22 Apr 2020

JANGAN SEMBARANGAN "MENGKAFIRKAN" ORANG SYIAH


Akhir-akhir ini di KBM saya membaca beberapa artikel terkait sekte syiah. Terlepas dari pro da kontra, saya hanya bisa berpesan kepada teman-teman semuanya untuk selalu berpikir terbuka, berpikir untuk mencari kebenaran dan tentunya tidak mencampakan sikap adil.
Sebagian orang mengatakan bahwa tema ini sangat sensitif sehingga tidak layak untuk didiskusikan. Mereka beranggapan bahwa tema ini hanya bisa mendatangkan keributan dan permusuhan. Tapi benarkah? Tolak ukur sensitif itu bukan karena tema itu bertentangan. Karena justru kita butuh untuk terbuka dan mencari titik dimana kita bisa mendapatkan kebenaran dari pertentangan tersebut.
Tapi terlepas dari semua itu, saya tidak akan pernah berani mengkafirkan semua orang syiah? Apa? Jangan kau anggap aku pro syiah. Apalagi dibilang orang syiah. Sebagaimana saya baca komentar teman-teman terhadap seorang teman sunni yang menulis tentang syiah.
Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya tidak berani dengan tegas mengkafirkan semua orang yang mengaku syiah?
Pertama, syiah adalah ideologi sesat yang menyebar dan menjadi ideologi resmi di Iran. Di beberapa negara, syiah juga banyak pengikut yang banyak seperti di India, Pakistan, dan yaman. Dari semua orang iran tersebut, yang mereka tahu islam itu syiah, dan syiah itu ya Islam. Apakah adil jika kita memukul rata bahwa semua orang iran itu kafir? Analoginya, ketika PKI berkuasa di tanah air, saya kurang yakin jika para suporter PKI adalah orang-orang komunis semua. Mereka hanyalah korban ideologi dan propaganda negara. Mereka hanya tahu bahwa mencintai ahlul bait itu harus syiah.
Kedua, saya banyak berteman dengan orang-orang syiah asal Iran, India dan Pakistan, dan saya berani mengatakan bahwa 50% dari mereka sangat baik dan memiliki pemikiran yang terbuka dan moderat.
Eits, jangan dulu nyinyir. Jangan pula membully saya. Saya punya prinsip dan aqidah yang bersih. Bagi saya, siapa pun yang mencaci aisyah dan tiga khilafah, maka saya tidak akan pernah mentolerirnya. Bagaimana perasaan kita ketika ada orang yang mencaci ibu kita? Kita akan marah semarah-marahnya, tentu saja. Apatah lagi ini Ibunda Aisyah, ibu kaum muslimin. Terbuat dari apa hati kita jika kita masih bermesraan dengan orang yang mencaci dan membencinya.
Oleh karena itu, jika ada teman saya yang dengan terang-terangan menyebut ketidaksukaannya kepada beliau, auto saya blokir. Adapun teman-teman yang berpikiran terbuka dan moderat, mereka sama-sama manusia yang layak untuk dipergauli dengan layak. Toh urusan hati siapa yang tahu.
Bisa jadi kan mereka taqiyah. Ya, tentu saja. Bisa jadi. Tapi bukan hal yang mustahil juga jika mereka memiliki hati yang tulus. Apakah kamu yakin bahwa 100% orang iran itu jahat? Itu sangat mengada-ada. Ayolah, darimana pun orangnya berasal, apa pun agamanya, orang baik dan buruk itu selalu ada. Bahkan orang israel sekalipun. Konon ada kelompok hak asasi israel yang gigih memperjuangkan hak-hak orang-orang palestina sampai-sampai dipersekusi oleh sesama yahudi.
Kembali ke tema, saya punya teman syiah asal afghanistan dan pakistan. Ketika saya mengajak mereka berdiskusi tentang sunni-syiah, mereka selalu menghindar dengan berbagai alasan.
“Aku tidak tahu menahu tentang agama, tanya saja syaikh.”
“Aku tidak ingin pertemanan kita jadi memudar hanya karena perbedaan ini.”
“Please, tinggalkan percakapan ini. Aku merasa tidak nyaman mendiskusikannya.”
“Masa bodoh dengan semua ini. Aku orang sekuler. Aku tak peduli dengan agamaku.”
You see! Banyak beragam jawaban. Ada diantara mereka yang moderat, masa bodoh bahkan sekuler. Semoga saja, dengan dekatnya kita kepada mereka, bisa membuka hati mereka untuk mengakui bahwa hanya sunnilah islam yang sejati.
Ketiga, andai ‘orang syiah’ dipukul rata sebagai orang yang sesat, lalu kenapa Arab Saudi masih membuka pintu untuk para peziarah yang datang dari Iran? Kenapa tidak tegas dikatakan, ‘Syiah itu bukan islam?” Karena urusan ini rumit. Memang syiah itu sesat dan menyimpang, tapi kita tidak bisa tahu pasti, sesiapa yang sesat tersebut.
Sebagian orang menyatakan Syiah dan Suni adalah saudara. Lantas, kalau memang benar adanya demikian, buat apa kita bertengkar? Sekilas ungkapan itu bisa jadi betul, tapi membias. Jawabannya justru karena kita bersaudara, kita harus waspada, kalau orang lain mungkin bisa kita abaikan.
Bukankah Qabil yang membunuh Habil? Bukankah Kan'an yang durhaka kepada Ayahnya Nabi Nuh? Bukankah Azar, bapak Nabi Ibrahim yang pemarah lagi kafir, bahkan hendak merajamnya? Bukankah saudara-saudara kandung Nabi Yusuf yang dahulu melakukan makar dan hendak membunuhnya?
Bukankah kerabat terdekat yang paling besar perlawanannya kepada Nabi Muhammad? Dan, masih banyak kisah perselisihan di dalam satu tubuh. Lihat saja bagaimana keadaan lingkungan keluarga dan negeri kita tercinta, terlahir dari rahim yang sama ibu pertiwi, tapi selalu bertengkar, hujat menghujat, bahkan saling memenjarakan.
Jika ada orang yang suka membid'ahkan, mudah mengatakan syirik, menuduh sesat kepada sesama saja menjadi masalah besar, lantas bagaimana dengan orang-orang yang terang-terangan suka mengafirkan para sahabat yang jelas dijamin surga.
Begitu juga orang yang terang-terangan melaknat keluarga/istri Nabi Muhammad dalam ritual peribadatan mereka, mendewakan Ali bin Abi Thalib dari selainnya, kemudian memuliakan pembunuh Umar bin Khatab, yaitu Abu Lulu al-Majusi. Lalu, mereka yang meratapi kematian Hasan dan Husain dengan melukai diri dan teriakan histeris, kawin kontrak dilegalkan, pembuat hadis palsu pertama dalam sejarah Islam, serta segudang penyimpangan lainnya?
Maka, dari sini bisa kita tarik kesimpulan
Pertama, kesesatan syiah tidak bisa diperdebatkan lagi. Karena sejatinya syiah adalah sesat
Kedua, bedakan antara ‘paham syiah’ dan ‘orang syiah.’ Jika paham syiah sudah jelas-jelas sesat. Tapi tidak semua orang bisa kita sebut murtad atau non-muslim.
Ketiga, boleh saja kita berteman atau berinteraksi dengan mereka yang tidak ghulat dan tidak memiliki pandangan ekstrim.
Keempat, hendaknya kita selalu memiliki pegangan dan prinsip yang benar terhadap kemurnian islam
Semoga Allah menjaga kita dari paham-paham yang menyesatkan. Dan semoga Allah jadikan kita manusia yang adil.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment