21 Jan 2026

Saya Heran, Kenapa Mereka Alergi Dalil?!

 

Saya heran kenapa ada orang yang sangat anti terhadap dalil. Bahkan sampai-sampai dia marah jika ditanya soal dalil. Dia juga selalu menuduh siapa pun yang menanyakan dalil adalah orang-orang 'wahabi' yang jumud dan kaku. Kemudian tuduhan itu semakin melebar pada kebaruan-kebaruan dalam perkara duniawi yang tidak berdalil. Padahal, yang kita butuhkan hanyalah hujjah atau dalil dalam perkara ibadah yang memang sudah baku. Sudah ditentukan secara syariat yang sudah sempurna dan paripurna.

Kenapa ada orang yang tidak suka ketika ditanya masalah dalil? Padahal itu adalah standar dalam beragama dan berkeyakinan. Lewat dalillah kita mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan. 

Mereka yang tidak suka dalil dan hanya menyandarkan amal pada ikut-ikutan semata bisa saja memiliki sifat dan sikap yang sama dengan orang musyrik di masa silam.

Kaum musyrik ketika ditanya kenapa melakukan ini dan itu? Jawabannya: karena kami menemukan nenek moyang kami melakukannya. Taklid buta dan antipati pada pertanyaan masalah dalil adalah perilaku primitif dalam berkeyakinan.

Betul, Ikut-ikutan yang buruk itu ikut-ikutan dalam perkara yang batil. Lalu bagaimana jika kita ikut-ikutan dalam kebaikan yang sudah dicontohkan oleh orangtua dan ulama yang bersih? Tentu saja itu baik. Tapi jauh lebih baik jika kita beribadah dan beragama bukan karena 'sudah ada dari sananya', tapi beribadah di atas hujjah. Inikah sikap ilmiah yang sedari dulu menjadi warisan yang harusnya dipertahankan.

Pada kalangan tertentu atau kondisi tertentu, kita memang diperbolehkan taklid buta. Misal, orang yang baru masuk islam tidaklah mungkin memahami dasar2 agama secara komprehensif lengkap dengan dalilnya. Mereka tentu mengikuti agama berdasarkan bimbingan orang yang lebih paham. Pada mulanya mungkin tak tahu dalil. Tapi mereka dituntut untuk belajar seiring dengan berjalannya waktu. 

Contoh lainnya, anak kecil. Orangtua dan pendidik mungkin saja mengajak anaknya shalat, puasa dan menutup aurat tanpa perlu memberikan mereka pemahaman bahwa dalil shalat itu ada di quran surat sekian ayat sekian, di dalam hadis riwayat fulan nomor sekian. Tidak perlu sedetail itu. Otak anak-anak masih sederhana. Mereka hanya butuh contoh dan 'taklid' pada contoh2 yang diberikan  orangtua dan gurunya. Anak2 hanya butuh lingkungan untuk membentuk kebiasaan. 

Tapi ketika mereka dewasa dan mampu berpikir secara matang, mereka akan mencari tahu alasan demi alasan itu atau kita sendiri yang memberitahu mereka sebelum mereka bertanya karena kita tahu mereka sudah mampu berpikir.

Jadi, jika orang alergi sama dalil, patut dipertanyakan. Apakah dia ingin diperlakukan seperti bocah ingusan? Atau dia ingin memiliki prilaku primitif layaknya orang musyrikin yang ikut nenek moyang tanpa tahu alasan pasti dibalik setiap tindakan? Atau sikap alergi terhadap dalil itu timbul dari 'trauma' terhadap orang-orang yang kritis dalam beragama dan disaat yang sama dia sadar bahwa dia tidak punya hujjah yang kuat, lalu dia merasa terancam oleh orang-orang beragama yang punya pertanyaan dan sikap kritis. Lalu keluarlah tuduhan 'wahabi' itu dan keluarlah argumen aneh: dalam ibadah tak perlu dalil, yang penting ikut ulama. Yang penting ulamanya punya sanad, katanya. 

Ulama yang mana dulu? Klaim sanad yang mana dulu? 

Orang Syi'ah ikut ulama. Dan ulama orang Syi'ah memiliki 'dalil' internal di kalangan mereka dan mereka yakin pada ulamanya. Apakah kita akan meyakini Syi'ah itu benar hanya karena mereka menyodorkan dalil versi mereka atau hanya karena mereka mengeklaim ikut ulama?

Orang nyeleneh biasanya ikut 'ulamanya' yang juga sama-sama nyeleneh. Mama Gufran contohnya. Mama Gufran juga mengaku punya sanad dan membagikan dzikir 'ijazah bersanad' pada santrinya. Apakah kalian  yakin ajaran Mama Gufran itu absah hanya karena dia bilang 'saya ulama dan saya bersanad?'. Lalu kamu merasa masa bodoh dengan kontroversi dan pernyataan ngaco orang tersebut?!

Setiap orang bisa mengklaim dirinya berilmu, bersanad bahkan berdalil.

Maka di sinilah kita harus memiliki jiwa kritis. 

Sikap kritis itu mencakup pertanyaan berikut:

1. Adalah dalil dari amalan yang kulakukan? 

2. Jika ada dalilnya, apakah dalilnya kuat atau lemah? Adakah dalil yang lebih kuat dan relevan?

3. Jika tidak ada dalil, apakah aku harus terus melakukannya?

Memahami dalil ini tentu saja dengan belajar. Berguru pada orang-orang yang paham dan faqih. 

Soal dalil ini, kita hendaknya moderat. Tidak bermudah-mudah melakukan ibadah jika tidak ada dalilnya. Tidak pula menuduh orang lain salah dalam masalah cabang/furu' hanya karena beda dalam menafsirkan dalil. Boleh jadi pihak lain juga memiliki dalil. Cuma beda penafsirannya. 

Dalam masalah cabang yang remeh, hendaknya bertasamuh. Tapi dalam perkara ibadah dan aqidah yang harus berlandaskan pada dalil rajih, jangan pernah main2 dan menyepelekan dalil. Kecuali kamu menganggap ajaran islam belum sempurna, tidak sempurna dan harus disempurnakan dan ditambal. Padahal Allah telah menjamin semua perkara dalam keyakinan dan ibadah ada tuntunan yang risalahnya sudah diturunkan secara sempurna. 

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment