Hai! Kamu pasti terkejut ketika mengetahui kenyataan bahwa Ryan
anak SMA, bukan bapak-bapak, apalagi opa-opa. Tapi ada kesamaannya juga sih, Ryan
adalah pecinta kumis.
Ryan adalah salah satu dari dua temannya yang sama-sama maniak kumis. Bahkan mereka punya nama
tersendiri untuk genk mereka. TRIO KOPLAK (Komplotan Laki Kumis-an). Dan mereka
telah mendeklarasikan bahka mereka tidak akan mencopot eh, mencukur kumis
mereka sampai akhir hayat. Mereka merasa bangga dengan kumis yang bertengger
anggun di atas bibir mereka.
Hingga bencana itu tak pernah terduga. Selepas melaksanakan
upacara bendera, Ryan, Bondi dan Ande dipanggil Pak Kepsek ke ruangannya yang horror. Di hadapan mereka duduk Pak Kepsek
di atas kursi kebesarannya. Tangannya yang kekar dan penuh dengan batu akik
memilin-milin kumis tebalnya. Mungkin tebalan kumis Pak Kepsek dari pada trio
KOPLAK itu. Tapi soal gaya kumis, yang pasti lebih cool kumis mereka bertiga. Kumis Pak Kepsek tak lebih dari gumpalan
hitam layaknya ulat bulu yang bertengger di atas bibir hitamnya. Sementara
kumis TRIO KOPLAK, walau pun agak tebal tapi tanpak terawat dan menambah kesan
gagah. Memanjang lurus dengan garis lengkung yang artistik bagai pahatan yang
sempurna. Bukan kumis ala Jojon yang seuted, apalagi kumis jaman kompeni baheula yang melengkung layaknya tanduk
banteng.
Pak Kepsek berdehem dan menatap Ryan, Bondi dan Ande dengan
tatapan yang tajam setajam silet. Bahkan Ryan tidak yakin, apa kesalahan yang
ia dan kedua temannya perbuat sehingga harus menghadap Pak Kepsek di ruang
horornya itu.
Pak Kepsek berdehem dua kali dan berkata,”Sengaja saya
panggil kalian bertiga. Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan.”
Pengennya Ryan bilang, Apa
kesalahan kami pak? Kami tidak punya kesalahan yang membuat kami harus
menghadap ke ruangan bapak. Hal itu, bisa jadi kesalahan yang bapak anggap
telah kami lakukan kan?. Tapi pertanyaan itu hanya berputar-putar di
benaknya. Ia tak berani mengatakannya. Bahkan tenggorokannya pun tercekat dan
tidak bisa mengeluarkan suara selain desah nafas. Maklum, Ryan masih trauma
dengan sosok di depannya itu. Ia pernah tiga kali menghadap gara-gara kasus
tawuran dan anting lidah yang ia sempat pakai. Kejadiannya sih udah lewat
setahun yang lalu.
Pak Kepsek kembali menatap mereka dengan tatapan sulit dimengerti.”Bapak
tidak suka kalian berkumis!”
Ketiga KOPLAK itu tercekat dan terperanjat kaget. Kok bisa?
Kali ini Bondi yang angkat bicara.”Kenapa pak? Ada yang salah
dengan kumis kami?”
“Apakah kalian pernah melihat ada anak sekolah seusia kalian
yang berkumis tebal? Jelas itu tidak layak untuk anak sekolah seusia kalian.”ujar
Pak Kepsek dengan nada retoris.
“Kami belum pernah mendengar peraturan seperti itu di
sekolah pak.” Bondi mengeluarkan argumennya. Dia memang paling berani diantara
kedua teman berkumisnya.”yang kami tahu, peraturan itu adalah, dilarang memakai
aksesoris semacam gelang, kalung body
piercing, sabuk duri yang berlebihan, dilarang mengecat rambut, dilarang
gondrongin rambut, dilarang memakai sepatu selain warna hitam,
dilarang…bla..bla..bla…”
Pak Kepsek menatap Bondi tanpa ekspresi.”Kamu tahu apa
tentang peratauran sekolah. Kalau kamu memang tahu aturan sekolah, kenapa
minggu yang lalu kami ikut tawuran ha, kenapa dua hari yang lalu kamu bolos
saat pelajaran matematika. Jawab Bondi!”
Bondi langsung terdiam dan tak punya nyali lagi untuk
berdebat dengan Pak Kepsek berkumis ulat bulu itu. Ia hanya mendesah putus asa.
Bagaimana mungkin Pak Kepsek tahu segala hal tentang dirinya? Oh my…
“Bagaimana pun juga, kalian boleh berkumis selama kumis
kalian itu wajar. Dalam artian, kumis kalian hanya perlu dipertipis.”
Kembali mereka bersitatap satu sama lain. Tak mengerti
dengan apa yang Pak kepsek katakan barusan.
Ande menatap mata Pak Kepsek dengan yakin“Maaf pak, apakah
kumis kami mengganggu proses belajar mengajar atau merusak pemandangan….atau
merusak penampilan…atau…”Ande menggantung kata-katanya. Padahal ia ingin sekali
mengatakan semacam ini, atau memang bapak
merasa iri dengan kumis keren kami. Kami tahu, kumis bapak kalah pamor dengan
kumis yang kami punya. Bapak merasa iri ketika melihat kumis artistic kami dan
teman-teman memuji kami.
“Tidak. Apakah ketika kalian memakai body piercing atau sabuk duri kalian merasa terganggu ketika
belajar? Tidak kan? Cuman, hanya orang-orang punk yang boleh dan pantas memakainya. Begitu juga dengan kumis,
sama sekali tidak mengganggu proses belajar mengajar dan merusak pemandangan. Cuman,
hanya orang-orang tertentu saja yang boleh memeliharanya.”jawab Pak Kepsek
masih dengan gaya retorisnya. Bukan Pak Kepsek namanya kalau tidak pandai
berargumentasi.
Ryan mendengus kesal. Aku
tahu, dalam hati, bapak pasti bilang bahwa hanya bapak yang boleh memelihara
kumis. Gara-gara kumis kalian, banyak siswa yang meledek kumis bapak dengan
ledekan yang sangat hina. Kumis ulat bulu.
Ryan jadi teringat mading sekolah, ini
pasti ada hubungannya dengan puisi kumis ulat bulu yang ada di mading seminggu
yang lalu. Entah siapa yang menulis. Yang pasti, kemungkinan besar Pak Kepsek
merasa tersinggung dan melimpahkan kemarahan dan kekesalannya pada mereka
bertiga. TRIO KOPLAK.
“Mulai besok, bapak tidak mau lagi melihat kalian berkumis!”
seru Pak Kepsek membuyarkan lamunan mereka bertiga. Itu berarti, mereka harus
mencukur kumis cool mereka.
****
Pagi hari itu, seluruh penghuni sekolah gempar. TRIO KOPLAK
sudah mempensiunkan kumis artistik
mereka dan sekaligus membubarkan genk mereka. Lebih tepatnya, membubarkan nama
genk mereka. Sejarah akan mencatat, tidak aka nada lagi eksistensi TRIO KOPLAK
di sekolah itu.
“Gue masih nggak habis pikir. Kok bisa ya Pak Kepsek
melarang kita berkumis. Kalau ngelarang jenggot sih wajar. Entar disangka
teroris.”
Ryan mengangguk. “Lu pada inget nggak, puisi yang berjudul
“Kumis Ulat Bulu” yang ditempel di mading minggu yang lalu. Gue punya feeling, ini
pasti gara-gara puisi sialan itu. Siapa sih yang bikin puisi sampah itu?”
Bondi garuk-garuk kepala dan tersenyum jahil.”Maaf ya,
sebenarnya….g-gue yang bikin puisi itu.”
“APA?!”dan serta merta kedua rekannya menjotos kepala Bondi
dengan gemas. Tadinya, mereka mau menjawil kumis temannya – sesuai kebiasaan
mereka ketika marah terhadap sesama teman kumisan-. Tapi kan bawah hidung
mereka sudah “diplontos” sejak kemarin sore.


No comments:
Post a Comment