2 Dec 2018

Filosofi Uang



Ketika saya kecil dulu, betapa bahagianya ketika saya mendapatkan uang jajan dari emak dan bapak. Dan kebahagiaan itu akan memuncak ketika hari lebaran tiba, dimana saku kita penuh dengan uang pemberian dari orang tua, kakek nenek, kakak, paman dan bibi, serta kenalan-kenalan bapak. Memang betul apa yang menjadi seloroh teman saya, “Ada dua golongan yang duitnya tidak berkurang, tapi justru bertambah di hari raya lebaran; anak-anak dan nenek-nenek.”

Kembali kepada ‘kata’ uang. Kita tidak bisa memungkiri bahwa kita semua membutuhkan uang dan tergantung pada uang. Pendidikan membutuhkan uang, menafkahi keluarga juga dengan uang dan bahkan ibadah pun ada yang memakai uang, sedekah dan ibadah haji contohnya.

Dan kita juga tidak bisa mengelak bahwa memang uang bisa menjadi standar kekayaan. Orang kaya sudah pasti banyak uangnya, tebal dompetnya atau penuh depositonya. Sehingga banyak orang yang mengukur kesuksesan hidupnya dari seberapa banyak uang atau benda yang bisa diuangkan yang dia miliki.

Akan tetapi, tidak selamanya kita mengukur kesuksesan dan kebahagiaan dengan uang. Hidup bukan untuk uang, tapi uang untuk hidup.

Nah, berbicara tentang uang saya ingin mencoba berfilosofi. Tak dinyana, ternyata dari uang kita bisa memetik banyak hikmah dan pelajaran kehidupan. Tapi filosofi itu akan saya bawakan dalam kisah.

Suatu ketika seorang guru memasuki sebuah kelas. Saat masuk, ia mendapati murid-murid dengan wajah yang sangat murung. Ia sudah menduga sebelumnya. Kemarin saat perlombaan Cerdas Cermat, beberapa siswa unggulan mereka kalah oleh siswa dari sekolah lain.

Karena kekalahan itu, semua siswa di kelas merasa sedih. Mereka tidak bisa menerima kekalahan itu. Mereka jadi diam dan tidak bersemangat saat berlangsungnya pelajaran sekolah. Sang guru sempat menanyakan beberapa pertanyaan tapi tidak ada satu siswa pun yang antusias menjawab. Ia juga bertanya apakah ada yang mau mengerjakan soal di papan tulis. Tidak ada yang mengangkat tangan.

Akhirnya guru itu menyerah dan menghentikan pelajaran. Sebagai gantinya ia mengeluarkan selembar uang kertas senilai seratus ribu rupiah dan menunjukkannya pada siswa di kelas. “Yang mau uang ini silakan angkat tangan.

Seluruh siswa mengangkat tangannya.

Sang guru lalu meremas-remas uang tersebut hingga kusut. Ia bertanya lagi, “Yang masih mau uang ini silakan angkat tangan.”

Seluruh siswa mengangkat tangan.

Sang guru kemudian menjatuhkan uang ke lantai dan menginjaknya berkali-kali hingga kotor. Lalu ia memungut uang itu dan bertanya, “Siapa yang masih mau uang ini?”

Seluruh siswa kembali mengangkat tangan.

Sang guru menjelaskan, “Meskipun uang itu sudah diremas dan injak sampai kotor dan kusut, kalian tetap menginginkannya. Uang itu tetap bernilai seratus ribu rupiah, tidak berkurang sedikit pun meski sudah menjadi seperti ini. Kalian juga seharusnya seperti uang ini. Kalian sedih karena kelas kalian kalah dalam Cerdas Cermat. Tapi kalian tetaplah diri kalian seperti dulu. Jangan sakiti diri kalian karena kekalahan. Jangan anggap kalian tidak berguna karena kekalahan itu. Kalian adalah siswa yang pintar dan hebat. Meskipun kalah kalian tetaplah luar biasa. Ingat itu baik-baik.”

Ada dua pelajaran berharga yang bisa kita peroleh dari kisah ini.
Pertama, seringkali kita dijatuhkan, diremas-remas dan diinjak oleh kekalahan atau pun kegagalan dalam hidup ini. Itu bukan berarti apa-apa. Jangan jatuhkan dan rendahkan nilai diri kita karena hal-hal seperti itu. Ingatlah uang tidak berkurang nilainya meskipun diremas, dimasukkan ke dalam air atau diinjak-injak. Nilainya tetap seperti itu tidak peduli apakah bersih atau kotor, rapi atau kusut. Kita juga sama berharganya dengan uang. Nilai diri kita tidak berkurang sedikitpun meski gagal, kalah, kecewa dan terjatuh. Kita tetap diri kita.

Jangan seperti mereka yang ketika kalah langsung mencap dirinya lemah, yang ketika gagal langsung mencap dirinya bodoh, yang ketika jatuh langsung mencap dirinya tidak berguna. Mereka merendahkan nilai dirinya saat mengalami sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Kedua, seburuk apa pun kita, kita akan tetap berharga dengan nilai yang kita miliki. Nilai itu adalah sikap yang baik (akhlak) dan kepedulian terhadap orang lain. Tidak peduli apakah kita jelek, tidak kaya atau tidak memiliki kekuasaan dan pengaruh, tapi kita akan selalu dekat di hati orang-orang. Kita akan selalu menjadikan orang lain nyaman. Itu bukan ditentukan oleh rupa kita, tapi ditentukan oleh nilai yang kita miliki. Sebagaimana uang seratus ribu yang lusuh tidak menjadikan nilainya berkurang.

Ada lagi kisah menarik yang mengajarkan arti ‘nilai.’ Dikisahkan ada seorang guru yang mengangkat uang seribu dan berkata kepada murid-muridnya, “Siapakah yang mau uang ini?”

Hanya beberapa anak yang mengangkat tangan, itu pun tak terlalu antusias. Karena mereka tahu, apalah arti dari uang seribu rupiah.

Kemudian guru tersebut memasukan uang tersebut ke dompet dan menggantinya dengan uang seratus ribu dan melontarkan pertanyaan yang sama, “Siapa yang mau uang ini?”

Sontak semua siswa mengangkat tangannya. Bahkan ada yang langsung berdiri dan maju ke depan untuk mendapatkan uang tersebut. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Kenapa respon itu berbeda? Karena semua itu kembali kepada nilai. Ada perbedaan yang signifikan antara nilai keduanya. Uang seribu dan seratus ribu. Nah, pertanyaannya, apakah kita akan mencitrakan diri kita sebagai uang seribuan atau seratus ribu.

Berbicara tentang uang pecahan seratus ribu dan uang pecahan seribu, saya akan memungkasnya dengan satu cerita imajinatif tentang dialog  Uang Seratus Ribu dan Seribuan.

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI (Percetakan Uang Republik Indonesia)  dengan bahan dan alat-alat yang berkualitas. Pertama kali ke luar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik.

Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu, “Ya ampun, darimana saja sih kamu? Baru tiga bulan kita berpisah, kok tampilanmu lusuh banget? Kumal, kotor, lecet, bau lagi.”

Si uang seribu hanya tersipu malu mendengarkan celotehan uang seratus ribu.

“Padahal waktu kitasama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ….. Ada apa denganmu?”

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata, “ “Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita ke luar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan kotoran ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke berbagai tempat yang berbeda, dan kondisinya nyaris sama. Bahkan diremas-remas oleh tangan mungil anak kecil. Itulah alasannya kenapa kondisiku seperti ini.”

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin. Kemudian dia berkata,  “Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Sejak keluar dari PERURI, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku berpindah ke dompet wanita cantik.  Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu.”

Uang seribu terdiam sejenak. Tapi sejurus kemudian dia tersenyum dan berkata, “Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

“Apa itu?” uang seratus ribu penasaran.

“Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir ditempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana.”

Nah, lagi-lagi kisah ini mengajarkan kita arti nilai dalam bentuk yang lain. Jika kita telah menganalogikan ‘nilai’ dalam bentuk angka di kisah yang pertama, maka di kisah yang terakhir ini saya mencoba mengulik nilai dari segi ‘kebermanfaatan’ dan ‘keberkahan.’

Uang Bukan Segalanya

Tahukah kita, bahwa ternyata uang juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Seringkali kekuatan itu bersifat merusak. Simak saya penuturan si ‘uang’ tentang dirinya.

Namaku Uang, nama panggilanku Duit, nama ukhuwah Fulus, dan nama tenarku Money. Wajahku biasa saja, dan fisikku juga lemah, namun aku mampu untuk merombak tatanan dunia.

Aku juga bisa merubah perilaku, bahkan sifat manusia, karena manusia memang mengidolakan aku. Banyak orang merubah kepribadian, mengkhianati teman, menjual diri, bahkan meninggalkan keyakinan iman, hanya demi aku.

Aku tidak mengerti perbedaan orang saleh dan bejat, tapi manusia memakai aku menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin, dan terhormat atau terhina. Aku bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi aku. Aku juga bukan orang ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara-gara aku, kakak dan adik beradu dan saling benci karena aku. Bahkan anak dan orangtua berselisih gara-gara aku.

Sangat jelas juga aku bukan Tuhan, tapi banyak manusia menyembah aku seperti Tuhan bahkan kerap kali hamba-hamba Tuhan lebih menghormati aku, padahal Tuhan sudah berfirman janganlah jadi hamba uang. Seharusnya aku melayani manusia, tapi mengapa banyak manusia mau jadi budakku?

Aku tidak pernah mengorbankan diriku untuk siapa pun, tapi banyak orang rela mati demi aku. Perlu diingatkan, aku hanya bisa menjadi alat membayar resep obat, tapi aku tidak mampu memperpanjang hidup manusia. Kalau suatu hari kamu dipanggil Tuhan, maka aku tidak akan bisa menemanimu, apalagi menjadi penebus dosa-dosamu. Karena kamu harus menghadap sendiri kepada sang Pencipta, lalu menerima penghakiman-Nya. Saat itu, Tuhan pasti akan melihat perbuatanmu. Apakah selama hidup kamu menggunakanku dengan baik, atau sebaliknya malah menjadikanku sebagai Tuhanmu? Pesanku, jangan terlalu sayang dan memujaku. Dan jangan lupa mensucikanku dengan bersedekah, agar aku bisa menjadi berkah di dunia dan akhirat.

Menutup artikel ini, izinkan saya untuk mengutip sebuah nasihat indah yang saya dapatkan dari broadcast whatsapp -entah siapa yang mengatakannya- yang jelas nasihat ini bisa menjadi pengingat kita.

 Making friends with rich people not necessarily make you be rich, but making friends with smart and wise people will make you can get what a smart and wise think too.

Berteman dengan orang kaya tidak akan membuatmu kaya, tetapi berteman dengan orang cerdas dan bijak pasti membuatmu cerdas dan bijak juga.

Uang adalah angka dan angka tidak ada akhirnya. Jika kita mengukur kebahagiaan dengan uang, maka pencarian kebahagiaan tidak akan pernah berakhir. Memang kita butuh uang, tapi jangan jadikan uang sebagai standar kesuksesan dan kebahagiaan. Jadikan uang sebagai sarana untuk mendapatkan ridho Tuhan.



Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment