Dengan mati-matian ia menghalangiku supaya tidak sampai
meraih daun pintu. Aku sudah siap dengan ransel besar berisi pakaian-pakaian
yangsudah aku siapkan semalam. Ia menghalangiku untuk pulang setelah sebelumnya
berlutut memeluk kakiku. Memohon maaf dan menguras air matanya sampai tak
tersisa.
“Kumohon jangan pergi dari rumah Vin.”
“Aku sudah muak melihat wajahmu Raf. Jangaqn halangi kemauanku.” Ujarku penuh
kebencian. Sesaat aku menatap Syifa yang bermain di samping Rafkhan. Aku
menghampirinya.
“Jangan coba-coba kau bawa Syifa.”cegah Rafkhan. Ia segera
meraih syifa dan menggendongnya sebelum aku berhasil mendekati anak semata
wayangku itu.
“Aku lebih berhak membawanya karena aku ibunya.”
“Tidak juga.”bantahnya tak mau kalah.
Aku mendengus kesal.
‘Vin, sekali lagi aku
memohon jangan pergi dari sini. Kasihan Syifa.”
Aku tertegun menatap Syifa lama.
“Aku bermaksud membawanya ke rumah orang tuaku.”
“Tak akan kubiarkan kamu membawanya.”
Aku menghela nafas. Ada beban berat yang menggelayuti
pikiranku. Tapi itu tak akan menyurutkan keinginanku untuk pisah dengan Rafkhan.
Aku sudah terlanjur benci dengan semua pembodohannya terhadapku. Aku tak pernah
didustai sedemikian rupa kecuali oleh Rafkhan. Dia kira aku akan memaafkannya
begitu saja. Setelah dengan mudahnya mengoyak-ngoyak segenap perasaan dan
harapan.
“Baiklah, aku akan pergi tanpa Syifa. Selamat tinggal.” Aku
melangkah pergi dengan mata yang berkaca-kaca. Yang terberat adalah karena aku harus berpisah
dengan anakku, bukan karena perpisahanku dengan lelaki pendusta itu.
Aku melangkah meninggalkan rumah. Rumah yang telah mengukir
sejuta kenangan dan harapan selama berumah tangga. Aku yakin, aku tak akan
pernah merasa menyesal dengan keputusan yang aku ambil sekarang ini. Aku ingin
belajar melupakan Rafkhan. Bukan, bukan belajar. Tapi ini sebuah tuntutan.
Kenyataan pahit itu menuntutku untuk menghapus Rafkhan sebagai bagian dari
hidupku. Rasa cintaku berubah menjadi sebuah kebencian yang tiada berujung.
Karena ia telah mengkhianati kesetiaan.
Saat itu aku menemukan foto wanita muda yang cantik di hape
Rafkhan. tak sedikitpun merasa curiga. Hari demi hari aku biarkan dan tak
pernah menanyakan hal yang macam-macam kepada rafkhan. Mungkin saja foto itu
adalah foto artis idolanya. Walau aku merasa bahwa hati terdalamku merasa
cemburu karenanya.
Tapi kecurigaan menjadi sesuatu hal yang mutlak dan
kebencian mencapai titik kulminasinya. Kudapati rafkhan bercakap-cakap mesra
dengan seorang wanita di telepon. Rafkhan tak menyadari kedatanganku sehabis
pulang dari kantor di suatu sore. Mungkin ia tak menyangka aku akan pulang
secepat itu. Biasanya aku baru pulang jam tujuh malam. Hmmm. Rafkhan leluasa
mengobrol dengan seorang wanita keatika aku tak ada di rumah. Selingkuhkan?
Dan bisa kau tebak. Rasa cemburu dan benci itu mendominasi
seluruh relung hatiku.
Beberapa hari kemudian telpon di ruang tamu bordering
nyaring. Saat itu rafkhan tengah mandi. Aku pun segera mengangkatnya dan
terdeangarlah seorang wanita dengan
suara mendayu kalsana angin. Ia mendesis dan berhalo saying. Bah, kena kau!
‘siapa kamu!’tanyaku galak.
