Pentingnya Bisa Membedakan Antara Akidah dan Naluri Berbuat Baik
Iqbal Aji Daryono, seorang kolumnis, penulis dan sekaligus warga Muhammadiyah melancong ke Najaf untuk melihat seperti apa orang-orang Syiah itu. Beliau berinteraksi dengan orang-orang Syiah dan merasa kagum dengan penghormatan mereka terhadap tamu-tamu yang berdatangan. Dari semua keramahan yang Iqbal terima, Iqbal menyimpulkan bahwa orang syiah tidak semengerikan yang digambarkan orang-orang, terutama yang digambarkan oleh ceramah para ustadz. Berangkat dari kekaguman itulah Iqbal menulis pengalamannya itu dalam sebuah buku. (Saya tak perlu menyebutkan judulnya).
Inti dari bahasan buku itu adalah: menyesatkan Syiah adalah kekeliruan karena orang-orang Syiah ternyata sangat baik.
Menurut saya ini adalah kefatalan. Bagaimana mungkin bisa menimbang baik dan buruk, benar dan salahnya sebuah keyakinan hanya dari pengalaman berinteraksi dengan orang-orang penganut kepercayaan itu. Ini subjektif namanya.
Saya tidak sedang menihilkan kemanusiaan dan sikap ramah terhadap lintas keyakinan. Bagaimana pun juga, setiap manusia memiliki naluri untuk berbuat baik terhadap sesama, apa pun keyakinannya.
Analoginya seperti orang-orang yang mendukung Palestina. Banyak atheis yang mendukung Palestina untuk mendapatkan hak-haknya. Bahkan ada komunitas LGBT yang mendukung kemerdekaan Palestina sembari mengibarkan bendera pelangi berdampingan dengan bendera Palestina. Ini artinya mereka mendukung Palestina pure rasa kemanusiaan. Saya mengapresiasi dukungan dan naluri peduli antar sesama itu. Tapi bukan berarti dengan kebaikan orang atheis dan LGBT itu lantas saya berpikir atheis dan LGBT adalah kebenaran yang tak perlu dikritisi.
Analogi lain, jika saya jalan-jalan ke Tel Aviv, besar kemungkinan saya akan bertemu dengan orang Israel yang ramah kepada saya sebagai pelancong. Tapi keramahan orang Israel pada saya bukan berarti membuat saya berpikir bahwa zionisme yang telah membuat jutaan orang Palestina menderita itu sebuah kebenaran. Di saat yang sama, saya tidak juga merendahkan orang-orang yang berbuat ramah terhadap saya. Karena mereka hanya manusia seperti saya. Keramahan dan perbuatan baiknya tak melulu punya korelasi dengan keyakinan atau pandangan politik.
Orang Syiah di Iran dan Irak tidak ada hubungannya dengan pemerintah Iran yang memiliki andil turut memb@nt*i orang Aleppo dan Homs. Sebagaimana orang Israel di Tel Aviv juga tidak ada hubungannya dengan kebijakan pemerintah Zionis yang membombardir Gaza. Tapi di mana pun itu, secara naluriah, orang-orang itu mayoritas akan mendukung kebijakan pemerintahnya sendiri karena ketidakpahaman soal politik atau apa pun itu namanya.
Begitulah. Bedakan antara menilai perilaku manusia dengan menilai benar dan salahnya sebuah keyakinan. Pun tidak bisa mencampur adukkan naluri berbuat baik terhadap sesama dengan pandangan politik. Jangan jauh-jauh soal politik orang Syiah atau Yahudi, saya yang sejak dulu anti Jokowi, pernah kopdar sama fans berat Jokowi, dijamu, dikasih kopi, diakrabi. Tapi tetep aja saya gak suka Jokowi meski saya respect sama temen saya itu. Ahaha.
Jika Mas Iqbal dan Penerbit Mizan menganggap keyakinan Syiah tidak salah hanya karena pengalaman yang romantis terhadap orang Syiah, maka yang menyesatkan Syiah juga gak salah.
Jika mereka menilai benar dan salah dari pengalaman berinteraksi dengan orang Syiah secara langsung, kalo ulama2 Sunni yang menyesatkan Syiah itu menilai benar dan salah berdasarkan pertimbangan setelah membaca kitab-kitab otoritatif di kalangan Syiah. Kitab yng ditulis ulama Syiah sudah tentu menunjukkan Ideologi aslinya. Syiah juga beragam. Ada yang ekstrem, liberal dsb. Memang ada Syiah yang hanya berkubang pada bid'ah. Tapi banyak Syiah yang terjatuh pada kesyirikan jika merujuk sumber-sumber kitab mereka. Jadi pengalaman itu subjektif.
Menyebut pihak lain salah juga bukan berarti tidak hati-hati atau tidak toleran. Toleransi itu bukan berarti menganggap semua benar, tapi menghormati perbedaan meski dia meyakini hanya keyakinannya yg benar.
Saya berteman dengan orang2 lintas Mazhab, lintas keyakinan dan agama. Saya juga punya teman orang Syiah. Liberal juga ada. Di saat yang sama saya hanya mempercayai agama saya yang benar. Tapi tidak pula merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dan mempercayai setiap orang merdeka untuk berkeyakinan sesuai dengan pilihannya masingmasing.
Begitu juga teman2 nonis saya. Tapi kami baik-baik saja. Jika semua agama benar, harusnya tidak masalah bagi saya dan teman2 nonis saya buat pindah2 agama seminggu sekali. Tapi tidak. Kami teguh pada keyakinan masing2.


No comments:
Post a Comment