Namaku edo. Ya, cukup edo. Tak ada nama tengah, apalagi nama
belakang. Jadi edo adalah bukan nama depan. Tapi nama tunggal. Aku juga tidak
tahu, kenapa kedua orangtuaku tidak berinisiatif memberiku nama belakang.
Mungkin mereka kehabisan ide untuk nama anak pertama mereka. Mungkin sih.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Umurku sekarang tiga
puluh tahun lebih tiga bulan dan…masih jomblo. Buktinya sama teman-temanku aku
selalu dijuluki EDO JOMBLO.
Alasannya, aku yang sudah menginjak umur kepala
tiga ini belum kawin-kawin juga.
Malu? Tentu saja tidak. Aku merasa enjoy dan
merasa tenang menjalani masa-masa lajangku sepanjang waktu yang terus berlalu.
Aku tak peduli dan bersikap masa bodoh dengan julukan yang mereka sematkan
terhadap diriku. Bukan, bukan julukan. Lebih tepatnya mereka memposisikan
julukan itu sebagai gelar. Eh, bukan juga. Biasanya gelar diletakan di depan
nama, tapi ini dibelakang nama. Lebih tepatnya mereka menjadikannya sebagai
nama belakangku. Edo jomblo. Hmmm, aku tak pernah berharap jomblo seumur hidup
lho. Jadi, kapan pun itu, nama belakangku akan hilang pada saat waktu itu tiba.
Adikku adalah termasuk salahsatu bagian dalam cerita
kehidupanku ini. Rina. Ia sekarang duduk di kelas sebelas SMA. Dia yang kadang
menggodaku dan menanyaiku dengan hal-hal yang bersangkutan dengan kejombloanku.
Seperti beberpa hari kemarin ketika di suatu sore aku dan rina berada di ruang
tamu.
“eh, kak. Kayaknya kamu harus ikutan kontak jodoh yang di
majalah ini deh.” Ujarnya sembari mengamati lekat-lekat majalah yang
dipegangnya.
“apa?” kataku yang kurang tanggap. Rina mendekatiku dan
menyodorkan majalah wanita yang sedari tadi ia pegang.
“nih pilih! Mana criteria yang cocok menurut kakak. Pengen
yang jangkung, putih, merah…eh, sawo matang, hitam manis, pesek, mancung,
wartawati, guru tk, desainer atau bla bla bla.”
Ia nyerocos bvak seorang pedagang yang menawarkan
dagangannya. Laksana salesman yang merayu calon pelanggannya. Bagaikan guru
yang mengabsen muridnya.
“eh rin, kamu kayak salesman aja sih. Kamu dapet gaji berapa
nih mempromosikan jomblo-jomblo kece.”ujarku meledeknya.
“ye…bukannya begitu. Aku puny aide aja buat mengakhiri masa
krisis ka edo sebagai jomblo tua. Siapa tau kakak pengen nikah. Mumpung muda,.
Keburu tua.” Katanya membela diri.
“emangnya kalau kawin tua kenapa?”selidikku.
“hi….ngeri banget deh. Seluruh cewek ngacir. Amit amit
jabang bayi.” Seru adikku sembari menggedikkan bahunya.
“sok perhatian aja kamu.:” kataku sembari meraih majalah dari
tangannya. Bukan karena tertarik, tapi Cuma iseng-iseng aja. Rina mngambil alih
remote tivi dan dengan kurang ajar mengganti siaran langung liga Indonesia
–tontonan favoritku- ke saluran yang menayangkan kartun kesukaannya. Doraemon.
“eh rin, ko nggak ada foto-fotonya sih?” ujarku protes. Yang
kulihat hanya deretan form dengan biodata lengkap. Di atasnya tertulis. Biro jodoh. Saatnya anda mengakhiri masa
lajang anda. Saatnya anda menempuh hidup baru dengan kuntum-kuntum kebahagian
yang selalu merekah.
Jiahhh…so puitis. Aku yakin. Biro jodoh itu hanya kedok
untuk menjadikan oplah majalah itu menjadi melonjak dan banyak diminati.
“udah cukup di identitasnya kak.”jawab rina.”udah lengkap
kan disana.”
“kalau nggak dengan foto bikin ragu kayaknya.”
Opps, nggak direspon. Rina malah asyik menonton film
kartunnya. Idiiih, tega bener. Nggak didenger nih omonganku barusan.
“RIN! DENGER NGGAK!”
“hmmm, itu sih bukan salah rina. Tapi salah majalahnya.”
Jawabnya tak lepas mlototin tivi. Huuu… dasar! Kalau sudah nonton kartun
kayaknya dia lupa daratan. Kadang-kadang kau dibuat heran dengan kebiasaannya
itu. Bayangkan, udah kelas sebelas dia masih kayak anak-anak es-de. Sukanya
nonton kartun dan ngoleksi komik. Bukan kayak remaja kebanyakan yang biasanya
suka nonton drama korea atau sejenisnya. Saat aku sindir, dia malah membantah
dengan mengatakan.”kakak di sekolah dulu nggak belajar tentang hak asasi
manusia ya.”
Saat aku aku duduk serius mengetik naskah tiba-tiba dating
adam menghampiriku. Aku bekerja di sebuah perusahaan penerbitan majalah dan
bertugas sebagai editor.
‘eh do. Tahu nggak. Minggu depan rehan mau merit.” Kata adam
sembari duduk di sampingku.
“apa? Rehan mau merit? Syukurlah.”ujarku ikut gembira
mendengar kabar itu.” Ngomong-ngomong sama siapa dia mau kawin?” tanyaku
penasaran
“soal itu aku belum tahu sih. Tanyain aja entar sama si
calon.”
“calon?”
“ya! Calon pengantin lah! Masa calon bupati.”
“rehan sekarang mana?”
“belum dating. Katanya masih dijalan.”terang adam.”oh iya,
ada satu kabar lagi yang nggak seru, eh..nggak kalah seru. Kita bakalan
ditraktir makan siang di restoran mewah di samping kantor kita ini.”ujarnya
panjang lebar dan dengan nada senang.
“oh gitu. Asyik dong!restoran pasundan itu kan?”uajrku
sembari menunjuk ke sebelah utara.
“eh, ngomong-ngomong. Kapan sih kamu mau kawin.” Tanyanya
yang entah keberapa kalinya.”usia udah bangkotan gitu masih enjoy aja. Nggak
gatel nih liatin teman kamu yang udah pada rumah tangga?”
Dia masih selalu mempropokasiku
untuk cepat-cepat nikah. Mulai dari pamer kemesraan dengan istrinya di
hadapanku. Hingga celotehannya seperti yang barusan terjadi. Dari rina, emak
hingga adam adalah para propokator
yang menginginkan aku supaya cepat-cepat nikah.
“ah, belum siap aku dam.’elakku padanya. Mencoba menghindari
tatapan matanya yang tajam setajam silet.
“belum siap gimana? Pekerjaan udah dapet. Umur udah
nyampe.”jawabnya tak kalah argument.”lagian kata ustadz saya nikah itu sunnah
rosululloh lho. Dengan menikah kita bisa lebih terjaga. Kita tak akan
terjerumus pada pandangan terlarang. Kehormatan kita terpelihara. Lagian
perempuan itu bisa mendatangkan rezeki coy.”
Adam tak ubahnya seperti ustadz sekaliber yang suka ceramah
di tivi-tivi pas bulan romadhon.
‘nikah tuh mengandung berjuta hikmah yang terkandung di dalamnya.
Kita bisa ngerasainnya pas kita udah berumah tangga. Cobain deh.”ujarnya tak
mau berhenti berkicau. Padahal aku mencoba untuk mengacuhkannya dengan terus
focus pada layar monitor di depanku.
Aku mengangkat bahu tersenyum.
“atau jangan-jangan kamu homo ya.”
“duh, kamu udah macem-macem gitu.”bantahku sewot.
“hu!! Dasar edo jomblo. Dinasihatin kagak mau!” celotehnya
tak pernah berhenti sampai mataku menatapnya tajam. Artinya aku sedang tak mau
diganggu.
Adam nyegir kuda dan melengos dari hadapanku. Huh! Sepagi
ini pikiranku sudah dibuyarkan sesadis itu. Tapi nggak papa lah. Yang penting
aku dapet berita bagus; rehan merit.
***
Siang itu aku pulang dari resepsi pernikahan rehan, teman
sekantorku. Hari ini dia sudah berganti status dan siap mengarungi k=lembar
kehidupan baru bersama istrinya. Namun mungkin kau tak tahu. Sepulang dari
acara resepsi pernikahan itu hatiku gundah gulana. Selama ini aku yang enjoy
menjalani masa lajangku menjadi gundah gulana layaknya arjuna yang tak memiliki
cinta.
