Malam
itu Nandi dan Husni menginap di rumah kakek Hasan. mereka menginap di rumah
kakek Hasan karena kakek Hasan berjanji untuk membantu mereka menyelesaikan
tugas sekolah untuk hari senin. Husni dan Nandi berdua tidur di kamar paman
Rusli, anak bungsu kakek Hasan yang sekolah di sebuah pondok pesantren di jawa
tengah. Jadi kamar tersebut kosong, hanya setahun sekali paman Rusli pulang ke
kampung.
Tapi
Nandi dan Husni tidak bisa tidur karena merasa gerah. Selain itu banyak nyamuk
di kamar tersebut. Akhirnya Nandi dan Husni hanya mengobrol saja.
“Husni,
katanya kalau kamar berminggu-minggu tidak diisi itu suka dihuni setan.”ujar
Nandi sembari memainkan bantal.
“Ah,
ada-ada saja kamu Nan, itu namanya tahayul. Cerita bohong yang tidak boleh kita
percaya.”sergah Husni. Dia tidak suka Nandi menceritakan cerita yang
seram-seram.
“Bener
Hus, kata sarli, di rumahnya juga ada kamar bekas neneknya. Semenjak neneknya
meninggal Sarli sering mendengar suara-suara aneh di kamar neneknya itu. kata
Sarli, dia bahkan mendengar suara seseorang yang batuk dan bercakap-cakap.”
“Sudahlah
Nan, jangan cerita hantu lagi. Nanti terbawa mimpi lho.”ujar Husni dengan
cemberut.
“Kamu
takut ya.”ejek nandi sembari tersenyum lebar.
“Tidak.
Anak lelaki mana takut dengan cerita hantu bohongan.” Sergah Husni. Padahal di
hatinya ia membenarkan persangkaan Nandi. Dia takut jika mendengar
cerita-cerita hantu. Apalagi diceritakan di malam hari.
“Tahu
tidak Hus, ternyata hantu itu_”Nandi menghentikan kata-katanya karena mendengar
sesuatu di luar kamar mereka.
Husni
dan Nandi saling tatap. Ada suara langkah kaki mendekati pintu kamar mereka.
Nandi dan Husni merasa gelisah dan ketakutan luar biasa.
“Ini
semua gara-gara kamu menceritakan hantu itu. akibatnya dia datang.”bisik Husni
kepada Nandi.
“Itu
kan cerita bohongan.”sergah Nandi dengan bisikan.”Mana mungkin hantu itu
datang.”
“Itu
buktinya. Suara itu.”
Suara
langkah kaki semakin jelas terdengar mendekati kamar. Husni dan Nandi menahan
napas dan melafalkan doa-doa.
Tiba-tiba…KREK…
Pintu
kamar terbuka perlahan. Husni dan Nandi segera menutupi wajah mereka dengan
selimut dan menajamkan pendengaran mereka.
Suara
langkah kaki yang beradu dengan lantai kayu semakin jelas terdengar. Kemudian
disertai suara batuk yang mendengkung.
Nandi
tersenyum lebar.”Itu kakek.”
“Kalian
belum tidur?”Tanya kakek dari pojok ruangan.
Husni
dan Nandi menyibak kain selimut dan melihat kakek yang sedang menyalakan obat
nyamuk bakar di pojok ruangan.”Malam ini banyak nyamuk cu.”
“Iya
kek, kami tidak bisa tidur karena banyak nyamuk.”jawab Nandi.
Setelah
kakek meletakan obat nyamuk bakar di pojok kamar, Husni dan Nandi bisa tidur
tenang. Nyamuk-nyamuk tersebut tidak lagi mengganggu mereka.
Malam
sudah larut ketika Husni mendengar suara di jendela. Seperti ada benda yang digesek-gesekkan
di jendela kamar tersebut. Beberapa saat kemudian suara gesekan itu berubah
menjadi suara ketukan yang samar.
Husni
memicingkan matanya. Suara tersebut masih terus terdengar. Tiba-tiba dia
teringat cerita Nandi. Jangan-jangan benar apa yang diceritakan Nandi. Kamar
itu ada penghuninya, dan penghuninya tidak senang jika kamarnya ditempati
mereka berdua.
Husni
menggoyang-goyangkan bahu Nandi untuk membangunkannya.”Nandi, bangun!”
Nandi
menggeliat dan hanya bergumam tidak jelas.
“Nandi
bangun, ada suara di jendela.”
Nandi
tetap bergeming dan mendengkur. Husni hanya bisa menahan kesal dan kembali
berbaring disamping sahabatnya itu. mencoba tidak mempedulikan suara di
jendela.
Tapi,
semakin Husni berusaha untuk tidak acuh, semakin dia terganggu dengan suara
itu.
”Besok
pagi aku akan tanyakan pada kakek.”bisiknya. matanya masih tidak bisa terpejam.
***
Kakek
tertawa mendengar cerita Husni ketika sarapan pagi. Sementara Nandi bertanya
kepada Husni.
“Kamu
tidak bohong kan?”Tanya Nandi. Ia meragukan cerita Husni.
“Ya
sudah kalau tidak percaya. Aku sudah bangunkan kamu, tapi kamu kebluk.”jawab
Husni sengit.
“Ayo
ikut kakek.”ajak kakek sembari beranjak dari kursi.
“Mau kemana kek?”Tanya Husni. Ia dan Nandi
mengikuti langkah Kakek.
“Menghukum
hantu yang membuat tidur kalian terganggu.”jawab kakek diiringi tawa.
Mereka
menuju kamar bagian luar. Kakek tersenyum kepada Husni. Tangannya menunjuk ke
arah jendela.”Lihat, ternyata ini hantunya.”
Di
sana ada pohon kelapa yang belum terlalu tinggi. Satu dahan pohon kelapa yang
sudah tua terjuntai hingga menyentuh daun jendela.
“Nah,
ketika angin bertiup, maka dahan pohon kelapa ini bergoyang-goyang dan
menimbulkan suara gesekan di daun jendela kamar kalian.” Terang kakek.
Kakek
mengeluarkan bilah golok dari sarungnya yang biasa dia lingkarkan di pinggang
dan memotong dahan kelapa tersebut sehingga tidak menyentuh daun jendela.
“Sekarang
hantunya sudah mati.”ujar kakek.
Husni
dan Nandi tertawa.

No comments:
Post a Comment