Oleh : Husni Mubarok
Sumi berjalan menyusuri
trotoar jalan. Kakinya yang mungil tanpa alas kaki begitu lincah menapaki
pinggiran jalan. Beberapa meter lagi dia akan sampai di perempatan lampu merah
yang selalu padat dengan kendaraan. Di
tangannya yang legam terdapat kecrekan yang terbuat dari tutup sprite dan kaleng minuman yang disatukan
dengan paku pada sepotong kayu.
Langkahnya semakin
dipercepat ketika dilihatnya beberapa temannya sudah berkumpul dan menghampiri
jendela mobil-mobil yang berhenti saat lampu merah menyala. Mereka adalah maryam,
cipto, asep, saripah dan Euis. Anak-anak pinggiran bantaran kali Citarum yang
sama seperti dirinya. Pengamen lampu merah.
Tak menunggu lama, sumi
menghampiri sebuah sedan berwarna merah metalik. Memukul-mukul kecrekan dengan
tangannya yang mungil dan mulai menyanyi. Sebuah tangan terjulur dari jendela
mobil dan menjatuhkan recehan di telapak tangannya. Ini sebuah tanda
keberuntungan, begitu pikirnya. Baru saja turun, sudah ada yang menjulurkan tangannya.
Biasanya, para pemilik mobil sedan mewah itu lebih memilih menutup kaca
jendelanya. Mungkin mereka tak punya receh yang tersimpan di dompet tebalnya.
Tak lupa mulut kecilnya
mengucapkan terimakasih dan tersenyum dikulum. Kemudian ia melangkah beberapa
langkah menuju mobil jazz putih di belakang mobil sedan itu. Melantunkan lagu
yang sama dengan memukul-mukul kecrekan dengan kedua tangannya.
Sumi melihat jam yang
bertengger di tembok halte, tak jauh dari lampu merah diaman ia berdiri saat
itu. Jarum jam meunjukan pukul empat tepat.
Sumi memandang
teman-temannya yang masih asyik mencari recehan dari mobil-mobil yang terjebak
lampu merah.”Asep,Euis, Saripah! Kita ke bawah jembatan hayu…”
Teman-temannya menoleh
ke arahnya.
“Mau apa Sumi.”Tanya Euis.
“Lho, kamu lupa ya. Kan
kakak-kakak mahasiswa mengajari kita tiap hari kamis.”terang Sumi dengan
setengah berteriak.
“Oh iya ya.” Jawab
eusi. Dan Euis pun mengajak teman-temannya yang lain. Mereka mengikuti sumi dan
Euis kecuali Asep.”Kenapa harus sekolah. Lebih baik disini. Kita bisa dapat
banyak duit recehan.”
Memang, setiap sore
mobil-mobil akan semakin memadati jalan dan mengular. Macet adalah sebuah
ritual sore yang harus dilewati oleh masyarakat urban yang pulang dari kerja.
Hal itu menjadi kesempatan emas bagi sumi dan teman-temannya. Tapi saat itu
sumi lebih tertarik mengikuti pelajaran dari kakak-kakak mahasiswa yang biasa
mengajari mereka di bawah jembatan layang. Beberapa temannya banyak yang
mengikuti ajakan sumi dan euis. Tapi tak sedikit juga yang lebih memilih terus
di jalan hingga adan maghrib tiba.
***
Mereka beriringan
menyusuri gang-gang sempit yang membatasi perumahan. Sumi dan teman-temannya
harus melewati dua blok perumahan untuk bisa tiba di bawah jembatan layang,
tempata belajar mereka. Tak menunggu lama, mereka sudah sampai di temapat yang
dimaksud. Benar saja, sudah banyak teman-temannya yang lain yang membentuk
lingkaran. Kakak mahasiswa sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
Pelajaran pun dimulai.
Mereka membentuk beberapa kelompok berdasar dengan kemampuan masing-masing. Ada
kelompok yang belajar menulis dan membaca, ada kelompok yang bercerita, ada
juga kelompok yang belajar bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Sumi langsung bergabung dengan kelompok bahasa.
Lagi pula, kak mawar, salahsatu dari kakak mahasiswa itu, sudah menentukan
kelompok-kelompok mereka setelah dites kemampuan membaca dan berhitung dua
minggu yang lalu.
Sumi merasa senang
belajar dengan kakak-kaka mahasiswa. Ada kak rio yang mengajarkan bahasa
inggris. Ada kak Mawar yang mengajarkan berhitung, membaca dan menulis, kak Arum
yang mengajari menggambar dan bernyanyi. Ada juga kak Santi yang baiki hati.
Setelah pelajaran usai, kakak berkulit putih itu selalu membagi mereka permen
dan kue. Setiap dua minggu sekali, kakak yang baik hati itu membawa beberapa
potong pakaian dan membagikannya kepada mereka. Jika tidak dipakai oelh mereka,
mereka memberikannya untuk adik-adik mereka. Kakak-kakak mahasiswa itu selalu
terseyum ketika melihat mereka dating ke bawah kolong jembatan itu.
“Nah, kak mawar
sekarang akan mengajak kalian bercerita. Tapi, sebelum kakak bercerita, kalian
juga harus bercerita ya.”Ujar kak mawar membuka percakapan. Sumi dan
teman-temannya terdiam. Sementar kelompok lain terdengar ramai berhitung dan
mengeja huruf latin.
Beruntung sumi sudah
bisa membaca dan menulis. Dulu, dia sempat sekolah sampai kelas dua SD. Tapi
semenjak emak sakit, sumi lebih memilih keluar dari sekolah dan mengurus ibunya
dengan penuh perhatian bersama sarno, abangnya yang berprofesi sebagai tukang
penjaja kue surabi keliling komples.
Sumi masih ingat. Saat
itu ia pulang dari sekolah ketika didapatinya emak demam tinggi. Hingga dua
minggu lamanya demam emak tak juga kunjung turun. Akhirnya emak dibawa ke
puskesmas dengan membawa uang seadanya. Entah sudah berapa kali bolak-balik ke
puskesmaas hingga akhirnya emak sembuh dari sakitnya. Tapi siapa yang menduga,
di situlah awal semua penderitaan menjadi begitu purna. Kedua tungkai kaki dan
tangan emak perlahan menajadi mengecil dan kering. Layaknya orang yang terkena
penyakit folio. Sumi dan sarno menjadi sangat sedih melihat kondisi emak yang
sedemikian rupa. Dan kesedihan itu semakin bertambah ketika bapak minggat entah
kemana. Meninggalkan mereka pada pusaran kehidupan dan takdir yang penuh
misteri. Tak ada lagi sosok yang selalu mereka banggakan. Sarno kalap. Kakak
sumi satu-satunya itu melontar sumpah serapah kepada bapak. Bahkan membakar
semua barang-barang yang tak sempat bapak bawa.
Tapi, sepahit apa pun
derita yang emak rasakan, ia selalu tersenyum di hadapan kedua anaknya itu.
Emak selalu membuat mereka tabah dengan kata-katanya yang selalu mengalir.
Mengajarkan mereka tentang keikhlasan, ketabahan dan ketawakalan kepada gusti
allah. Tak berapa lama setalah itu, sarno meminta emak mngajarinya membuat
ranginang dan surabi untuk ia dagangkan. Sementara sumi mengikuti euis, anak
tetangganya yang sudah seatahun lamanya mengamen di perempatan lampu merah dan
perlimaan jalan kota.
Setiap maghrib, sumi
dan sarno menyerahkan recehan hasil jerih payah mereka kepada emak. Emak selalu
tersenyum dengan mata yang berembun.”Semoga Gusti
Allah selalu member kalian kebahagiaan dan umur panjang. Yakinlah sum, no! Gusti Allah akan menunjukan jalan kepada
kalian. Gusti Allah melihat anak-anak
emak yang berbakti dengan penuh cinta.”
****
Sore itu ada yang beda.
Kak Santi dan kak Rio tanpak sibuk menurunkan beberapa kardus dari mobil
mereka. Sumi dan anak-anak lainnya harap-harap cemas. Kira-kira apa isi kardus
itu. Apakah itu hadiah untuk mereka? Apakah itu pakaian-pakaian seperti dua
minggu yang lalu mereka menerimanya dengan wajah penuh suka cita.
Kak Mawar tersenyum.
Bak dewi penolong yang bijaksana, ia berdiri di hadapan Sumi dan teman-temannya.
Matanya yang cokelat itu mengedarkan pandangannya, menyapu setiap wajah dengan
tatapan yang meneduhkan.”Oke, hari ini kakak-kakak mau ngasih kalian hadiah
yang sangat istimewa.”ujarnya dan pandangannya beralih ke arah kak Santi dan
kak Rio.” Coba kak Santi, buka kardusnya.”
Kedua tangan kak Santi
yang putih mulus itu membuka lakban yang menutup kardus dan mengeluarkan isinya.
Begitu juga dengan kak Rio, ia membuka kardus yang sama.
“TARAAA!!!”teriak kak
santi dan kak rio bersamaan. Di kedua tangannya kini terdapat beberapa pak buku
tulis, pensil, pensil berwarna, dan buku-buku bacaan.
Sumi terlongo. Sudah
lama ia tidak punya buku tulis. Apalagi buku bacaan. Semenjak dia putus
sekolah, ia hanya menyibukkan diri dengan mengamen. Tapi walau pun begitu, Sumi
selalu berharap, suatu saat nanti ia bisa sekolah. Gusti allah seakan mengabulkan keinginannya dengan hadirnya dewa
penyelamat yang memperkenalkan diri mereka sebagai mahasiswa. Semenjak itu, Sumi
selalu rajin menyisihkan uang recehannyadi botol aqua yang ia bolongi atasnya.
Sumi ingin membeli buku tulis dan buku pelajaran membaca. Kadang sumi juga
membaca majalah dan buku-buku kak sarno yang biasa di beli di lapak buku loak
di perempatan lampu merah. Antara sumi dan sarno punya hobi yang sama, mereka
suka membaca. Lagi pula, umur mereka hanya terpaut dua tahun saja.
“Nah, sekarang berbaris
rapi ya.”ujar kak Santi dan membagikan buku-buku itu kepada sumi dan
teman-temannya.
Dan sumi bahagia karena
Allah sudah menjawab doa-doanya. Ia berjanji, sehabis shalat maghrib nanti, ia
akan bersimpuh di atas sajadahnya dan berdoa kepada-Nya. Doanya sangat
sederhana, semoga Dia selalu mengirimkan kepadanya orang-orang yang baik hati.
Sebaik kakak-kakak mahasiswa yang selalu mengajarinya di bawah kolong jembatan.


No comments:
Post a Comment