Ketika aku kecil, ibu sering sekali membohongiku.
Ketika waktu makan tiba, ibu seringkali bilang, “Makanlah nak,
emak belum lapar.”
Ketika ada lauk pauk yang lebih mewah dari biasanya, ibu
selalu bilang kepadaku, “makanlah nak, Emak tidak suka ikan/ayam.”
Ketika aku sakit, di tengah malam yang sepi, ibu selalu
bangun dan mengeloniku sembari berkata, “Tidurlah nak, emak belum ngantuk.”
Dan sekarang, ketika aku sudah dewasa dan sudah bisa bekerja
sendiri, memiliki penghasilan meski tidak seberapa, ibu selalu bilang, “uangnya
ditabung aja nak, simpan buat keperluan hidupmu. Emak masih punya uang. Jangan khawatir.”
Itu yang selalu ia katakan ketika aku ingin memberikan sebagian uangku kepada
emak.
Dan, ketika beliau sakit dan berbaring di ranjang, sementara
aku menangis di sampingnya, emak justru tersenyum dan berkata, “Jangan nangis
kasep, emak nggak kenapa-napa.”
Emak,
Keilkhlasan, pengorbanan dan cintamu kepadaku tidak pernah
bisa aku hitung dan aku tebus meski dengan segunung emas sekalipun. Tak pernah
bisa diganti dengan materi. Engkau selalu menganggapku anak kecil yang selalu
membuatmu khawatir. Tapi engkau tidak pernah membiarkanku khawatir terhadap
dirimu.
Mak, maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan
kebahagiaan dan belum bisa memberikan bakti yang sempurna.
Doakan mak. Doakan semoga aku selalu bisa membuat emak
tersenyum
Dan doakan anakmu ini semoga bisa membuatmu bahagia hingga
ajal menjemput.

No comments:
Post a Comment