‘oh maaf. Apakah bapak rafkhan ada. Aku shinta, teman
kantornya.”jawabnya dengan nada terkejut. Bagaimana tidak terkejut. Ia mungkin menyangka telpon itu akan diangkat
oleh rafkhan.
“teman kantornya apa selingkuhannya?”tanyaku masih dengan
nada yang ditekan.”aku istrinya!!”
Tak ada respon. Aku tahu,wanita yang bernama sinta itu pasti
shok mendengar kata-kataku. Kututup telpon dengan hati dongkol.
Rafkhan keuar dari kamar mandi dan masih mengeringkan rambut
dengan handuk di pundaknya. Aku menatapnya dengan berurai air mata.
Rafkhan mengerutkan kening. Dua laisnya yang tebal saling
bertautan.”fin, ada apa saying.”ujarnya lembut. Ia menghampiri dan kmenghapus
air mataku dengan tangannya.
Tiba-tiba aku merasa mual. Palsu. Semuanya hanya kepalsuan
yang menjijikan.
“kau benar-benar suami yang tak tahu diri!!”
Rafkhan terperanjat. Matanya terbelalak kaget.”apa-apaan sih
fin. Kamu bercanda ya.”
“selama ini kau menyembunyikan kebusukanmu dihadapanku,
rafkhan.”
“maksudmu.”tanyanya dengan mimic bingung. Aku menangkap
perubahan dan kekhawatiran dari seraut wajahya.
“jangan kau anggap aku ini bodoh! Aku sekarang sudah tahu
semua kebusukanmu. Aku tahu, cintamu palsu! Palsu raf. Aku tak membutuhkan
semua perhatianmu. Kau tak lebih dari seorang lelaki munafik!”cecarku dan mulai
terisak-isak.
Rafkhan tertegun. Ia masih menatapku dengan tatapan shok.
“siapa wanita yang bernama sinta itu?”tanyaku dengan mata
yang mulai berlinang air mata.
“mak-maksudmu apa sih fin.”
“jangan pura-pura bodoh! Aku menemukan foto perempuan cantik
di hapemu. Itu pasti sinta. Asal kau tahu. Wanita jalang itu baru saja
menelpon. Sayangnya, aku yang mengangkatnya. Rupanya ia sudah pintar
bersayang-sayang sama kamu ya.”
“kau jangan ngawur fin. Itu teman sekantorku.” Bantah
rafkhan dengan suara bergetar.
“teman? Teman kok pake sayang-sayangan segala!”
Rafkhan tak bisa berkata-kata. Ia tediam dan mematung di
hadapanku. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Sementara aku tak lagi
bisa membendung air mata yang seakan tumpah dari kedua kelopak mata.”aku muak
melihatmu!”
Rafkhan mulai terisak-isak di hadapanku dan mencoba untuk
meluluhkan rasa benciku. Tidak rafkhan. Luka yang kau torehkan sangatlah dalam
dan sulit untuk disembuhkan. Kau terlanjur mengotori semua keihkasanku selama
ini.
Inilah dunia baruku. Kini, aku merasa bebas mengarungi hidup
baruku. Berusaha melupakan semua kenangan tentang rafkhan dan sedikit demi
sedikit aku mencoba untuk menghilangkan luka hatiku. Tak peduli aku harus
menanggung predikatku sebagai janda. Masa bodoh, apa bedanya aku yang janda
dengan aku yang sebelumnya.
Aku mencoba melupakan semua kepedihan yang telah
menenggelamkanku dalam keputus asaan dengan mengikuti ajakan safia, teman
kecilku dulu. Suatu sore ia mengajakku ke pub dan memperkenalkanku dengan
banyak pria yang mendominasi bar yang biasa ia kunjungi. Aku merasa senang
dengan sahabat-sahabat baruku. Ada sensasi baru dengan berkenalan dengan
lelaki-yang rata-rata hampir seusia denganku.
Awalnya, safia membujukku untuk berkencan dengan salah
seorang lelaki yang aku kenal
“lumayan, buat ngobatain sakit hati lu fin.” Ujarnya usatu
hari. Aku diam saja. Tapi di dalam hati aku mengiyakan dan aku berjanji bahwa
mala mini aku akan melaksanakan apa yang safia sarankan. Impas sudah semua
kepedihan yang diciptakan rafkhan.
Seperi biasa, malam itu safia menjemputku dengan Honda jazz
putihnya. Aku sudah bersiap-siap dengan pakaian baruku. Kau tahu, safia punya
selera berpakaian yang menantang. Dan sekali lagi, safia menyarankan untuk
mengikuti jejaknya. Ia mengajakku unutk belanja tank-top dan belasan stel
pakaian lainnya di butik langganannya. Aku tak peduli dengan nasihat mama dan
adikku. Mereka mengatakan aku terlalu norak. Bahkan mila adikku marah ketika ia
tahu aku menggalkan baju muslimahku. Aku tahu, aku berbaju muslimah setelah
menikah dengan rafkhan. Dan aku tak ingin semua dominasi rafkhan tersisa di
tubuhku. Itu hanya membangkitkan kenangan-kenangnan bersamanya. Aku merasa
tertipu dengan kealimannya. Untuk apa ia menyuruh istrinya ini berhijab jika ia
sendiri tidak becus menghijabi hatinya dari perselingkuhan yang sangat
memalukan? Bukankah itu tak masuk akal?
Malam itu aku sedang bersuka ria di pub malam. Tiba-tiba
seseorang muncul dan merenggut tanganku dengan tiba-tiba. Hamper saja gelas
yang aku pegang terlepas dan menghempas lantai. Aku terkejut bukan alang
kepalang. Rafkhan muncul di pub malam. Bagaimana bisa dia dating kesini? Apakah
ia mencariku kesini? Bagaimana mungkin ia tahu keberadaanku?bisa jadi ia kesini
untuk mencari wanita murahan untuk menemani malam-malamnya seteleh berpisah
denganku. Dan tanpa sengaja dia melihatku. Kadang aku tak mengerti, ini mirip
sebuah sandiwara yang benar-benar sangat menyebalkan. Tiba-tiba saja asa dendam
itu terbit dan menyeruak di dadaku.
Tanpa piker panjang, aku menggandeng seorang pria yang baru
saja kuajak kencan. Sayangnya, kondisinya setengah mabuk. Dengan sengaja aku
mendekati rafkhan dan mulai melantai; berdansa menigiringi irama music yang mengentak hingga relung kesadaran.
Aku menautkan diriku dengan pria itu. Pria itu terkekeh senang dan menggenggam
tanganku. Kemudian tangan kasarnya menyusuri wajahku hingga dagu. “kau mau
bercumbu denganku sayang?”Bau alcohol menyeruak dari mulutnya.
Aku melirik rafkhan yang berdiri satu meter dari tempatku
berada. Ia menatapku tajam. Bagus, rencanaku sukses. Aku hanya ingin ia merasa
marah dengan semua adegan ini. Berusaha membuat panas hatinya dan aku yakin, ia
tengah merana melihatku bermesraan dengan lelaki lain.
“Sudahlah raf, kali ini kita impas. Aku sudah melupakan
kesalahanmu. Bersenang-senanglah.”ujarku dengan tatapan sarkastis.
Rahangnya mengatup kuat. Mata coklatnya masih menatapku
dengan tatapan tajam.
“kenapa kau tidak ajak sinta dan melantai disini? Aku janji,
aku nggak bakalan marah lagi.”
“terlalu kau vina!”bentaknya sambil mendekatiku. Kemudian ia
merenggut tubuhku dari dekapan lelaki itu dan…
BUKK!!
Rafkhan menghadiahi wajah lelaki itu dengan bogem mentah.
Aku tercekat kaget.
Belum habis rasa kagetku, rafkhan mencengkram kerah baju
lelaki setengah mabuk itu dan menamparnya beberapa kali. Beberapa teman
wanitaku mulai histeris dan memanggil-manggil satpam bar. Ia benar-benar
beringas kali ini. Tanpa menunggu lama, rafkhan mencoba menyeretku keluar pub.
Ia tak mempedulikan aku yang terus mencacinya. Rafkhan mendorongku dengan paksa
ke mobilnya yang terparkir beberapa meter di depan pub. Kemudian menstarternya
sebelum satpam dan beberapa lelaki menghampiri mobilnya. Hamper saja mereka
terserempet. Sumpah serapah keluar dari mulut satpam dan beberapa lelaki itu.
Mereka melemparkan botol minuman ke kap mobil.
“gue mau keluar raf! Apalagi maumu!!”bentakku. rafkhan
mencoba menahan tangan mungilku yang berusaha membuka pintu mobil.
“DIAM VINA! DIAM!!” bentaknya tak kalah sadis dan menambah
kecepatan laju mobilnya. Sorot matanya menggambarkan bahwa ia sedang marah
besar.
“aku tak percaya bisa melihatmu di klab malam vin.”
‘apa urusan lu?!”jawabku.”lu nggak usah ikut campur. gue
bukan siapa-siapamu lagi.”
rafkhan tersenyum pahit.
“dari mana lu tahu gue ada di klab malam?”kataku dengan
kasar. Padahal jarang aku berkat elu dan gue keculai ketika marah seperti
sekarang ini.
“dari adikmu mila. Ia tahu, kamu setiap malam ada
disini.”jawabnya enteng.”apa kamu nggak merasa rindu sama sifa.”ujarnya dengan
nada lebih akrab.
Aku mengerling padanya.”memangnya kenapa?”
‘syifa selalu menanyakanmu.”
“sudah aku katakan biarkan syifa ikut denganku. Tapi kau
ngotot mempertahankannya.”
‘percuma aku berikan padamu. Syifa akan terlantar dan kau akan asyik dengan
dunia barumu di pub.”ujarnya dengan nada merendahkan.
“sama halnya denganmu. Sifa akan terlantar dan hanya diasuh
sama bi ijah. Sementara kau sibuk mengurus jadwal kencanmu sama wanita bernama
sinta itu.”
“DIAMM!!” bentak rafkhan. Rupanya ia tak tahan mendengar
kata-kata pedasku.
“KAU JUGA DIAMM!!”bentakku takmau kalah.
Rafkhan mendengus kesal. Aku merasa jijik melihaatu
berpakaian seperti itu.” Ujarnya sembari melirik tubuhku.
“gue udah bilang. Lu nggak usah ikut campur urusan gue raf.”
“siapa pula laki-laki kurang ajar tadi?!”tanyanya dengan nada kecewa.”kau masih
dendam sama aku vin?”
“hmmm…lu cemburu ya? Baguslah kalo begitu. Berarti kita
impas. Gue udah ngerasain cemburu duluan sebelum elu.” Ujarku penuh
kemenangan.’asal tahu aja, perasaan lu saat ini persis perasaan gue saat liat
foto cewek itu di hape lu. Ditambah telpon mesranya. Gue nggak tahu pasti,
sudah berapa kali lu telpon-telponan dengannya.”
Rafkhan terbelalak tak percaya. Ia tak berhenti menatapku.
Aku sama terbelalaknya. Tapi bukan menatap rafkhan. Aku terbelalak melihat
mobil yang meluncur deras kea rah pohon besar di pinggir jalan.
“TIDAKK!!!”teriakku sekuat tenaga. Setelah itu aku tak ingat
apa-apa lagi. Gelap.
Yang trakhir kali kuingat adalah ketika aku berdebat hebat
dengan rafkhan di dalam mobil. Dan aku tak bias mengingat apa yang terjadi
setelah itu. Gelap. Ya, gelap. Seakan-akan aku tak bias menikmati sisa hidupku
semenjak kejadian itu. Kamu tahu? Aku kini telah menjadi seorang waniata buta
yang tak tahu apa-apa selain gulita. Tak dapat melihat dunia dengan
warna-warnanya yang begitu meriah. Tak dapaat melihat anakku syifa, bahkan
hingga dia telah mencapai usia dewasa nanti.
Vonis dokter telah mengatakan bahwa saraf-saraf mataku
terganggu dan rusak total setelah
terbentur jok mobil. Bahkan beberapa minggu lamanya aku mengalami gegar
otak ringan. Itu masih untung dibanding dengan serpihan kaca yang masuk dan
menancap di bola mataku.
