesat yang menyebar dan
menjadi ideologi resmi di Iran. Di beberapa negara, syiah juga banyak pengikut yang
banyak seperti di India, Pakistan, dan yaman. Dari semua orang iran tersebut,
yang mereka tahu islam itu syiah, dan syiah itu ya Islam. Apakah adil jika kita
memukul rata bahwa semua orang iran itu kafir? Analoginya, ketika PKI berkuasa
di tanah air, saya kurang yakin jika para suporter PKI adalah orang-orang
komunis semua. Mereka hanyalah korban ideologi dan propaganda negara. Mereka
hanya tahu bahwa mencintai ahlul bait itu harus syiah.
Kedua, saya banyak berteman dengan orang-orang syiah asal
Iran, India dan Pakistan, dan saya berani mengatakan bahwa 50% dari mereka
sangat baik dan memiliki pemikiran yang terbuka dan moderat.
Eits, jangan dulu nyinyir. Jangan pula membully saya. Saya
punya prinsip dan aqidah yang bersih. Bagi saya, siapa pun yang mencaci aisyah
dan tiga khilafah, maka saya tidak akan pernah mentolerirnya. Bagaimana
perasaan kita ketika ada orang yang mencaci ibu kita? Kita akan marah
semarah-marahnya, tentu saja. Apatah lagi ini Ibunda Aisyah, ibu kaum muslimin.
Terbuat dari apa hati kita jika kita masih bermesraan dengan orang yang mencaci
dan membencinya.
Oleh karena itu, jika ada teman saya yang dengan
terang-terangan menyebut ketidaksukaannya kepada beliau, auto saya blokir.
Adapun teman-teman yang berpikiran terbuka dan moderat, mereka sama-sama
manusia yang layak untuk dipergauli dengan layak. Toh urusan hati siapa yang
tahu.
Bisa jadi kan mereka taqiyah. Ya, tentu saja. Bisa jadi.
Tapi bukan hal yang mustahil juga jika mereka memiliki hati yang tulus. Apakah
kamu yakin bahwa 100% orang iran itu jahat? Itu sangat mengada-ada. Ayolah,
darimana pun orangnya berasal, apa pun agamanya, orang baik dan buruk itu
selalu ada. Bahkan orang israel sekalipun. Konon ada kelompok hak asasi israel
yang gigih memperjuangkan hak-hak orang-orang palestina sampai-sampai
dipersekusi oleh sesama yahudi.
Kembali ke tema, saya punya teman syiah asal afghanistan dan
pakistan. Ketika saya mengajak mereka berdiskusi tentang sunni-syiah, mereka
selalu menghindar dengan berbagai alasan.
“Aku tidak tahu menahu tentang agama, tanya saja syaikh.”
“Aku tidak ingin pertemanan kita jadi memudar hanya karena
perbedaan ini.”
“Please, tinggalkan percakapan ini. Aku merasa tidak nyaman
mendiskusikannya.”
“Masa bodoh dengan semua ini. Aku orang sekuler. Aku tak
peduli dengan agamaku.”
You see! Banyak beragam jawaban. Ada diantara mereka yang
moderat, masa bodoh bahkan sekuler. Semoga saja, dengan dekatnya kita kepada
mereka, bisa membuka hati mereka untuk mengakui bahwa hanya sunnilah islam yang
sejati.
Ketiga, andai ‘orang syiah’ dipukul rata sebagai orang yang
sesat, lalu kenapa Arab Saudi masih membuka pintu untuk para peziarah yang
datang dari Iran? Kenapa tidak tegas dikatakan, ‘Syiah itu bukan islam?” Karena
urusan ini rumit. Memang syiah itu sesat dan menyimpang, tapi kita tidak bisa
tahu pasti, sesiapa yang sesat tersebut.
Sebagian orang menyatakan Syiah dan Suni adalah saudara.
Lantas, kalau memang benar adanya demikian, buat apa kita bertengkar? Sekilas
ungkapan itu bisa jadi betul, tapi membias. Jawabannya justru karena kita
bersaudara, kita harus waspada, kalau orang lain mungkin bisa kita abaikan.
Bukankah Qabil yang membunuh Habil? Bukankah Kan'an yang
durhaka kepada Ayahnya Nabi Nuh? Bukankah Azar, bapak Nabi Ibrahim yang pemarah
lagi kafir, bahkan hendak merajamnya? Bukankah saudara-saudara kandung Nabi
Yusuf yang dahulu melakukan makar dan hendak membunuhnya?
Bukankah kerabat terdekat yang paling besar perlawanannya
kepada Nabi Muhammad? Dan, masih banyak kisah perselisihan di dalam satu tubuh.
Lihat saja bagaimana keadaan lingkungan keluarga dan negeri kita tercinta,
terlahir dari rahim yang sama ibu pertiwi, tapi selalu bertengkar, hujat
menghujat, bahkan saling memenjarakan.
Jika ada orang yang suka membid'ahkan, mudah mengatakan
syirik, menuduh sesat kepada sesama saja menjadi masalah besar, lantas
bagaimana dengan orang-orang yang terang-terangan suka mengafirkan para sahabat
yang jelas dijamin surga.
Begitu juga orang yang terang-terangan melaknat
keluarga/istri Nabi Muhammad dalam ritual peribadatan mereka, mendewakan Ali
bin Abi Thalib dari selainnya, kemudian memuliakan pembunuh Umar bin Khatab,
yaitu Abu Lulu al-Majusi. Lalu, mereka yang meratapi kematian Hasan dan Husain
dengan melukai diri dan teriakan histeris, kawin kontrak dilegalkan, pembuat
hadis palsu pertama dalam sejarah Islam, serta segudang penyimpangan lainnya?
Maka, dari sini bisa kita tarik kesimpulan
Pertama, kesesatan syiah tidak bisa diperdebatkan lagi.
Karena sejatinya syiah adalah sesat
Kedua, bedakan antara ‘paham syiah’ dan ‘orang syiah.’ Jika
paham syiah sudah jelas-jelas sesat. Tapi tidak semua orang bisa kita sebut
murtad atau non-muslim.
Ketiga, boleh saja kita berteman atau berinteraksi dengan
mereka yang tidak ghulat dan tidak memiliki pandangan ekstrim.
Keempat, hendaknya kita selalu memiliki pegangan dan prinsip
yang benar terhadap kemurnian islam
Semoga Allah menjaga kita dari paham-paham yang menyesatkan.
Dan semoga Allah jadikan kita manusia yang adil.

No comments:
Post a Comment