Aku jadi teringat bagaimana rehan dan pasangannya bersanding
dengan anggun di pelaminan. Mendapatkan ucapan selamat dari keluarga besar,
teman sejawat dankolega kerja. Dapat kado segunung. Saling melirik dan
tersenyum satu sama lain. Aku tahu, hari ini adalah hari kebahagiaannya. Sorot
mata rehan menggambarkan bagaimana kebahagiaan itu memenuhi segenap rongga
dadanya. Kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan rangkaian kata-kata.
Oh indahnya….
Tiba-tiba aku teringat diriku. Akankah aku akan terus
begini?
Malam itu aku sulit tidur. Mataku tak bisa kuajak kompromi.
Walaupun mataku terpejam, itu tak lebih dari tidur ayam. Benakku
melayang-layang.
Biro jodoh
Pelaminan
Edo jomblo
Ah, pikiranku ngelantur kemana-mana. Semuanya memenuhi
benakku.hatiku menjadi galau segalau lagu-lagu dengan lirik mendayu-dayu. Khas
lagu yang sedang patah hati dan dirundung rindu yang tak pernah padam.
Tiba-tiba aku ingat kata-kata emakku.
‘edo, sudah saatnya kamu akhiri masa lajangmu itu.’ujarnya
suatu hari.’coba kau perhatikan teman-temanmu. Semuanya sudah pada
berumahntangga.”
‘waktu masih panjang bu. Aku masih ingin focus sama karirku.
Soal menikah gampang”jawabku berusaha mengelak dari tuntutannya.
Akhirnya emak terdiam dan menatapku sedemikian rupa. Mungkin
ia kecewa karena bujangnya ini tak ada niatan untuk segera mengahiri masa
lajangnya sebagai bujang lapuk. Sudah begitu sering ia menasihatiku, memberi
saran dan dorongan supaya aku segera mencari calon mantunya. Maklum, aku anak
sulung. Mungkin emak ingin aku bahagia dengan rumha tanggaku dan emak ingin
segera menimang cucu. Hmmmh…maafkan aku mak…
Pun ketika aku bertemu ningsih. Teman kuliahku di fakultas
sastra. Saat itu aku mencoba menjalin hubungan dengannya. Bukan apa-apa. Bukan
karena aku ingin melanjutkan ke jenjang yanglebih serius. Karena aku tak pernah
mau dan tak pernah berani membayangkan aku duduk di pelaminan. Aku ingin bebas
dengan masa lajangku. Aku merasa, rumah tangga hanya bisa mengekang jiwa
petualangku. Aku hanya sebatas memendam rasa kagum dan suka terhadap ningsih.
Hanya sebatas suka. Tak lebih.
Tak dinyana, adikku rina mengetahui hubunganku dengan
ningsih. Suatu hari dia memergokiku tenah berduaan dengan ningsih di warung
bakso pak karno langgananku. Rina dengan mulut embernya yang dower nyerocos
memberitahu emakku. Akhirnyaemak menyarankanku supaya melamar ningsih ke
babehnya yang orang betawi asli. Apalagi emak tahu banyak semua tentang ningsih
yang babehnya kebetulan sebagai ketua RW itu. Huh! Saat itu aku pusing tujuh keliling. Ingin
rasanya aku menjitak kepala rina yang
jenong dan melumatkannya dengan penggilingan tepung. Tapi tetep aja aku nggak
tega. Adikku terlalu innocent untuk
seukuran kakak baik hati sepertiku. Halah….
Sebulan setelah itu emak menawari Karin. Anak bu nani warga
kampong sebelah. Gadis itu cantik dan cute sekali. Tapi karena aku merasa
terlalu gengsi dijodoh-jodoh layaknya siti nurbaya, aku lebih memilih
mengacuhkan tawarkan ibu. Wong, perempuan aja jengah dijodoh-jodoh. Apalagi aku
sebagai lelaki. Dan kini, ningsih sudah berumah tangga dengan duda beranak dua.
Adapun Karin akan menikah dalam waktu dekat ini dengan pengusaha asal kota.
Menyesalkah aku dengan semua penolakan itu. Ah, lidahku merasa kelu untuk
menjelaskannya.
Pun aku teringat masa-masa kuliahku dulu. Aku –yang bukannya
kepedean- menurut teman-temanku lumayan
keren. Bahkan ada yang pernah bilang aku mirip Leonardo de caprio. Huhuy…aku
tak tahu. Apa aku masih menginjak bumi saat mendengar pujian itu. Yang pasti hidungku
kembang kempis dibuatnya.
Aku yang sudah terlanjur kepedean menggunakan kesempatan
itu. Mengamalkan kata pepatah kuno, kesempatan tak pernah dating dua kali, aku
mulai mendekati teman-teman perempuanku dan mengencaninya. Sudah banyak wanita
yang pernah menjadi teman istimewaku. Sebanayk itu pula aku menorehkan luka di
hati-hati mereka.
Ah, kepalaku serasa mau meledak. Semua bayangan masa laluku
seakan menjadi palu godam yang menghantam kepalaku hingga berdenyut-denyut.
Tiba-tiba saja aku mebayangkan diriku memakai baju pengantin
pria. berdiri gagah dengan wanita di sampingku yang memakai busana anggun
layaknya pengantin wanita. Dan ia tersenyum tulus kepadaku. Lalu teman-temanku
mengucapkan selamta kepadaku. Mata mereka memancarkan kegembiraan yang sama.
Kepalaku semakin berdenyut.
Pagi itu aku terbangun hamper kesiangan. Dengan serampangan,
aku meraih handuk dan melesat ke kamar mandi. Tiba-tiba aku merasa perlu untuk
melirik jam di dinding kamarku.
Hah!!! Dua puluh menit lagi aku harus masuk kantor. Masih
untuk kalau jalanan nggak macet. Kalau macet? Bisa dua jam di jalan.
Aku melemb[-ar handukku dan beranjak menuju wastafel. Aku
hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Dengan kecepatan supersonic, aku segera
memakai baju kerjaku dan meraih tas yang untungnya sudah aku siapkan malam
tadi.
Emak hanya melongok di ambang pintu.” Kesiangan ya do.”
Aku hanya mengangguk
dan segera meraih setang motor ninjaku.
“nggak sarapan dulu do?”Tanya ibuku.
“nanti di kantor.”jawabku pendek dan mulai menstarer. Aku melesat pergi dan membelah jalanan kota
Jakarta. Dan keberuntungan tanpaknya berpihak untukku. Jalanan tidak macet
seperti yang aku duga.
Setiba di kantor, aku beremu dengan anton, sang fotografer
yang suka jepret sana-sini. Dia menghampiriku yang baru saja dating.”eh do, katanya
staff redaksi mau nambah dua orang lagi. Pak angga merasa kurang efisien dengan
staf yang ada selama ini. Katanya difisi redaktur dan promosi memerlukan
tambahan orang.”katanya menyampaikan kabar.
“oh ya? Kapan orangnya mulai kerja di sini?”
“nggak tahu. Justru sekarang lowongan kerjanya lagi mau
diiklanin di majalah..”
Akhirnya iklan lowongan kerja redaksi yang dipasang dua
minggu yang lalu ada respon baik. Buktinya, hari ini staff redaksi kami menerima dua personil
baru. Yang satu wanita dan yang satu lagi laki-laki.
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Setelah mengadakan
cara perkenalan dngan staff baru tersebut. Sepertinya aku pernah melihat wanita
baru yang kini menjabat redaktur ahli di jajaran raedaksi. Jabatannya setingkat
lebih tinggi dari diriku. Tapi aku tak tahu siapa. Mungkin aku salah orang,
pikirku. Tapi tak terpungkiri, aku merasa familiar dengan wajahnya yang memakai
kacamata min itu.
Tunggu dulu, sepertinya wanita itu juga merasakan hal yang
sama. Saat berkenala tadi, ia beberapa
kali melirikku dan mengerutkan keningnya. Menatapku dengan tatapan penuh tanda
Tanya.
Setelah aku memeras otakku dan mencoba mengobrak-abrik file-file yang mungkin masih mengendap
di otakku yang setaraf Pentium itu, akhirnya aku mencapai suatu kesimpulan yang
bisa dipertanggungjawabkan. Aku ingat wanita itu. Dia nisa, teman masa SMP ku
dulu. Tak da yang berubah dari dirinya selain jilbab lebar yang dikenakannya.