Setelah itu aku tak merasakan bahwa hidupku ini adalah
kehidupan yang sebenarnya. Aku ingin mati.
Ibu dan saudara-saudaraku yang bias membuat batinku merasa
kuat. Mereka selalu memotivasiku untuk bias optimis dan bangkit dari
keaterpurukan ini. Satu hal lagi, mereka selalu membuatku menangis dengan hanya
satu kalimat;”vina, kamu harus ingat sama Allah.”
Rafkhan jauh lebih beruntung. Laki-laki pengkhianat itu
hanya mengalami lecet-lecet dan sedikit jahitan di kepalanya. Seminggu yang
lalu dia sudah diijinkan pulang dari rumah sakit. Sebelum dia benar-benar pergi
dari sini, ia memasuki kamar rawat inapku dan entah yang keberapa kali meminta
maafku.
Pagi itu aku berdiri di bibir jendela kamar rumah sakit.
Pagi yang sejuk. Sayangnya aku tak bisa melihat mentari pagi. Hanya bisa
merasakan kehangatnya saja. Aku tersenyum kecut. Untuk apa aku berdiri di
pinggir jendela jika tak ada sesuatu yang bisa kulihat. Hmm, kebiasaanku setiap
pagi itu masih saja menggerakanku untuk berdiri di bawah jendela. Aku tahu,
mulai besok tidak seharusnya aku berdiri di pinggir jendela.
Tiba-tiba pintu kamar berderit. Langkah-langkah kaki
terdengar mendekatiku.
“pagi vin.” Ujarnya perlahan. Dari suaranya aku tahu ia
rafkhan. Lelaki itu kini berdiri di sampingku.”vin, maukah kamu kembali ke
rumah?”
Aku tersenyum kecut mendengar kata-katanya barusan. Menganggapnya
tak lebih dari sebuah ejekan. Sarkastis.
“aku tak mau kembali. Bahkan aku tak bisa menduga apa yang
akan terjadi sesudah ini. Bisa saja kamulebih leluasa menyimpan foto-foto
wanita lain di hapemu. Bisa saja kamu memasukan wanita lain ke kamar kita tanpa
pernah aku tahu. Aku tak lebih dari seorang buta yang tak tahu apa-apa. Wanita
bodoh yang tak lebih suatu apa pun. Atau mungkin kau akan malu mempunyai istri
seperti diriku. Lupakan saja. Aku juga belajar untuk melupakan dirimu.” Tak
terasa iar mata kembali menganak sungai di kedua belah pipiku.
Rafkhan terisak di sampingku.”jangan berkata begitu vin. Aku
tak suka mendengarnya.aku tahu, kamu menyimpan dendam dan sakit hati gara-gara
semua ini. Tapi, bisakah kau memaafkanku vin?”
Aku mendengus kesal dan mengibaskan tangan. Memberi isyarat
untuk membiarkanku sendiri.
‘aku tak tahu, harus dengan cara apalagi supaya rasa benci
itu hilang dari dadamu vin.”
Rafkhan menghela nafas dan beranjak pergi.
Aku berada di lapangan luas dan datar. Batu-batuhitam dan
tanah kering kerontang mendominasi padang tiada batas itu. Tapi, aku bisa
melihat? Allah, aku kembali bisa melihat? Bukankah aku buta? Aku merasa mual
dan pening. Kemana aku harus melangkah. Kenapa aku bisa berada di sini?
Tiba-tiba saja seseorang memanggil namaku.
Aku menoleh dan kulihat rafkhan. Ia menunggang seekor kuda
putih dan tersenyum kepadaku. Aku menghampirinya dengan
tergopoh-gopoh.”rafkhan, kita dimana?”
Rafkhan takmenjawab. Tapi senyumnya tak pernah hilang.
“bawa aku dari sini raf. Aku tak mau sendirian
disini.”pintaku dengan nada memelas.
Rafkhan menggeleng lemah.”kemarin kau sudah menolakku.
Padahal aku sudah memintamu untuk kembali ke rumah bukan?”
