CINTA SEORANG BARISTA
Oleh: Husni Magz
Mungkin ini hari terakhir bagi Sekar bekerja di kafe Perfecto. Telinganya tidak akan sanggup bertahan menengarkan omelan dan ocehan Arya, salahsatu owner dari dua owner kafe Perfecto. Arya baginya seperti tokoh antagonis dalam cerita yang selalu membuatnya menderita. Sementara dia berperan sebagai tokoh protagonis yang menderita sepanjang waktu kerjanya.
Sebenarnya dia bekerja di kafe Perfecto hanyalah sebuah kebetulan. Selepas kuliah dia ingin bekerja di sebuah restoran cina yang mewah. Tetapi Sora, sang owner kafe Perfecto memintanya untuk menjadi seorang barista di kafenya. Dan lagi-lagi itu sebuah kebetulan kerena Sora adalah sahabat kakaknya Aldi.
“Gue bisa kasih kamu gaji setara dengan restoran yang kamu ingin bekerja disana,” janji Sora kepada Sekar.
Dan tentu saja Sekar merasa itu sebuah keberuntungan. Menurutnya menjadi seorang Barista tidak seribet menjadi seorang pelayan di restoran yang harus memasak atau berkutat mengantarkan piring-piring dan hidangan kesana kemari. Dia hanya perlu menggiling biji kopi dan menyeduhnya dengan mesin pembuat kopi.
Tapi itu semua tidak sebagaimana harapan Sekar. Memang menjadi seorang barista itu tidaklah seberapa rumitnya. Tapi semuanya menjadi rumit setelah dia tahu bahwa owner kafe Perfecto bukan hanya Sora. Tapi juga ada Arya, si sepupu yang jika boleh dianalogikan seperti tokoh voldemort dalam tokoh Harry potter. Tatapannya dingin, suka membentak dan tidak pernah puas dengan kerja Sekar. Di mata Arya, sekar selalu salah dan yang pasti terlalu lamban. Nah, Sekar pernah protes kepada Sora tentang hal ini.
“Kenapa kakak nggak pernah ngasih tahu kalo ada Arya. Tahu begini aku tidak mau kerja disini,” protes Sekar.
Sora menghela nafas panjang, “Biar aku nanti yang bicara pada Arya. Dia memang keterlaluan.”
***
“Heh, sekar. Kerja yang benar. Itu ngapain?”
“Nyeduh kopi kak.”
“Nyeduh kopi kok lamanya seabad. Lu bisa liat nggak sih. pengunjung udah pada ngantri. Bisa-bisa kafeku ditinggalin para pelanggan kalo kerja lo selambat siput. Bisa cepat dikit nggak sih?”
“Iya kak.”
“Lo liat kan Sora, lo emang nggak bisa memilih barista yang handal untuk menangani kafe kita.” Kali ini dia menyemprotkan sumpah serapahnya kepada sepupunya yang penyabar. Aku bisa mendengar dengusan Sora. Tapi pemuda penyabar itu tidak menanggapi ocehannya yang pedas.
“Heh, malah melamun. Itu cangkir jangan dianggurin. Cepetan isi!”
Sekar hanya bisa menghela nafas dan menahan gejolak kejengkelan yang meluap-luap di hatinya. Oke, kali ini aku bisa bersabar. Tapi besok, aku tak segan untuk keluar dari kafe terlaknat ini. Aku bisa mendapatkan pekerjaan lain yang lebih menyenangkan dibandingkan mendengarkan ocehan si voldemort ini, batin Sekar menahan jengkel.
***
“Lu ngadu apa kemarin sama si Sora.”
Sekar hanya diam. Mengabaikan pertanyaan sarkastis Arya dan pura-pura penyibukan diri dengan penyangrai kopi di hadapannya.
“Lu ngadu kalo lu nggak betah gara-gara gue, kan? Lagian siapa yang butuh elu. Lagian gue nggak pernah merasa beruntung kok dengan kehadiran seorang barista lamban seperti kamu.”
Kali ini kesabaran Sekar benar-benar tidak bisa tertahankan. Tangannya gemetar karena menahan amarah. Matanya berkaca-kaca karena merasa terhina.
Sekar menggeberak meja. “Lu bebas ngomong apa aja sama gue. Tapi lu harus ingat, gue juga manusia yang punya perasaan. Oke, detik ini juga gue resign dan gue minta gaji gue sekarang!”
Sekar berteriak. Dan dia aneh sendiri dengan kata-katanya barusan. Itu adalah pertama kalinya dia marah. Oh, sebetulnya bukan pertama kali dia marah. Dia pernah marah, tapi jarang. Jadi Sekar merasa aneh jika dia marah.
Sekar mencopot celemek yang menempel di dadanya dan berlari keluar dari Kafe. Sora yang berada di ruangan belakang tentu saja tahu apa yang terjadi. Dia menghampiri Arya yang hanya diam di kursinya.
“Lu gila ya.”
Arya terdiam dan memutar bola matanya, “Gue udah bosan liat barista lo.”
“Lu nggak harus segitunya kali Ar. Masih untung belum ada pengunjung yang datang dan melihat keributan konyol kayak gini. Lu emang keterlaluan.”
Arya mengangkat bahunya dan meneruskan aktifitasnya menyangrai kopi. Seakan barusan tidak terjadi hal apa pun yang mengusik perasaannya.
Sora berlari menghampiri sekar yang telah berada di area parkiran.
“Ka Sora, saya mau pulang. Besok saya mau ambil gaji kesini.”
Sora menghela nafas, “Aku minta maaf jika gara-gara Arya kamu nggak betah tinggal disini. Aku juga nggak bisa maksa kamu untuk tetap disini jika kamu memang memutuskan untuk resign. Besok kamu bisa ambil gaji kamu bulan ini.”
Sekar mengangguk. “Makasih kak.”
Kemudian dengan langkah gontai dia menghampiri motor meticnya dan berlalu dari halaman kafe dengan perasaan tak menentu.
***
“Mbak, tadi ada mantan bos mbak datang kemari,” ujar Beni ketika Sekar pulang dari salon tempatnya mengais rupiah. Sudah dua bulan lamanya Sekar bekerja di sebuah salon kecil di bilangan kebayoran. Walaupun sekolah menengahnya jurusan tata boga, tapi lamaran kerja Sekar justru diterima di sebuah salon kecantikan. Ini memang satu kebetulan diantara banyak kebetulan-kebetulan yang ada dalam hidupnya.
“Tadi kak Sora datang kesini, dik?” tanyanya pada adik semata wayangnya itu.
“Bukan, mas Sora saya tahu orangnya. Tapi ini beda, kalo nggak salah namanya Aryo.”
“Aryo? Arya maksudmu?”
“Nah itu.”
Kening Sekar berkerut. Mau apa si voldemort itu datang kesini.
“Mau ngapain dia?”
“Nggak tau,” jawab Beni acuh.
“Emangnya tadi kamu nggak nanya keperluannya apa.”
Beni menggedikan bahu dan kembali asyik dengan komik narutonya.
Ah, apa peduliku memikirkan apa tujuan kedatangan lelaki itu ke rumahku, begitulah gerutu Sekar di dalam hati. Tapi tetap saja dia bertanya-tanya.
Apakah dia menyesal telah bertindak kasar sehingga dia memintaku kembali bekerja sebagai Barista? Mungkin dia kewalahan mengerjakan semua pekerjaan yang harus dia tangani sepanjang hari. Mungkin dia belum menemukan seorang barista handal yang tidak lelet dan tidak menjengkelkan seperti dirinya. Rasain! Tiba-tiba timbul rasa puas di hari Sekar.
***
Siang itu Sekar tengah melakukan perawatan kepada seorang pengunjung ketika seorang gadis cantik datang. Sepertinya dia pengunjung baru kerena Sekar belum pernah melihat dia sebelumnya. Gadis itu tersenyum ke arah mbak Alen, si resepsionis dan menanyakan beberapa hal yang aku yakin tentang perawatan wajah.
Sekar terkesiap ketika seorang lelaki masuk mengiringi gadis itu. Itu kan Arya? Apakah dia mengantar pacarnya luluran di salon? Sekar berharap lelaki bajingan itu tidak menyadari keberadaannya sehingga dia tidak memiliki urusan dengan lelaki itu. Toh jika lelaki itu mengetahui keberadaannya, dia akan bersikap acuh tak acuh seakan tidak pernah terjadi apa-apa antara mereka berdua. Lagi pula sepertinya lelaki kasar itu tidak akan pernah berpikir untuk berbicara kepada mantan anak buahnya.
Hei, kenapa aku menjadi mengkhawatirkan hal itu?
“Mbak Sekar. Tolong, ini ada pelanggan baru.” Itu suara mbak Alen yang membuyarkan lamunan Sekar. Sekar tergeragap dan segera menghampiri gadis cantik itu. Syukurlah si lelaki berengsek itu tengah berada di ruang tunggu dan sibuk dengan gadgetnya. Jadi lelaki itu tidak melihat Sekar.
“Sebelumnya belum pernah treatment disini ya,” tanya Sekar hanya untuk berbasa-basi sembari menyiapkan peralatan.
“Belum. Ini pertama kalinya. Temanku sih ngerekomendasiin buat lulur disini.”
“Mau pake cream apa?”
“Avocado aja.” Jawabnya pendek.
Sekar pun mulai membuka tutup cream dan mengoleskannya di wajah si gadis imut tersebut. “Laki-laki yang mengantarmu itu pacarmu ya?” tanya Sekar dengan rasa ingin tahu. Peduli amat jika gadis ini menganggapnya terlalu mencampuri urusan pribadinya.
Gadis itu terawa kecil. “Bukan, dia kakakku.”
Oh tuhan, semoga adiknya ini tidak secerewet dan segalak kakaknya.
Dan disaat itulah tidak dinyana, tiba-tiba lelaki itu muncul di ambang sekat. Tatapan mereka bersirobok. Sekar terkesiap dan Arya tanpak terkejut melihat mantan anak buahnya tengah melulur wajah adiknya.
“Ada apa mbak?” tanya si gadis menyadari bahwa tangan Sekar berhenti melakukan gerak pijatan di pipinya.
“Oh tidak ada apa-apa.” Sekar kembali menundukan kepalanya dan mengacuhkan keberadaan makhluk yang pernah dia benci itu.
“Nisa! Masih lama nggak sih?” itu suara si makhluk kurang ajar itu.
“Yaelah kak, barus saja mulai.” Jawab si adik yang ternyata bernama Nisa itu. Sekar hanya bisa menghela napas dan bersyukur karena setidaknya Arya tidak bereaksi apa pun selain memasang mimik terkejut di wajah dinginnya ketika melihatnya tadi. Tanpaknya Arya juga tidak ambil pusing dan mencoba acuh tak acuh meski kembali bertatap muka dengan mantan anak buahnya di salon yang dikunjungi sang adik.
***
“Mbak, kok kemarin mbak nggak pernah cerita kalo mbak itu mantan anak buah kakakku di kafe.” Ini kalimat pertama yang keluar dari mulut Nisa di hari kedua dia luluran. Serta merta Sekar menghentikan gerakan tangannya.
“Oh pantesan kemarin kakak bertanya siapa yang nganterin aku.” Itu kalimat kedua Nisa.
Sekar tertawa. “Iya, aku kira kamu pacarnya Kak Arya.”
“Kenapa mbak? Cemburu ya...”
“Apaan sih. ngaco kamu Nis!” bantah Sekar dengan cepat. Ya tuhan, perempuan mana yang cemburu dengan lelaki macam Arya. Perempuan mana yang berani jatuh cinta dengan lelaki garang seperti dia.
“Oh iya kak, kakakku titip salam buat mbak. Terus juga minta tolong ke aku buat minta maaf. Kakak cerita katanya dulu pernah membuat kakak sakit hati.”
Hati Sekar mencelos dan tidak bisa berkata apa-apa selain diam. Sementara dia mendongak dan dia mendapati lelaki itu tersenyum di sekat yang memisahkan ruangan lulur dengan ruangan tunggu.
Pipi sekar bersemu merah karena malu.


No comments:
Post a Comment