Ia masih memakai kacamata lebar dengan tungkai tebal. Cara berjalan dan
senyumnya masih sama seperti dulu. Sayangnya, dia sekarang sedikit kalem.
Padahal nisa yang aku kenal sangat agresif dan selalu berceloteh ria. Ya, dunia
saja berubah sesuai dengan perkembangan jamannya. Tentunya manusia juga bisa
berubah kapanpun dia mau.
“kamu nisa ya?” tanyaku dengan kikuk. Suaraku tak lebih
seperti bisikan yang mencoba bertahan di tenggorokan dan keluar dengan
terpaksa.
“ya, anda tahu nama saya?”
Aku mengangguk dan
tersenyum lebar. Menunggu respon selanjutnya.
“saya juga merasa kenal anda.”katanya sembari memijit-mijit
keningnya.”tapi saya ingat-ingat lupa.”
“kamu lupa sama saya?”
Nisa masih memijit-mijit keningnya.”maaf, aku tak ingat.”
“aku edo nisa. Kita kan teman sekelas pas kelas dua smp
dulu. Kamu pindah pas semester satu kelas tiga.”
“oh ya?! Kamu edo yang suka ngejailin cewek-cewek dengan
permen karet itu?”
Aku cengengesan mendengar apa yang nisa ucapkan.“nggak
nyangka ya kita bisa ketemu disini.”
Diam-diam, aku merasa nisa sengaja dikirimkan tuhan untukku.
***
Dua hari nisa bekerja. Aku berusaha mendekati nisa. Mencoba
menyelani kehidupannya. Bertanya ini itu dan aku merasa perlu untuk
mendengarkan kisah hidupnya setelah lima belas tahun tidak bertemu. Aku kira
nisa akan merespon baik pendekatanku. Tapi nyatanya ia tak sebaik yang aku
duga. Ia lebih sering menunduk ketika aku menatapnya. Ia lebih sering
menghindar ketika aku mencoba untuk duduk lebih dekat dengannya. Aku tak tahu
kenapa dan bagaimana cara supaya keakraban itu muncul.
“nisa, apa ada yang salah dengan diriku?”
“maksud mas edo?”tanyanya dengan kening berkerut. Kedua
alisnya hamper bertautan.
“kamu kok sering menghindar gitu?”
Nida menghela nafasnya dan menatap edo tajam.”abis mas edo
agresif gitu. Saya Cuma menghindari khalwat aja.”
“apa? Gawat? Apanya yang gawat nis?”
“khalwat mas.”jelas nisa mempertegas suaranya. Matanya
menoleh kiri-kanan. Kemudian kembali menghela nafas dalam-dalam.
“apaan tuh?”Tanya edo bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya
yang tak gatal. Iyalah, sampoan tiap hari nggak mungkin ketombean.
Nisa kembali menghela nafas untuk yang ketiga kali
nya.”khalwat itu adalah ketika laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom
berduaan di tempat yang sepi.”terangnya.
Aku tercenung. Oh pantas, kemarin nisa tak mau menerima
jabat tangannya. Sekarang nisa tak mau berduaan dengannya. Oke, aku bisa paham
sekarang, nisa sudah menjelma menjadi gadis alim layaknya di film-film religi
yang lagi booming di bioskop.
Nisa masih tertunduk dan memilah-milah file di meja
kerjanya. Aku masih berdiri di sampingnya dan berusaha memahami dan
menebak-nebak kedalaman isi hatinya.
Aku berdehem dan nisa mendongak. Menatapku.”ada apa lagi?”
Aku menggaruk leherku yang sejatinya tak gatal.”boleh saya
ngomong sesuatu?”
Nisa mengangguk dan masih menatapku.
“maukan nisa menikah dengan saya?”
Nisa terperanjat dan hamper terlonjak dari kursi kerjanya.
Aku tiba-tiba seperti terserang demam dan banjir dengan
keringat dingin. Seberani inikah diriku? Aku yakin, emak, rina,
adam,mimpi-mimpiku, insomniaku bebrapa malam terakhir ini dan…julukan yang
kadung melekat di belakang namamku menjadi semacam stimulus keberanianku
barusan.
Aku melihat wajah nisa yang memerah dan menunduk dalam.
“nisa?”ujarku yang tak lebih dari sebuah erangan memuakkan.
Nisa mengangguk dalam diam.


No comments:
Post a Comment