Aku tercenung. Rafkhan segala memacu kudanya membelah padang
gersang.
“RAFKHAN!!”
‘RAFKHAN TUNGGU!!”
Aku berteriak sekeras-kerasnya. Suaraku serak dan taenggorokan serasa mau
putus. Tiba-tiba bahuku terguncang dan lamat-lamat seseorang memanggilku.”kak.
kak vina! Kakak mimpi ya.”
Mila meraih pundakku dan menyandarkanku di dipan. Ia
menyodorkan segelas air putih. Hamper saja tumpah karena aku terlalu teragesa
meraihnya.
“kakak memimpikan kak rafkhan?”tanyanya lagi. Aku terdiam.
Bahkan aku tak tahu, kenapa aku bisa memimpikan rafkhan.
Ini adalah hari terakhirkudi rumah sakit.nanti sore aku bisa
pulang. Rencananya kedua orang tuaku akan menjemputku. Sepanjang hari itu aku
hanya bercengkrama dengan mila. Mila benar-benar adik yang bisa diandalkan. Dia
begitu perhatian terhadap kakaknya ini. Ia yang selalu menuntunku ke toilet,
membawaku bermain ke taman rumah sakit-walau itu tak berguna sama sekali karena
aku buta dan tak bisa melihat indahnya bunga dan kupu-kupu.
“yang penting, kakak bisa berjalan. Biar sirkulasi darahnya
lancar.”terang mila ketika aku mengatakan hal itu padanya.
Seperti pagi itu, mila asyik bercerita tentang kegiatan
kuliahnya ketika pintu kamar kembali berderit dan sekonyong-konyong aku
mendengar teriakan si kecil sifa.”MAMA! AKU DATANG!”
“syifa…’lirihku. Sepasang tangan mungil meraih tanganku yang
pucat. Aku meraih tubuhnya yang kurasakan semakin berat.”kamu cepat besar
sifa.”
“cium sifa dong ma.”
Aku tersenyum bahagia dan mencium kedua belah pipinya yang
berisi.
Sifa tertawa dan balik mencium kedua pipiku.”mama, aku
datang sama papa.”
Kini baru aku sadar, ada rafkhan di kamarku.
“vin, aku berjanji.
Mulai saat ini aku tak akan mengusikmu lagi. Karena kau selalu meminta sifa,
terpaksa aku relakan untuk bersamamu saja. Tapi aku ingin barang seminggu
sekali kau mengijinkanku untuk bisa mengunjungi sifa.”ujarnya dengan suara
bergetar. Tanpa aku minta dia beranjak pergi dari kamar.
Aku terkesiap dan berteriak memanggil namanya.”RAFKHAN!!”
Aku berusaha bangkit dari dipan. Mila sigap memapah
tubuhkuyang masih lemah. Kemudian mengantarkanku menuju sosok rafkhan yang
berdiri di ambang pintu.
“ada apa lagi vin.”ujarnya lirih.
Aku menunduk dalam.”aku juga sama berdosanya. Bahkan mungkin
kesalahanku lebih besar daripada semua kesalahanmu terhadapku. Raf, aku tahu,
selama ini aku terlalu sibuk mengurus bisnisku dan menelantarkanmu. Aku sadar,
kau tak merasa bahagia beristrikan seorang perempuan yang hanya menjadikan
rumah sebagai tempat pulang kerja. Tak lebih dari itu. Aku juga sadar, kau
jenuh dengan segala kesibukanmu. Tak ada funsi lain dari diriku selain sebagai
mesin uang.”
Rafkhan terdiam.
“aku berjanji raf. Mulai saat ini aku_”aku menangis dalam
sedu sedan panjang.
Raf meraih pundakku dan menghela nafas panjang.”aku tahu
vin.”
“jangan tinggalkan aku raf. Maafkan semua kesalahanku. Aku
akan belajar menjadi istri yang baik untukmu. Dengan semua kekuranganku” Air
mata kembali membanjiri kedua pipiku.
Terimakasih fin.”ujarnya lirih. Walau aku tak bisa melihat,
tapi aku yakin bahwa rafkhan tersenyum bahagia.


No comments:
Post a Comment