Yang namanya ekstrimisme selalu melahirkan orang-orang yang
keblinger. Ekstrimisme itu ada dalam semua ideologi dan faham. Ekstrimisme dalam
agama islam melahirkan orang-orang khawarij dan syiah. Pun dalam-dalam faham
dan agama yang lainnya. sayangnya, selama ini kita hanya mengenal istilah
ekstrimisme yang selalu dilekatkan pada islam. Padahal betapa banyak kasus
ekstrimisme dalam agama lainnya, termasuk faham-faham lainnya. Ada esktrimisme
sekuler yang memberangus kebebasan beragama. Bahkan ada ekstrimisme dalam feminisme
yang membuat para wanita bertingkah kebablasan dan selalu mencari pebenaran
atas setiap kesalahan yang mereka lakukan. Maka pada akhirnya, selalu lelaki
yang selalu dikambing hitamkan.
Tentunya disini saya bukan untuk memojokan wanita dan membela
kaum lelaki. Karena, bagaimana pun juga, dua makhluk berbeda bernama wanita dan
lelaki itu memiliki kedudukan yang sama, tapi punya fungsi yang berbeda satu
sama lain.
Coba bayangkan. Pantaskah jika celana dalam dipakai di
kepala? Pantaskah celana dipakai di badan? Tidak akan matching tentunya. Pun dengan
fungsi antara laki-laki dan perempuan yang secara lahiriah dan tabiat sudah
berbeda. Maka, disini harus ada peran-peran masing-masing yang melengkapi satu
sama lain.
Ketika wanita ingin memiliki kesetaraan, mereka hanya
melihat posisi yang enak-enak dari para lelaki. Tapi, lihatlah, ada lelaki yang
menjadi kuli bangunan atau tukang beca. Apakah ada diantara wanita yang
mengharapkan profesi yang sama?
Tentunya wanita tidak dilarang berkarir selama tidak
menyalahi kodratnya dan tidak mengabaikan kewajibannya sebagai wanita.
Tapi, begitulah. Feminisme yang kebablasan selalu mencari
pembenaran. Ambil contoh pada kasus si pangeran brunai yang katanya ganteng
itu. Banyak komentar-komentar betina-betina yang penuh berahi tersebut yang
mengarah pada pelecehan seksual pada si pangeran brunai. Ambil contoh kalimat ‘rahim
hangat’ dan ‘hamili aku.’ Bahkan yang kena imbas bukan hanya sang pangeran,
tapi juga sang tunangan.
Betapa banyak perempuan-perempuan bucin yang hilang muruah
dan rasa malunya. Ketika diprotes dan dinasihati mereka membela diri dengan
beragam kalimat pembelaan.
“Wajar lah, dia kan ganteng.” Bla bla bla.
Andai yang berkomentar adalah kaum lelaki terhadap
perempuan, apa yang akan terjadi? Tentu saja lelaki itu bisa dikatakan telah
melakukan pelecehan seksual. Dan, adakah diantara kita yang mengatakan
wanita-wanita penuh birahi itu melakukan pelecehan seksual? Sedikit.

No comments:
Post a Comment