Setiap hari raya idul fitri, usai salat id, rasulullah
berkunjung dari rumah ke rumah untuk bersilaturahim. Semua riang gembira
setelah melaksanakan puasa ramadhan sebulan penuh. Anak-anak juga gembira dan
bermain di sepanjang jalan yang dilewati rasulullah saw. Pakaian mereka tampak bagus dan baru.
Namun di sudut jalan rasulullah saw melihat seorang bocah
perempuan yang menutup wajahnya dan menangis sedih. Pakaian dan alas kakinya
tampak lusuh. Rasulullah pun menghampiri gadis kecil itu.
“mengapa kau menangis nak? Bukankah ini hari raya?” Tanya rasulullah
dengan lembut.
Anak itu terkejut karena ada orang yang bertanya kepadanya. Di
sela tangisnya ia bercerita,” hari ini anak-anak lain bergembira karena bias merayakan
hari raya bersama dengan kedua orang tuanya. Saya jadi teringat kepada ayah
saya. Dulu ayah saya selalu member baju dan sepatu baru di setiap hari raya. Tapi
ayah gugur saat berperang bersama rasulullah. Karena itulah saya menangis.”
Mendengar penuturan gadis kecil itu rasulullah merasa iba. Dengan
lembut beliau membelai kepalanya dengan berkata,”anakku, hapuslah air matamu. Maukah
kau bila rasulullah menjadi ayahmu, aisyah menjadi ibumu dan Fatimah menjadi
kakakmu? Bagaimana?’
Anak itu memandang rasulullah. Tak percaya jika yang
dihadapannya itu adalah rasulullah saw. Kata-kata rasulullah sungguh
menenangkannya. Ia mengangguk dan menyambut uluran tangan rasulullah saw. Rasulullah
menggandengnya menuju rumah.
Fatimah kemudian membersihkan badan si bocah menyisir
rambutnya serta memakaikan kepadanya pakaian dan sandal baru. Anak itu sekarang
bias tersenyum. Ia bias bergembira dan bermain dengan anak-anak lainnya yang
merasa iri karena ia bias menjadi anak angkat rasulullah saw.


No comments:
Post a Comment