Ada pemimpin yang melakukan ritual kesyirikan berupa memandikan mobil dengan kembang, tapi selamat dari tahdzir ustadz yang selama ini dikenal getol mentahdzir sesama da'i sana sini.
Ada pemimpin yang dengan terang-terangan menganggap hukum Allah sudah tidak relevan dijadikan hukum positif, tetapi kuping sang ustadz tidak kepanasan sebagaimana kepanasannya dia ketika melihat ustadz di luar afiliasinya melakukan secuil kekeliruan.
Padahal, ritual mandi kembang dan meremehkan hukum Allah melampui kebid'ahan-kebid'ahan apa pun yang kita kenal? Lalu kenapa mereka selamat dari nyinyiran dan ghibahan ustadz tahdzir? Apakah karena mereka adalah ulil Amri sehingga harus didiamkan? Sementara Imam Ahmad pun tidak diam ketika Ulil Amri mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk. Imam Ahmad langsung memberikan warning kepada masyarakat bahwa keyakinan Al-Qur'an adalah makhluk adalah keyakinan sesat sehingga beliau disiksa oleh Ulil Amri pada saat itu.
Selama ini, ustadz tahdzir selalu beralibi bahwa tahdzir serampangan yang mereka lontarkan adalah untuk menjaga umat dari paham sesat dan menjaga ummat dari para penyeru kepada jalan kesesatan. Padahal, jika mau fair, seruan kesesatan pemimpin dzalim yang dengan terang-terangan mengatakan hukum Alloh tidak relevan jauh lebih rusak dibandingkan ustadz-ustadz kecil yang ditahdzir hanya karena kekeliruan yang juga sepele yang kebanyakan karena faktor ketidaktahuan.
Saya tidak menampik adanya syariat berupa tahdzir. Tahdzir tetap diperlukan dalam menjaga kemurnian agama dari kebid'ahan, kesesatan serta kesyirikan. Tahdzir diperlukan untuk menjaga ummat dari penyeru jalan-jalan kesesatan.
Tapi jangan sampai tahdzir dijadikan tunggangan ego pribadi untuk menyerang pihak-pihak yang dibenci di atas ego. Perbedaan-perbedaan yang sejatinya hanya ada dalam ranah khilafiyah tidak bisa memakai hukum tahdzir. Kekeliruan kecil tidak bisa diselesaikan dengan tahdzir. Kekeliruan sebagian ustadz yang tergelincir karena khilaf juga tidak bijak disikapi dengan tahdzir terang-terangan di khalayak ramai yang menyebabkan kehormatan ustadz yang bersangkutan terkoyak dan compang camping. Jika pun ingin menasihati, nasihatilah dengan jalur pribadi. Atau adakan diskusi terbuka di tengah ummat dengan kesantunan.
Ulama salaf justru mengajarkan kepada kita untuk tidak bermudah-mudah dalam perkara tahdzir. Imam Ahmad--di dalam riwayat yang diabadikan dalam kitab Siyar 'Alam an-nubala--sering bentrok dalam ranah pemikiran dengan Imam Syafi'i dan Ishaq bin Rahuyah. Tapi Imam Ahmad tidak pernah mentahdzir keduanya. Imam Ahmad pernah mengakui bahwa beliau berselisih pendapat dengan Ishaq dalam banyak hal, tapi dia mengakui kebaikan-kebaikan dan kelebihan Ishaq atasnya.
Dua ulama kibar, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar, menurut ulama salaf, terjatuh pada kekeliruan dalam beberapa paham asy'ariyah. Hal ini juga diakui oleh Syaikh Albani. Akan tetapi Syaikh Albani dan ulama-ulama salaf tidak lantas mentahdzir dua ulama besar itu karena mengingat:
1. Besarnya kontribusi dua ulama besar itu terhadap ilmu Islam dan Sunnah Rasulullah
2. Kekeliruan yang secuil tidak akan pernah terhapus oleh lautan ilmu dan kebaikan2 keduanya yang menjadi warisan tak ada tandingnya.
3. Kekeliruan keduanya bukan karena kesengajaan, mengingat di masa itu paham asy'ariyah memang menggejala.
Meskipun mereka tahu bahwa dua ulama kibar tersebut pernah keliru, tidak lantas ulama2 salaf mencampakannya. Mereka bahkan menggelari dua ulama tersebut dengan gelar yang mulia, mengkaji kitab2 keduanya, bahkan mengabadikannya.
Hendaknya kebijaksanaan itu kita terapkan dalam menyikapi ustadz-ustadz masa kini. Boleh jadi yang kita anggap kekeliruan itu tersebab yang bersangkutan tidak memahami hal itu dan kita hendaknya hanya selalu mengingat kebaikan dan kontribusinya pada ummat. Tentunya selama kekeliruan itu bukan hal yang fatal.
Adalah hal yang lucu, karena di zaman sekarang, ada orang yang mengaku salafi, tidak hanya mentahdzir da'i yang tidak menyebut dirinya salafi, tapi juga mentahdzir da'i yang sama-sama dianggap da'i Salafi.
Saya ingat betul, di sebuah kajian seorang ustadz Salafi, ada jamaah yang bertanya, "Bagaimana menyikapi tahdzir ustadz Fulan terhadap antum?"
Maka sang ustadz menjawab, "Jangan pedulikan. Kita fokus dalam dakwah tauhid dan Sunnah, jangan habiskan waktu untuk meladeni orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan tahdzir."
Contoh lainnya, seorang ustadz yang mengaku ustadz salafi, ditanya apa pendapat dia tentang Zakir naik. Dengan entengnya dia mengatakan Zakir Naik ahli filsafat yang sesat. Dia masa bodoh dengan fakta bahwa Zakir Naik adalah seorang da'i yang telah memperkenalkan ribuan orang pada keindahan Islam.
Lalu di kesempatan yang lain, ada ustad yang berbeda--masih ustadz salafi--ditanya sikap dia tentang Zakir Naik. Ustadz yang kedua ini menyanjung Zakir Naik karena kontribusinya pada Islam dan ummat, terlepas Zakir Naik sendiri tidak menisbatkan dirinya pada Salafi. Kelak saya tahu, ustadz salafi yang santun ini pernah ditahdzir oleh ustadz mengaku salafi tapi tak punya adab itu.
Catatan:
Tahdzir adalah peringatan atau nasihat untuk tidak melakukan kesalahan atau perbuatan tercela. Tahdzir juga dapat diartikan sebagai memperingatkan umat Islam dari kesalahan individu atau kelompok.
Terbuka untuk diskusi di kolom komentar
Jika ada waktu nanti saya lanjut part dua


No comments:
Post a Comment