9 Jan 2016

KODE ETIK GURU

 Tidak ada satu satu bidang pekerjaan atau profesi dalam suatu urusan yang tidak mempunyai  sifat-sifat atau kriteria yang harus dipegang dan yang harus diperhatikan bagi orang-orang yang bersangkutan. Termasuk di dalamnya profesi guru.
Yang perlu diketahui oleh para guru adalah semua sifat yang bisa memberi mereka pengarahan kepada sikap yang positif yang harus mereka terapkan dan sikap-sikap negatif yang tidak selayaknya diaplikasikan dalam proses belajar mengajar antara dirinya dan murid-muridnya.
Dalam tulisan yang singkat ini –insya allah- akan dipaparkan kode etik seorang guru yang disarikan dari buku “Menjadi Guru yang Sukses dan Perpengaruh” karangan DR. Muhammad Abdullah Ad-Duweys, seorang pengajar dari arab saudi yang telah berkecimpung di dunia pendidikan selama belasan tahun lamanya.
Kode etik guru selayaknya bisa diterapkan dalam sistem pengajaran yang berbasis pada perbaikan karakter berlandaskan tarbiyah islamiyah.
Berikut kode etik seorang guru;
a.       Ikhlas hanya kepada Allah
Hendaknya seorang guru meluruskan niat dalam mengajar. Tidak ada tujuan lain selain untuk mengadakan perbaikan terhadap kondisi umat. Memupuk keimanan dan ketakwaan terhadap peserta didik dan menunaikan semua kewajibannya dengan sungguh-sungguh mengaharap keridhoan allah semata.
b.      Mendorong dan memacu murid untuk giat dalam mencari ilmu.
Imam nawawi berkata,”hendaknya guru mendorong muridnya untuk mencintai ilmu, mengingatkannya terhadap keutamaan ulama, dan bahwa mereka adalah pewaris para nabi alaihi salam, dan di dunia ini tidak ada derajat yang lebih tinggi darinya.”[1]
c.       Menjadi teladan bagi para peserta didiknya
-          Berpenampilan baik
-          Berbicara dengan baik
Sudah selayaknya dan seharusnya kata-kata yang keluar dari mulut seorang ahli ilmu (guru) adalah kata-kata positif yang membangun dan mencerahkan umat. Karena lisan adalah barometer penilaian dari kepribadian seseorang.
-          Berkepribadian matang dan terkontrol
-          Memberi teladan yang baik
Imam syafi’i mewasiatkan kepada para pendidik anak-anak khalifah Harun Ar-Rasyid,’mulailah dalam mendidik anak-anak amirul mukminin dengan mendidik dirimu sendiri. Karena mata mereka tertambat pada matamu. Baik bagi mereka adalah apa yang kamu anggap baik. Buruk bagi mereka adalah apa yang kamu anggap buruk dan kamu benci.”
d.      Berperan dalam memperbaiki sistem pengajaran
Jika seorang guru yang memiliki pemikiran yang baik. Dalam artian dia sadar akan tanggung jawab dan amanah yang ia emban di hadapan umat, maka ia akan dengan giat dan aktif memberikan saran yang membangun demi kelangsungan proses pendidikan dan mengoreksi kekurangan dari birokrasi pendidikan dimana ia bernaung.
e.      Bergaul dengan baik terhadap peserta didik
-          Menghormati dan menghargai peserta didik
-          Memuji murid yang berbuat baik
-          Berperilaku adil diantara peserta didik
-          -proporsional dalam mengoreksi kesalahan

f.        Tawadhu
g.       Memperhatikan murid unggul

Selain hal-hal yang telah dipaparkan di atas, selayaknya kita tahu hal-hal yang mesti dihindari oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar. Diantara sikap negatif yang harus dihindari adalah;
1.       Mneyombongkan diri dengan tidak menerima kebenaran
2.       Hadad kepada murid
3.       Fatwa tanpa ilmu
....dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui (QS. Al-A’raaf: 33)
“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS. Al-Isra: 36)
Ibnu mas’ud ra, berkata,”wahai manusia, barangsiapa yang mengetahui hendaknya ia menyampaikan. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui hendaknya ia mengatakan,’saya tidak mengetahui’. Karena termasuk ilmu adalah ucapan ‘saya tidak tahu’ untuk perkara yang ia tidak tahu.
4.       Banyak bergurau
5.       Memanfaatkan anak didik untuk urusan pribadi
6.       Berada di tempat yang tidak pantas
7.       Emosional dan mudah mengancam
8.       Mengejek dan merendahkan murid
9.       Menggunjing murid
10.   Membuat murid bosan
11.   Mengajar di luar batas kamampuan murid
12.   Menjelek-jelekan guru lain dan pelajarannya
Imam Gazali berkata,” sesungguhnya guru yang bertanggung jawab terhadap sebagian ilmu, hendaknya tidak menjelek-jelekan ilmu lainnya di depan murid. Seperti guru bahasa yang mencela fiqih, atau guru ilmu fiqih mencela ilmu hadits atau tafsir.[2]





[1] Almajmu’ Syahrul Muhadzdzab(1/30)
[2] Ihya Ulumudin (1/96)
Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment