Sani dan zaki dijodohkan orang tua mereka karena kekerabatan
dan kepentingan bisnis. Padahal mereka tidak saling mencintai. Hasilnya bisa
dibayangkan, mereka merasa rumah tangga mereka tidak akan pernah harmonis. Lagi
pula, sebelumnya mereka punya pasangan idaman masing-masing.
Suatu hari sani diajak tetangganya yang salafi untuk
menghadiri pengajian di komplek perumahan mereka. Awalnya sani enggan. Ia tidak
terbiasa menghadiri pengajian. Tapi juga sani sungkan menolak karena tetangganya
itu terlalu baik padanya.
Di pengajian sani merasa terenyuh dengan ceramah ustadzah
tentang berbakti kepada suami dan keutamaanya. Setelah kajian usai, sani
menghampiri ustadzah dan curhat prahara rumah tangganya.
Akhir-akhir ini zakni jarang pulang atau pulang larut malam,
hingga ia diketahui selingkuh dari hapenya. Hingga suatu malam zanki terus
terang bahwa ia tak ingin bertahan lebih lama lagi. Sani dan zaki terlibat
pertengkaran hebat malam itu.
Sani teringat dengan nasihat ustadzahnya. Maka mulai saat
itu ia bertekad untuk berubah dan mencoba menerima guratan takdirnya. Ia
berusaha berhati lapang menerima zaki sebagai suaminya seutuhnya. Sani
mengawali harinya dengan menyediakan sarapan pagi untuk suaminya. Padahal
sebelumnya ia belum pernah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Zaki selalu
mengambil makannya sendiri. Pagi itu mereka makan bersama dengan canggung.
Adapun zaki merasa cuek dengan perubahan sani. Kemudian sani menyetrika baju
zaki dan menyemir sepatunya. Zaki heran tapi ia cuek dengan perubahan itu.
Lama-kelamaan zaki merasa heran dan bingung dengan perubahan
drastis sani. Tapi ia merasa segan dan terlalu tinggi harga dirinya untuk
membalas kebaikan sani. Ia tetap berkata ketus walau sani sudah merubah gaya
bicaranya. Di hadapannya, zaki tetap beranggapan bahwa sani seorang perempuan
yang menjengkelkan.
Di kantor, zaki tetap menjalin hubungan dengan sisi,
sekretaris pribadinya. Nuraninya yang terdalam ia merasa berdosa dan mulai ragu
dengan sikapnya selama ini. Ia mulai yakin akan ketulusan sani. Tapi ada sisi
keraguan di hatinya yang lain.
Hingga suatu malam, zaki dan sisi telah berbuat perbuatan
yang terlarang. Di pagi harinya ia menerima kabar bahwa sani masuk rumah sakit
karena kecelakaan. Saat itulah zaki merasa ada yang hilang dari hatinya. Ia
merasa takut akan kehilangan seseorang yang selama ini ia benci. Hatinya merasa
terusik dengan segala kebaikan sani akhir-akhir ini. Bayangan sani yang
tersenyum dan melayaninya selalu berkelebat di kepalanya.
Hingga dokter memvonis bahwa sani tidak akan normal kembali
hidupnya. Ia akan menjadi perempuan buta dan pincang kakinya. Zaki meyakinkan
dirinya untuk menjaga sani dan ia akan menjadi suami yang baik untuknya
No comments:
Post a Comment