8 Feb 2026

Mental Zionisme dalam Sejarah Bangsa Kita

 


Seorang konten kreator asal Palestina membuat akun di OmeTV dan ngobrol dengan warga Israel secara acak. Dia mengajak lawan bicaranya yang orang Israel itu dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih. Lawan bicaranya sudah barang tentu berpikir dia pendukung Palestina dengan kehadiran kafiyah di sandaran kursinya. Kafiyah itu sering disangka cuma aksesori aktivis pro Palestina. Tidak ada yang curiga bahwa yang mereka ajak bicara adalah orang Palestina, dari bangsa yang selama ini mereka tindas sedemikian rupa. 


Dan seperti yang bisa ditebak, begitu obrolan menyentuh Palestina, caci maki pun tumpah ruah.


Palestina disebut bangsa teroris. Warganya brutal dan doyan kekerasan. Beberapa mencoba tampak rasional dengan argumen-argumen yang terdengar serius tapi isinya propaganda ala Zionis. Sang konten kreator menanggapi dengan tenang, sesekali berguyon dan pura2 blo'on untuk memberi umpan pada lawan bicaranya. Tapi pada akhirnya dipungkas dengan menyajikan fakta demi fakta. Dia bicara bukan dengan teriakan, tapi dengan suara kemanusiaan.


Hasilnya? Mayoritas lawan bicaranya yang orang israel itu memilih jalan pintas paling pengecut: menutup obrolan sambil memaki.


Namun, di antara puluhan wajah itu, ada satu-dua yang berbeda. Pada mulanya mereka juga memulai dengan prasangka yang sama. Mereka juga menjelek-jelekkan Palestina. Tapi ada satu hal ganjil: mereka mau mendengar. Mereka tidak langsung memotong. Tidak buru-buru defensif. Mereka memberi waktu bagi sang konten kreator untuk bicara.


Dan keajaiban kecil pun terjadi. Nada suara berubah. Kalimat menjadi lebih pelan. Ada jeda. Ada ragu. Ada pengakuan jujur: “Kami tahu ini salah. Masing-masing memiliki hak untuk menikmati hidupnya.” Bahkan ada yang akhirnya mengakui bahwa selama ini mereka salah.


Dua respon yang berbeda ini bukan berasal dari taraf kecerdasan, bukan moralitas bawaan, apalagi kesalehan. Yang membedakan cuma satu: kesediaan untuk mendengarkan tanpa membawa ego berlebihan. Orang secerdas apa pun, jika ego dikedepankan, dia akan tetap menolak fakta atau kebenaran. 


Ego primordial memang semacam belut yang licin.  Fakta dan kebenaran sulit digenggam. Ia membuat seseorang merasa benar bahkan sebelum berpikir.


Ketika ego ini melekat pada identitas primordial, entah itu agama, bangsa, suku, atau ideologi, ia berubah menjadi tameng anti-fakta. Apa pun yang mengancam citra kelompok sendiri akan dianggap serangan, bukan informasi. Argumen dari pihak lawan selalu dianggap ancaman dan kesalahan. 


Dalam konteks Israel–Palestina, ego primordial membuat banyak orang Israel mustahil melihat sisi gelap negaranya sendiri. Negara Zionis selalu benar berkat propaganda yang sudah semacam cuci otak. Bahkan sejak balita anak2 Zionis itu diajarkan kebencian demi kebencian sehingga kebusukan itu tercetak di jiwa mereka: menutupi kemanusiaan dan rasionalitas.


Di benak mereka, tentara Zionis selalu heroik. Jika ada warga Palestina mati, itu pasti salah mereka sendiri. Narasi ini diulang terus-menerus sampai terdengar seperti hukum alami. 


Yang ironis, pola ini sangat familiar bagi kita di Indonesia. Jika saya mengungkapkannya dengan analogi kasar, saya bisa mengatakan bahwa ada orang Indonesia atau bahkan orang islam yang bermental Zionis. 


Contoh paling telanjang adalah cara kita memandang tragedi 1965. Selama puluhan tahun, kita dicekoki narasi tunggal: bahwa siapa pun yang tertuduh komunis adalah monster tanpa iman yang pantas dibantai. Korban diposisikan sebagai ancaman, sementara pembantaian massal disebut penyelamatan bangsa.


Hannah Arendt pernah menulis tentang “banality of evil”—bahwa kejahatan besar sering dilakukan oleh orang biasa yang merasa sedang melakukan hal yang benar. Dan Orde Baru adalah bukti lokal betapa efektifnya propaganda dalam membuat manusia berhenti bertanya dan sekaligus lupa pada sejarah murni tanpa campur tangan propaganda. Kita selama puluhan tahun dicekoki bahwa mereka yang dimusnahkan adalah manusia2 kejam pembunuh yang anti Tuhan tanpa pernah diberi tahu bahwa ada ribuan manusia yang salah tangkap, dipaksa mengaku tanpa pengadilan atau bahkan dilenyapkan secara acak hanya karena desas desus.


Narasi Israel tentang Palestina—bahwa penderitaan orang Palestina adalah akibat ulah mereka sendiri—tidak berbeda secara struktural dengan narasi Orba tentang korban 65. Bedanya hanya lokasi dan aktor. Polanya sama: dehumanisasi, penyederhanaan, dan pembenaran kekerasan.


Saya tahu, membandingkan dua konteks ini akan membuat sebagian orang tidak nyaman. Tapi sejarah memang tidak membuat kita nyaman. Ia bertugas mengingatkan bahwa manusia, di mana pun, punya kecenderungan yang sama: membela kelompoknya sambil menutup mata terhadap darah yang mengalir di luar pagar identitas.


George Orwell pernah mengingatkan, “Political language is designed to make lies sound truthful and murder respectable.” Kalimat itu terlalu pas dengan apa yang saya bicarakan. Karena sejarah seringkali ~ditulis~ disetir oleh para pemenang. 


Ketika ego ini menang, maka kita tidak ingin membaca atau mendengarkan narasi di luar pakem yang selama ini kadung diyakini. Mendengar pihak liyan memang melelahkan. Ia menuntut energi, kerendahan hati, dan keberanian untuk mengakui bahwa mungkin kita selama ini salah. Jauh lebih mudah memaki, menutup layar, lalu kembali ke gelembung nyaman tempat kita selalu benar.


Maka, orang-orang Israel dalam video OmeTV itu bukan kalah argumen. Mereka kalah oleh ego mereka sendiri. Mereka tidak menolak fakta karena faktanya lemah, tapi karena faktanya mengganggu apa yang selama ini mereka yakini.


Dan ini bukan hanya soal Israel. Ini tentang kita semua.


Tentang Muslim yang menolak mendengar kisah korban 65. Tentang fans  figur politik atau figur agama yang tidak siap mendengar keburukan2 idolanya. Tentang orang2 sok nasionalis yang menutup mata pada kekerasan negara. Tentang siapa pun yang merasa identitasnya terlalu suci untuk dikritik.


Mendengar memang tidak otomatis membuat kita setuju. Tapi tanpa mendengar, kita bahkan tidak memberi kesempatan pada kebenaran untuk mengetuk.


Barangkali, masalah terbesar manusia bukan kebencian. Melainkan ketidakmauan untuk diam sebentar dan mendengar orang lain berbicara sebagai manusia, bukan sebagai musuh.


Dan selama kita masih lebih sibuk membela “kita” daripada memahami “mereka”, tragedi akan terus berulang—dengan aktor, bendera, dan slogan yang berbeda.

Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment