26 Apr 2020

FEMINISME DAN PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP LELAKI


Yang namanya ekstrimisme selalu melahirkan orang-orang yang keblinger. Ekstrimisme itu ada dalam semua ideologi dan faham. Ekstrimisme dalam agama islam melahirkan orang-orang khawarij dan syiah. Pun dalam-dalam faham dan agama yang lainnya. sayangnya, selama ini kita hanya mengenal istilah ekstrimisme yang selalu dilekatkan pada islam. Padahal betapa banyak kasus ekstrimisme dalam agama lainnya, termasuk faham-faham lainnya. Ada esktrimisme sekuler yang memberangus kebebasan beragama. Bahkan ada ekstrimisme dalam feminisme yang membuat para wanita bertingkah kebablasan dan selalu mencari pebenaran atas setiap kesalahan yang mereka lakukan. Maka pada akhirnya, selalu lelaki yang selalu dikambing hitamkan.
Tentunya disini saya bukan untuk memojokan wanita dan membela kaum lelaki. Karena, bagaimana pun juga, dua makhluk berbeda bernama wanita dan lelaki itu memiliki kedudukan yang sama, tapi punya fungsi yang berbeda satu sama lain.
Coba bayangkan. Pantaskah jika celana dalam dipakai di kepala? Pantaskah celana dipakai di badan? Tidak akan matching tentunya. Pun dengan fungsi antara laki-laki dan perempuan yang secara lahiriah dan tabiat sudah berbeda. Maka, disini harus ada peran-peran masing-masing yang melengkapi satu sama lain.
Ketika wanita ingin memiliki kesetaraan, mereka hanya melihat posisi yang enak-enak dari para lelaki. Tapi, lihatlah, ada lelaki yang menjadi kuli bangunan atau tukang beca. Apakah ada diantara wanita yang mengharapkan profesi yang sama?
Tentunya wanita tidak dilarang berkarir selama tidak menyalahi kodratnya dan tidak mengabaikan kewajibannya sebagai wanita.
Tapi, begitulah. Feminisme yang kebablasan selalu mencari pembenaran. Ambil contoh pada kasus si pangeran brunai yang katanya ganteng itu. Banyak komentar-komentar betina-betina yang penuh berahi tersebut yang mengarah pada pelecehan seksual pada si pangeran brunai. Ambil contoh kalimat ‘rahim hangat’ dan ‘hamili aku.’ Bahkan yang kena imbas bukan hanya sang pangeran, tapi juga sang tunangan.
Betapa banyak perempuan-perempuan bucin yang hilang muruah dan rasa malunya. Ketika diprotes dan dinasihati mereka membela diri dengan beragam kalimat pembelaan.
“Wajar lah, dia kan ganteng.” Bla bla bla.
Andai yang berkomentar adalah kaum lelaki terhadap perempuan, apa yang akan terjadi? Tentu saja lelaki itu bisa dikatakan telah melakukan pelecehan seksual. Dan, adakah diantara kita yang mengatakan wanita-wanita penuh birahi itu melakukan pelecehan seksual? Sedikit.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment