3 Feb 2026

Anak Malaysia Menggunakan Kosakata Bahasa Indonesia, Guru Malaysia ini Jadi Khawatir

 


Seorang guru di Malaysia mengungkapkan kekhawatirannya ketika melihat banyak anak-anak Malaysia mulai familiar dengan bahasa Indonesia. Guru itu mencontohkan bagaimana ada anak TK yang menulis kata bebek alih-alih itik di bawah gambar bebek. Kemudian ada anak sekolah menggunakan kata 'bisa' dalam karangan alih-alih menggunakan kata 'boleh.'


Menurutku, kekhawatiran cikgu Malaysia itu bisa dipahami, tapi tidak perlu dibesar-besarkan. Ada sisi wajar-nya, ada juga sisi yang perlu diluruskan.


Seorang guru, terutama guru bahasa punya tanggung jawab menjaga standar bahasa nasional. Di Malaysia, Bahasa Melayu adalah simbol identitas, kebangsaan, dan kesinambungan budaya.  Soal 'kemurnian bahasa ini, memang sepatutnya guru mengajarkan anak berbahasa yang benar sejak dini. 


Masalahnya, anak2 seringkali menggunakan bahasa bukan hanya soal benar dan salah, tapi pada kebiasaan. Hal ini juga tak lepas dari pengaruh lingkungan dan media sosial semacam tiktok dan YouTube.


Tak hanya soal konten berbahasa Indonesia, banyak pula lagu berbahasa Indonesia yang booming di Malaysia.


Jika menganggap hal ini sebagai krisis bahasa, saya pikir ini terlalu berlebihan. Bahasa Melayu Malaysia dan Bahasa Indonesia itu berasal dari akar yang sama dan saling memahami secara alami. Perbedaannya lebih banyak di pilihan kosakata, bukan struktur dasar. 


Bahkan bahasa yang biasa digunakan di Malaysia pun biasa digunakan di Indonesia karena memang bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu. Sebagai contoh, kita juga mengenal kata duit selain uang, kedai selain toko. 


Karena kedekatan inilah, Indonesia tidak pernah menganggap bahasa Melayu sebagai bahasa yang asing, apalagi menganggapnya sebagai ancaman. 


Bahkan Badan Bahasa Indonesia yang berada di bawah naungan dinas pendidikan menerbitkan majalah PUSAT yang di dalamnya ada rubrik sisipan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang memuat karya sastra berupa cerpen dan puisi dari penulis jiran di tiga negara Melayu: Malaysia, Singapura dan Brunei. (Yang mau donwload majalahnya silakan ketik di mesin pencarian google)


Selain itu, film upin ipin membawa pengaruh berbahasa pada sebagian anak Indonesia. Sampai-sampai ada anak yang menyebut kulkas dengan istilah peti sejuk. Toh hal itu tetap tidak membuat para orangtua atau guru khawatir. Kuncinya ada pada kekokohan peran guru dan negara dalam membentuk identitas bahasa. 


Alih-alih menyalahkan bahasa Indonesia, hendaknya orang Malaysia introspeksi kenapa bahasa Melayu di negara mereka rentan. Mungkin jawabannya ada pada minimnya efforts untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai identitas yang membumi. Sering kita lihat konten kreator Malaysia yang mencoba mengajak anak muda Malaysia bercakap Melayu, tapi ternyata mereka gagu ketika bercakap Melayu. Mereka lebih suka berbahasa Inggris. Peranakan Tionghoa di sana lebih familiar dengan Mandarin. Begitupun dengan peranakan lainnya. 


Fenomena bahasa liyan akrab di lidah pribumi ini lebih tepat disebut sebagai kontak bahasa akibat globalisasi digital, bukan penjajahan bahasa. 


Anak Malaysia menyerap kata Indonesia bukan karena bahasanya lebih unggul, tapi karena:


konten anak Indonesia lebih banyak

algoritma platform digital lintas negara

YouTuber dan animasi Indonesia sangat produktif


Ini mirip anak Indonesia perkotaan, terutama jaksel yang terbiasa dengan kata sorry, literally atau please karena terbiasa nginggris, namun tidak otomatis kehilangan bahasa Indonesia.


Yang lebih penting adalah peran sekolah dan keluarga. Daripada melarang pakai bahasa liyan, yang lebih sehat adalah: sekolah menegaskan kosakata baku, guru memberi penjelasan perbandingan, bukan sekadar koreksi dan negara memiliki kebijakan bagaimana supaya bahasa nasional menjadi prioritas.


Yang harus diingat adalah bahwa bahasa tidak mati karena dipengaruhi,

bahasa mati karena tidak diajarkan dengan sadar.


Bogor, 1 Februari '26

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment