Sebut saja dia mak onah. Hidupnya sebatangkara setelah ia
ditinggal mati suaminya belasan tahun yang lalu. Kedua anak kandungnya telah
merantau ke kota Jakarta. Dan hal yang paling disesalkannya adalah kedua anak
kandungnya itu jarang pulang ke kampong halamannya. Bahkan bias dikatakan tidak
pernah pulang. Mak onah tidak pernah tahu bagaimana nasib kedua anaknya di
kota.
Hari-harinya ia lalui dengan membesarkan anisah, anak yatim
yang lima belas tahun lalu dibawa suaminya dari panti asuhan. Suaminya mengadopsi
bayi itu. Anisah telah menjadi gadis remaja yang menjadi tumpuan harapan mak
onah satu-satunya. Mak onah tidak rela jika anisah meninggalkannya sendiri. Ia tak
mau hal itu terjadi sebelum ajal menjemputnya.
Anisah adalah gadis cerdas dan berprestasi, sejak bangku smp
ia mendapatkan beasiswa karena prestasinya. Dan apa yang ditakutkan mak onah
menjadi kenyataan ketika anisah mendapat beasiswa untuk kuliah di universitas
luar negeri jurusan kedokteran spesialis jantung. Tentu saja mak onah bimbang. Ia
bahagia anak angkatnya itu bias kuliah di negeri orang, di sisi lain ia merasa
gelisah karena akan berpisah. Lain dari itu, ia tak ingin kehilangan anisah
sebagaimna a telah kehilangan kedua anak kandungnya.
Anisah berusaha meyakinkan ibu angkatnya itu bahwa ia tidak
akan melupakannya begitu saja, hingga perpisahan itu terjadi.
Allah benar-benar membuktikan kuasa dan anugerahnya akan
kesabaran mak onah. Anisah pulang dan menjadi dokter di kampungnya. Tak hanya
itu, anisah juga membuka klinik untuk masyarakat sekitar. Seiring dengan
berjalannya waktu, klinik milik anisah berkembang menjadi rumah sakit swasta di
kecamatan tersebut. Mak onah bahagia dengan kesuksesan anak angkatnya. Hal yang
paling ia syukuri adalah ketika anisah menghajikan dirinya. Tak terbayang sebelumnya bahwa ia bias bersimpuh
di hadapan kabah dan berdoa di multazam. Di sana ia berdoa untuk almarhum
suaminya dan kedua anak kandungnya, semoga anak kandungnya bias pulang atau
setidaknya diketahui keberadaannya.
Terimakasih kepada Dede Abdurrahman atas kisahnya


No comments:
Post a Comment