Jika jabatan dan harta membuat kita terlena, lihatlah Nabi Sulaiman as yang lebih kaya. Tubuhnya sehat dan gagah perkasa. Allah menundukan angin padanya. Jin-jin patuh terhadap perintahnya. Burung-burung turut menjadi pasukannya. Bahasa binatang pun beliau memahaminya. Dan semua nikmat dunia ada padanya. Meskipun begitu, semua itu tak membuat beliau terlena. Semua digunakan untuk taat pada Rabb-nya. Ni'mal abdu innahu awwaab adalah gelarnya.
Sebaik-baik hamba, ia amat patuh pada Rabbnya. Inilah sikap syukur.
Jangan pula kekurangan membuat kufur pada sang Pencipta. Lihatlah Nabi Ayub yang hidup penuh derita. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Yang sehat hanyalah hati dan lisannya saja. Dengannya ia berdzikir kepada Rabb-nya. Diasingkan jauh dari kerumunan manusia. Tak memiliki teman maupun harta. Meskipun begitu, tak membuatnya kufur pada Pencipta. Ni'mal abdu innahu awwaab adalah gelarnya.
Sebaik-baik hamba, ia patuh pada Rabb-nya. Inilah sikap sabar.
(Abu Umar Abdillah)
Sebaik-baik hamba, ia amat patuh pada Rabbnya. Inilah sikap syukur.
Jangan pula kekurangan membuat kufur pada sang Pencipta. Lihatlah Nabi Ayub yang hidup penuh derita. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Yang sehat hanyalah hati dan lisannya saja. Dengannya ia berdzikir kepada Rabb-nya. Diasingkan jauh dari kerumunan manusia. Tak memiliki teman maupun harta. Meskipun begitu, tak membuatnya kufur pada Pencipta. Ni'mal abdu innahu awwaab adalah gelarnya.
Sebaik-baik hamba, ia patuh pada Rabb-nya. Inilah sikap sabar.
(Abu Umar Abdillah)
No comments:
Post a Comment