17 Feb 2025

Mengapa Kita Harus Melek Politik?

 "Siapa pun yang terpilih, itu tidak mempengaruhi hidupmu. Kamu akan tetap berjibaku dengan kehidupanmu."


Faktanya, kebijakan-kebijakan struktural penguasalah yang seringkali sangat mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh tangan penguasa itu mempengaruhi banyak aspek. Mulai dari aspek budaya, ekonomi, sosial dan pendidikan. 


Kebijakan salah, grasa-grusu dan mangcla-mencle yang ditelurkan oleh pemimpin/wakil rakyat terpilih seringkali justru menimbulkan gejolak dan penderitaan yang berkepanjangan. 


Salah mengambil kebijakan itu seringkali disebabkan oleh banyak hal: 

1. Tidak punya pengalaman karena mendapatkan jabatan hasil give away bagi2 kue posisi dan keahlian menjilat. 

2. Tidak tahu kebutuhan masyarakat karena memang hidupnya tidak akrab dengan penderitaan-penderitaan kelas bawah. 

3. Tidak tahu skala prioritas sehingga banyak anggaran yang boncos karena program-program yang sebenarnya tidak perlu.


Karena hal-hal tersebut, maka wajib bagi setiap warga negara untuk melek politik sehingga mereka sadar sesadar-sadarnya tentang:

1) hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara

2) hak dan kewajiban para penyelenggara negara atas mereka

3. Memahami bentuk-bentuk penyimpangan dan tindakan korup yang merugikan khalayak

4) Tidak salah dalam memilih calon pemimpin atau wakil rakyat dan tidak terjerat oleh lingkaran setan money politic. 

5) Tidak terjebak pada propaganda Populis dan hoax


Memilih pemimpin/wakil rakyat itu bisa kita analogikan memilih calon pasangan hidup. Kalau kita asal-asalan dalam memilih pemimpin/wakil rakyat, apa kita akan menerapkan hal yang sama ketika memilih calon pasangan hidup? Mungkinkah kita memilih pasangan hidup dengan pertimbangan; yang penting bisa ena-ena dan punya keturunan? Yang penting tidak jadi bahan omongan tetangga? Pastinya enggak, karena banyak pertimbangan filosofis yang melatari memilih pasangan hidup.


Agaknya mustahil seorang gadis akan menerima pinangan seorang lelaki asing hanya karena si lelaki pernah traktir seblak yang harganya lima ribu. Tapi banyak rakyat Indonesia--yang tidak melek wawasan politik--suaranya terbeli hanya karena amplop dan bansos. Mereka tidak berpikir tentang apa efek buruk dari pemimpin buruk. Yang mereka pikirkan adalah calon pemimpin itu banyak dibicarakan, banyak mengumbar janji dan banyak menebar bansos menjelang pemilu. 


Karena, yang paling penting bagi warga negara yang buta politik adalah: 

Calon pemimpin yang pinter bikin konten nyentrik

Calon pemimpin yang paling banyak bikin baliho yang uwow

Calon pemimpin yang paling banyak tebar janji

Calon pemimpin yang paling banyak tebar bansos 


Soal visi dan misi yang berkeadaban, terukur dan realistis, itu tidak akan nyampe. Lha wong, orang mereka bikin baliho isinya bukan visi, tapi gimmick-gimmick yang menggaet 'masyarakat konten.'


Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment