Aku akan selalu ingat ketika aku dan ibu keluar rumah denganmengendap-endap
di malam hari. Kemudian meminta tuan fude mengantarkan kami kepantai di tepi selatan
bergabung dengan ratusan saudara yang lain. Kami harusmembayar mahal orang
hindust itu hanya untuk mengantar kami hingga pantai yang berjarak tiga kilo
meter dari kampun kami.
Kedua mata ibu tampak berair.Hasan, adik pertamaku terbuai
di pangkuannya. Aku merasa malam ini adalah malam yang sangat kelam. Bagaimana tidak
kelam, kemarin orang-orang yang mengaku berwelas asih dan berjubah jingga itu menyembelih
ayahku sendiri di hadapan kami sekeluarga.Tak hanya itu, adik keduaku menemui ajal di ujung pedang
yang ditancap di tanah. Para durjana berbaju jingga itu merebut adik keduaku dari
pangkuan ibu. Oh allah, bahkan umurnya masih delapan bulan dan belum fasih berbicara.
Adikku itu menangis dengankeras.Mungkin ia tahu bahwa ia berada di tangan
orang-orang yang jahat.
“JANGAN! KUMOHON!” Ibu meronta-ronta dan berusaha menggapai anak
ketiganya.”Demi ajaran welas asih.Jangan bunuh bayiku tuan!”
Aku hanya tergugu dan air mataku sudah habis sejak itu.
Waktu seakan berjalan cepat. Ibu seakan berubah menjadi wanita
yang linglung.Tapi aku tahu, ibu masih waras. Ia masih selalu melantunkan dzikir
dari mulutnya. Aku? Jangan kau Tanya. Aku
sama linglungnya.
Kekejaman demi kekejaman yang aku –atau lebih tepatnya kaumku-
terima, seakan dunia ini sudah kiamat saja. Pertama yang aku tahu bawah masjid
kami dibakar, belum termasuk rumah-rumah kayu kami. Imam masjid
diculikdandibawa entah kemana.
******
Ibu tak banyak cakap sejak kemarin lusa. Aku juga berubah menjadi
gadis pendiam. Bagaimana tidak, semua mimpi-mimpiku akan terkubur di negeriku sendiri.
Terlalu buruk untuk bisa bertahan di negeri Burma. Masa bodoh dengan sejarah
kami. Masa bodoh dengan tanah leluhur kami dan negeri arakan yang pernah jaya. Kami
lemah dan hina untuk masa ini. Kami hanya berpikir bagaimana caranya kami bisa menghindar
dari kekejaman orang-orang berjubah jingga itu.
Ibu sudah naik keatas perahu
motor yang –ya ampun- ratusan orang sudahberjejal di atasnya-. Aku khawatir
perahu kecil itu akan tenggelam di atas lautan karena kelebihan muatan.
“ibu, bisasajakitatenggelam di tengahlautan.”
Serukumengalahkansuarabising orang-orang di sekitarku.
Ibu menatapku lekat-lekat,”seba, kita harus optimis bahwa allah
akan menolong setiap usaha kita. Lebih baik kita tenggelam di tengah lautan dari
pada terbunuh dengan hina disini.”
Ah masa bodoh dengan lautan dan ombak-ombaknya yang ganas.
Aku sudah terlalu lelah dengan semua penderitaan ini. Jangan-jangan aku sudah kebal
dengan penderitaan. Benar apa yang dikatakan ibu, lebih baik mati di tengah lautan
dari pada mati di tangan orang-orang budha itu.
Bukankahiniperjalananhijrah.Bahkanallahsendirimemerintahkanumatnyauntukhijrahketikakedzalimanbegitunyata.
Rasulullah Muhammad pun
mencontohkanhaliniketikakaummusyrikmekkahtidakmenerimakehadirandakwahnya.Dan
ituterjaditehadapdirikusebagaigadisrohingya.
Terlalumahalpengorbanan yang harus kami
bayaruntukperjalananhijrahini. Aku sudah tahu bagaimana aku harus kehilangan ayah
danadikkeduaku.Kaujugatahubagaimanaakuharuskehilangan masjid dan imam
kami.Tapi ada satu hal yang
belum aku ceritakan secara utuhkepadamu.Iniperihalcintaku.Ya, akutelahkehilangancintaku.Sudah
lama cintaitumekar di hatikuketika Abdullah
datangkepadaayahkuuntukmelamarku.Betapabahagianyahatikukalaitu.Siapagadis yang
tidakmengenal
Abdullah.Pemudauletdanberpendidikanitusangatbaikdansoleh.Iajugadikabarkanbisajadimenjadipenerus
imam yang sudahudzursetelahmenempuhpendidikanislam di Thailand
selatantigatahunlamanya. Akuseakanmenjadigadis yang sangatberuntung di
jagatduniakalaitu.
Ayah
menatapkudengantatapanbahagia,”akhirnyatibasaatnyakauharusbersuamiseba.”
Akuhanyatertundukmalu. Ayah mengelusrambutku.”bahkanbelumpernahabahmerasabahagiasepertiini.”
Tapi seminggu berselang setelah lamaran itu, tersiar kabar,
Abdullah telah tewas dengan tiga timah panas yang menembus dadanya.Entah kenapadanbagaimanaiaditemukantewas
di beranda masjid. Akumenangismenghadapikenyataanitu.Cinta yang mulaibermekaran
di hatikukinimeranggasdanberguguransatu-satu.Wajahtedul Abdullah
seakanmenerorkusetiapmalam.Andaiakutidakpunyaimandankeyakinan yang kuat,
mungkinakusudahmenghabisinyawakusendiri.Terlaluberatkutanggungderitaitu.
Dan kejadian demi kejadian seakan kejar mengejar dan saling melengkapi
satu sama lain. Terror demi terror terus beriringansehingga kami harus pergi.
****

No comments:
Post a Comment