6 Dec 2017

Hinaan Membawa Berkah

Suatu hari, seorang anak muda mengantar penuh muatan berisi puluhan buku ke kantor berlantai 7 di suatu perguruan tinggi. Ketika dia memanggul buku-buku tersebut melalui lift, seorang satpam yang berusia 50-an menghampirinya dan berkata, “Lift ini untuk profesor dan dosen, lainnya tidak diperkenankan memakai lift ini, kau harus lewat tangga!”

Anak muda memberian penjelasan pada satpam itu.  “Saya hanya ingin mengantar buku semobil ini ke kantor lantai 7, ini kan buku pesanan kampus ini !”

Namun, dengan beringas satpam itu berkata, “Saya bilang tidak boleh ya tidak boleh, kau bukan profesor atau pun dosen, tidak boleh menggunakan lift ini! Kedua orang itu berdebat cukup lama di depan pintu lift, tapi, satpam tetap bersikeras tidak mau mengalah.

Dalam benak anak muda itu berpikir, jika hendak mengangkut habis buku semobil penuh ini, paling tidak harus bolak-balik 20 kali lebih ke lantai 7, ini akan sangat melelahkan!

Kemudian, anak muda itu tidak dapat menahan lagi satpam yang menyusahkan ini, lantas begitu pikirannya terlintas, ia memindahkan tumpukan buku-buku itu ke sudut aula, kemudian pergi begitu saja.

Setelah itu, anak muda menjelaskan peristiwa yang dialaminya kepada bos, dan bos bisa memakluminya. Pemuda itu juga sekaligus juga mengajukan surat pengunduran diri pada bosnya. Setelah itu ia pergi ke toko buku membeli bahan pelajaran sekolah SMU dan buku referensi. Sambil meneteskan air mata ia bersumpah bahwa ia bekerja keras, harus bisa lulus masuk ke perguruan tinggi, tidak akan membiarkan dilecehkan orang lagi.

Selama 6 bulan menjelang ujian, anak muda ini belajar selama 14 jam setiap hari. Sebab ia sadar, waktunya sudah tidak banyak. Ia tidak bisa lagi mundur. Saat ia bermalas-malasan, dalam benaknya selalu terbayang akan hinaan security yang tidak mengizinkannya memakai lift. Membayangkan diskriminasi ini, ia segera memacu semangatnya, dan melipatkan gandakan kerja kerasnya.

Belakangan, anak muda ini akhirnya berhasil lulus masuk ke salah satu lembaga ilmu kedokteran. Dan kini, selama 20 tahun lebih telah berlalu, sang anak muda akhirnya berhasil menjadi seorang dokter klinik.

Tapi sang dokter diam-diam sadar. Ia merenung, jika bukan karena hinaan security yang sengaja mempersulitnya, bagaimana mungkin ia termotivasi untuk belajar dengan semangat yang membaja.  Bagaimana mungkin ia berani memiliki mimpi? Ya, dia telah berhutang budi kepada security yang telah menghinanya.

***


Sahabat, kadang kita membutuhkan rasa sakit untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Kadang kita perlu rintangan bahkan ucapan dan tindakan hinaan untuk bangkit dari kelemahan dan kekurangan. Kita tidak sadar bahwa kadang motivasi itu tidak hanya muncul dari kata-kata mutiara yang indah. Tapi pada kenyataan dalam kehidupan yang menyedihkan.
Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment