26 Mar 2026

Biarkan Pikirannya Hidup

 

"Fifah! Jangan ganggu! Ayah lagi repot!" seruku ketika gadis kecilku itu datang nimbrung ketika saya tengah mengetik artikel, dia memaksa saya menyerahkan ponsel yang tengah saya gunakan.

Alih-alih menjauh, dia malah balik bertanya, "Ayah, repot itu apa?" 

Saya hanya menghela napas. Antara ingin menghalaunya ke luar ruangan atau meladeni pertanyaannya. Satu pertanyaan, terkadang melahirkan tanya lainnya.

Terkadang, saat saya sedang lelah, sibuk atau sepulang kerja, meladeni pertanyaan-pertanyaan kecil dan menurut kita sepele itu terasa sedikit menyebalkan. 

Banyak pertanyaan muncul dari mulut kecilnya:

“Kenapa langit biru?” 

“Kenapa orang bisa meninggal?” 

“Kenapa ayah harus shalat?” 

“Kenapa ini boleh, itu tidak boleh?”

Meski sedikit kelabakan dan agak mengesalkan, diam-diam saya menyadari  bahwa: anak yang kritis dan banyak bertanya adalah tanda bahwa pikirannya hidup.

Saya dituntut untuk tidak kesal. Saya dituntut untuk tidak buru-buru memotong pertanyaannya. Karena setiap pertanyaan yang keluar dari mulut kecilnya adalah tanda bahwa ia sedang belajar memahami dunia.

Pertanyaan adalah pintu pengetahuan. Dari pertanyaan lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu lahir pencarian. Dan dari pencarian lahir pemahaman.

Banyak orang dewasa kehilangan kecerdasannya bukan karena mereka bodoh, tetapi karena sejak kecil mereka dibiasakan untuk berhenti bertanya.

“Diam saja.”

“Jangan banyak tanya.”

“Itu bukan urusanmu.”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi pelan-pelan mematikan keberanian berpikir.

Padahal hampir semua penemuan besar dalam sejarah lahir dari satu hal sederhana: rasa ingin tahu.

Albert Einstein pernah berkata, “Yang penting jangan berhenti bertanya.” Karena rasa ingin tahu lebih berharga daripada sekadar kepintaran.

Anak yang bertanya sebenarnya sedang melatih akalnya. Ia sedang belajar menyusun logika. Ia sedang belajar memahami sebab dan akibat. Ia sedang belajar menjadi manusia yang berpikir.

Dan tugas saya sebagai orang tua bukanlah mematikan pertanyaan itu, tetapi menemani perjalanan pencarian mereka.

Ya. Saya terkadang bingung ketika ditodong oleh pertanyaan konyol yang tiba-tiba. Pertanyaan yang sebenarnya kita pahami, tapi saking sederhananya, pertanyaan itu sulit untuk didefinisikan atau dibahasakan secara lisan.

Terkadang, ada pula pertanyaan yang kita tidak tahu jawabannya apa. 

Tidak apa-apa jika kita tidak selalu punya jawabannya. Katakan saja dengan jujur, “Ayah atau Ibu juga belum tahu. Nanti kita cari tahu yaa.”

Misal, ketika Afifah melihat laron merubungi bola lampu di sore hari saat musim basah, dia bertanya tentang serangga itu. Dia bilang, ada semut terbang. Saya bilang padanya itu bukan semut, tapi laron.

"Laron itu apa?" tanyanya. Maka saya membuka youtube dan kami menonton film dokumenter tentang Laron itu bersama-sama. 

Terkadang, dari pertanyaan-pertanyaan kecilnya itu juga saya belajar. 

Pertanyaan kecilnya mengajarkan kepada saya bahwa belajar adalah proses seumur hidup.

Hari ini mereka bertanya tentang hal-hal kecil. Besok mereka akan bertanya tentang kehidupan. Tentang nilai. Tentang kebenaran. Tentang Tuhan. Tentang makna hidup.

Jika sejak kecil mereka merasa aman untuk bertanya, maka mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berani berpikir, berani mencari kebenaran, dan tidak mudah ikut-ikutan.

Jadi, setiap kali aku merasa agak sedikit kesal dengan pertanyaan demi pertanyaan yang berletupan dari mulut kecilnya, saya selalu ingat ini: Mungkin di balik pertanyaan kecil itu sedang tumbuh seorang ilmuwan, seorang pemikir, seorang pemimpin, atau seorang pencari kebenaran.

Jangan padamkan apinya hanya karena kita bosan dengan rasa ingin tahunya.

Karena masa depan sering kali dimulai dari satu anak kecil yang berani bertanya,

dan satu orang dewasa yang sabar untuk mendengarkan.


Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment