9 Sept 2020

TETAP BERSYUKUR DALAM KONDISI APA PUN

Sudahkah kita bersyukur hari ini? Atau, jangan-jangan ada diantara kita yang menggerutu dan memasang muka masam karena merasa tidak menjadi orang yang beruntung? Atau kita merasa tidak puas dengan kehidupan yang kita jalani? Sahabat, sebelum kita benar-benar tenggelam dalam kesempitan dan tekanan batin karena semua ketidakpuasan itu, marilah kita merenung sejenak. Marilah kita mencoba untuk menetralkan pikiran kita dari pikiran-pikiran yang negatif terhadap kehidupan yang kita jalani hari ini.

Mungkin ada diantara kita yang merasa tidak puas dengan pekerjaan kita. Baik tidak puas terhadap atasan yang jutek, atau karena gajinya yang tidak sesuai harapan, atau pekerjaan yang berat dan menumpuk, atau alasan-alasan lainnya. Tapi ingatlah bahwa mungkin ada di luar sana para pengangguran yang justru sangat berharap berada di posisi kita. Pekerjaan berat kita yang menumpuk ternyata menjadi impian para pengangguran.

Mungkin ada diantara kita yang merasa tidak puas dengan rezeki yang kita peroleh karena pas-pasan dan tidak bisa menabung untuk masa depan. mungkin gaji yang kita terima hanya cukup untuk bayar kontrakan dan uang makan selama sebulan. Tapi, saldomu yang sedikit itu adalah impian bagi mereka yang terlilit hutang.

Mungkin ada diantara kita yang merasa tidak puas dengan rumah yang kecil dan sumpek. Tapi kita tidak pernah berpikir tentang mereka yang impiannya tergusur. Kita tidak berpikir tentang mereka yang tidur di bawah kolong jembatan atau rumahnya digusur secara semena-mena seperti di Palestina sana.

Mungkin ada diantara kita yang merasa kesal dan marah dengan anak yang berisik dan merepotkan. Mereka bisanya hanya membuat kebisingan yang tiada henti dan mengotori rumah. Tapi kita tidak berpikir bahwa keriuhan itu adalah impian mereka yang belum diamanahi anak oleh Allah swt.

Maka, bersyukurlah walau hanya dengan sendal jepit yang kita pakai, karena disana banyak yang justru tidak punya kaki. Alih-alih berpikir tentang sepatu yang kusam, berpikirlah tentang mereka yang kaki pun mereka tak punya.

Tidak ada salahnya punya impian memiliki pekerjaan yang membuat kita enjoy, punya rumah yang besar dan nyaman serta punya saldo yang banyak. Sama sekali tidak salah. Yang salah adalah kita yang tidak bersyukur. Tetaplah bersyukur, bersabar dan berikhtiar.

===
FAJAR MENYINGSING

🌿 Jika engkau ingin melihat indahnya fajar, maka engkau harus melalui gelapnya malam. Jika engkau ingin melihat pelangi, maka engkau harus melalui hujan dan badai.

Ketika malam telah semakin pekat, kita tahu bahwa sebentar lagi semburat fajar akan menyingsing dan melenyapkan semua gulita malam ini. Begitu pun dengan kehidupan dengan semua permalasahannya. Ketika masalah semakin menghebat hingga kita terantuk dan tidak tahu kemana melangkah, maka itu pertanda bahwa semburat cahaya fajar akan melenyapkan masalah yang kita hadapi. Solusi akan datang dengan izin Allah. Insha Allah.

Jika tali itu terlalu kencang sehingga tertarik renggang, maka sebentar lagi ia akan putus karena tekanan. Begitu juga dengan problematika kehidupan. Ketika kita hampir menyerah dan tidak tahan dengan semua tekanan batin, pada akhirnya Allah akan kirimkan ketentraman dengan 'putusnya' semua permasalahan. Tidak ada lagi tekanan yang tersisa. Karena Allah berjanji di dalam firman-Nya, setelah satu kesulitan akan datang dua kemudahan.

Yang membuat penantian kita terasa panjang adalah karena manusia selalu memiliki sifat isti'jal (tergesa-gesa). Padahal Allah punya waktu dan kondisi serta tempat yang tepat untuk menurunkan pertolongan-Nya.

Yang kita butuhkan untuk mendapatkan pertolongan itu adalah ketabahan yang panjang dan baik sangka kepada Allah, serta tidak putus dari harap, asa dan ketawakalan yang tertanam di dada. Itulah satu alasan kenapa keimanan meruntuhkan segala kesempitan.

Bogor, 09092020

===
BERSAMA ALLAH, SEMUANYA BAIK-BAIK SAJA
Api tidak membakar Ibrahim
 Ikan hiu tidak memakan Yunus
 Lautan tidak menenggelamkan Musa
 Pisau tidak membunuh Ismail
 Untuk itu, bersamaAllah, semua akan baik-baik saja

( Ust Amru Khalid )

Merapatlah kepada Allah dan dekaplah selalu semua kehendak-Nya. Maka kita akan menemukan jutaan kemudahan dan kejutan yang selalu datang untuk menjadi takdir kehidupan kita. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, hanya kita yang terkadang ragu dengan janji-Nya. Tidak ada yang sulit bagi Allah, hanya kita yang sulit percaya terhadap pertolongan-Nya. Tidak ada yang.

Oleh karena itulah, haram bagi seorang muslim untuk berputus asa.
Imam Syahid Hasan Al Banna berkata "
لا تيأسوا فإن اليأس ليس من أخلاق المسلمين
Janganlah berputus asa ,karena ia bukanlah akhlak kaum muslimin.

Semoga Allah anugerahkan kepada kita hati yang lapang dengan semua garis takdir yang tak terbantahkan, jiwa yang bersih dalam balutan tawakal dan  iman yang kokoh sebagai pengawal asa hingga ajal datang.

Bogor, 09-09-2020

===
4 Kategori Manusia di Hadapan Harta

Dalam Kitab Sunan Tirmidzi ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang empat macam orang di dunia.

Di antaranya adalah
1. orang yang diberi rezeki harta dan dikaruniai ilmu,
2. orang yang dikaruniai ilmu tapi tidak diberi harta,
3. orang yang diberi rezeki harta tapi tidak dikaruniai ilmu, dan
4. orang yang tidak diberi rezeki harta dan tidak dikaruniai ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

أحدِّثُكُم حَديثًا فاحفَظوهُ . فقالَ : إنَّما الدُّنيا لأربعةِ نفرٍ : عبدٌ رزقَه اللَّهُ مالًا وعِلمًا فهوَ يتَّقي ربَّهُ فيهِ ويصلُ بهِ رحِمَهُ ويعلَمُ للَّهِ فيهِ حقًّا فَهَذا بأفضلِ المَنازلِ . وعبدٍ رزقَهُ اللَّهُ علمًا ولم يرزُقهُ مالًا فَهوَ صادقُ النيَّةِ يقولُ : لَو أنَّ لي مالًا لعَمِلتُ فيه بعَملِ فلانٍ فهو بنيَّتهِ فأَجرُهُما سواءٌ. وعَبدٌ رزقَهُ اللَّهُ مالًا ولَم يَرزُقهُ عِلمًا يخبِطُ في مالِهِ بغيرِ عِلمٍ لا يتَّقي فيهِ ربَّهُ ولا يَصلُ فيهِ رحمَهُ ولا يعلَم للهِ فيهِ حقًّا فهو بأخبَثِ المنازلِ ، وعبدٌ لم يَرزُقْهُ اللَّهُ مالًا ولا عِلمًا فَهوَ يقولُ : لَو أنَّ لي مالًا لعَمِلْتُ فيهِ بعمَلِ فلانٍ فَهوَ بنيَّتِهِ فوزرُهُما سواءٌ

Aku akan memberitahukan sebuah hadits kepada kalian, maka hafalkanlah. Sesungguhnya dunia itu untuk empat macam orang.

Pertama, yaitu seorang hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta dan ilmu, lalu ia bertakwa dengannya kepada Rabb-nya dan terus menjalin hubungan silaturahim, serta menyadari bahwa ada hak Allah pada rezekinya itu. Ini adalah derajat (kedudukan) yang paling utama.

Kedua, kemudian seorang hamba yang dikaruniai ilmu pengetahuan namun tidak dikaruniai harta. Lalu dengan niat yang benar (tulus) dia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan melakukan amal (kebaikan) seperti amal yang dilakukan si fulan.’ Ia akan mendapat ganjaran (pahala) dengan niatnya itu dan ganjaran keduanya (dirinya dengan si fulan) sama.

Ketiga, kemudian seorang hamba yang diberikan rezeki berupa harta oleh Allah, namun tidak dikaruniai ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya itu tanpa menggunakan ilmu, tidak bertakwa kepada Rabb-nya, dan tidak menyambung hubungan silaturrahim, serta tidak menyadari bahwa ada hak Allah pada hartanya itu. Maka orang seperti ini mendapatkan kedudukan (derajat) yang paling buruk.

Keempat, kemudian seorang hamba yang tidak diberikan rezeki berupa harta dan tidak dikaruniai ilmu oleh Allah. Lalu dia berkata, seandainya aku memiliki harta maka aku akan melakukan amal perbuatan (dosa) seperti si fulan. Maka dengan niatnya ini dia akan mendapatkan dosa, dan dosa keduanya (dirinya dan si fulan) sama.

(HR Tirmidzi dari Abu Kabasyah Al-Anmari).

Pertanyaannya, di posisi manakah kita?
Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment