Sastra adalah satu elemen seni yang tak akan terpisahkan
dari peradaban manusia. Sastra mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dinamis
dengan lihai dan indah. Tanpa menggurui tapi mengena dan tepat sasaran. sastra
juga mempunyai nilai-nilai yang tak pernah dimiliki oleh elemen seni yang
lainnya. bahkan mampu menciptakan jejak dan pengaruh dalam lintasan zaman yang
dilaluinya.
Tak terkecuali dengan sastra yang mengusung nilai
religiuitas sebagai acuan nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam artian sastra
islam. Perlu kita sadari, bahwa sastra islami masih kalah booming dengan
sastra-sastra non-islami. ini mencakup dalam tatanan global atau internasional.
Mungkin diantara kita
tak ada yang tak mengenal serial novel Harry Potter plus dengan film-filmnya yang
menuai sukses di pasaran. Bahkan kekayaan JK. Rowling –sang pengarang karakter
penyihir tampan berkacamata itu- melebihi kekayaan ratu inggris. Dan
berderet-deret juga genre sastra sejenis semacam trilogy the twilight, the lord
of the ring, dan sebagainya. Mereka –para sastrawan barat—yang notabene sekuler
mampu meraup keuntungan besar sekaligus menancapkan pengaruh yang begitu luas
tak terkecuali di kalangan generasi muslim. Generasi kita begitu terkagum-kagum
dengan tokoh tokoh yang mereka ciptakan dalam sastra fantasi mereka.
Oke, ini mungkin menyangkut sastra fantasi. Tapi tak menutup
kemungkinan ada di kemudian hari sastra fantasi islami dengan petualangan yang
tak kalah seru atau minimal sebanding dengan boomingnya Harry Potter. Bisa saja
tokoh karakternya memakai nama-nama islam. Menyusupkan pesan-pesan keislaman
yang kental tapi tetap bersifat menghibur dan tidak menggurui. Toh mereka juga
sukses menyusupkan symbol-simbol agama mereka. JK. Rowling sukses menyusupkan
symbol-simbol nasrani dalam serial harry potternya. begitu juga the lord of the ring yang membawa
pesan dan legenda yang tak jauh dari nilai-nilai jewis alias yahudi.
Sastra islam tentunya akan sulit menjadi best seller dalam
tataran internasional. Secara konsumen sastra lebih kebanyakan sekuler
dibanding jumlah populasi orang muslim itu sendiri. Factor lainnya mungkin karena
kemandekan para sastarawan islam. kita, para sastrawan muslim –perlu kita akui-
tidak sekreatif dan seinovatif para sastrawan sekuler. lihat saja buktinya.
buku-buku mereka yang diterjemahkan di negeri kita mengisi hampir sepertiga
rak-rak toko buku di negeri kita. mulai dari genre roman, fiktif fantasi,
science fantasi, dektektif, spionase dan lain sebagainya. Mari kita telisik
karya-karya sastrawan kita. Buku-buku mereka tak pernah beranjak dan hanya
berputar-putar dalam satu genre saja.
Kebanyakan fiksi atau sastra islami kita hanya terbatas pada
genre roman saja. tak pernah kita menemukan fiksi detektif versi islam, fiksi
spionase versi islam atau bahkan fantasi versi islam. Jadinya hanya
kalangan-kalangan tertentu yang menyukai roman, karena tidak semua kalangan
menyukai cerita roman.
Fenomena Sastra Islam Pasca Ayat-Ayat Cinta
Masih ingat dengan boomingnya novel karya Habiburrahman el
Shirazy? ya, Ayat-Ayat Cinta begitu fenomenal di tanah air kita mulai awal
tahun 2008 lalu. Diyakini, baik oleh para sastrawan dan ahli sastra maupun masyarakat
kita –khususnya para penyuka sastra—bhawa AAC adalah roman orisinil yang sarat dan
kental dengan njilai-nilai islam yang begitu kentara. Booming pula.
Setelah AAC diterbitkan dan menuai sukses besar dalam
tataran nasional. kemudian menyusul novel- novel Kang Abik (panggilan akrab
habiburrahman el shirazy)- yng lainnya. sebut saja Ketika Cinta Bertasbih 1 dan
2 (KCB) Dalam mihab cinta, Cinta suci zahrana dan Bumi cinta. Empat dari lima novel itu berhasil diadaptasi
menjadi film dan sukses di pasaran.
Setelah itu maka seakan-akan penulis-penulis kita ikut
latah. mereka ikut ngiler dengan kesuksesan
AAC dan mereka ingin menuai kesuksesan yang sama dengan jalan pintas
yang boleh dibilang tak pantas untuk orang-orang yang masih bisa memegan
prinsip orisinilitas karya. maka menjamurlah penulis- penulis amatiran dengan
nama ber-el-el ria. memiripkan nama dngan pengarang AAC. Begitu pun dengan
judul-judul bukunya, tak akan jauh dari kata cinta. Cuma ditambahkan awalannya
dengan istilah- istilah islam. Plus dngan ilustrai dan desain yang tak jauh
beda dengan novel Ayat-Ayat Cinta.
Bagus sih, Cuma hal ini jelas-jelas sangat terkesan murahan
dan mencederai kreatifitas itu sendiri. Efeknya orang-orang akan jenuh dengan
sastra islam, orang akan menganggap sastra islam terlalu monoton dan
membosankan. apalagi sastra kita hanya mengandalkan cerita roman. seperti yang
pernah saya singgung di awal.
Indihiang, 29 Nopember 2014


No comments:
Post a Comment