Dian menyodorkan bungkusan kecil berwarna putih tepat ke depan hidung Tia.”Kamu harus meminum bubuk ini. Tante tidak mau mengambil resiko.”
Tia melipat kening.”Justru obat ini beresiko untukku dan
bayiku!”serunya dengan gusar.”Aku tak ingin menggugurkan kandunganku.”sekali
lagi ia berkata dengan tegas.
Dian menggemelutuk giginya mendengar penuturan Tia. Ia tak
menyangka anak buah kesayangannya itu akan berani membantah kata-katanya.
Biasanya ia selalu menurut dan dapat diandalkan dalam hal apa pun. Terutama
dalam menggaet para pelanggan. Tak ada yang bisa menyaingi Tia.
Dian mencondongkan kepalanya dan berkata dengan pelan.”Jika
kamu membiarkan bayi itu tumbuh di perutmu, kamu tak akan laku selama kau
hamil.”
Tia menatap mata Dian dengan tajam.”Masa bodoh dengan hal
itu, aku tak peduli, tante!”
Dian terhenyak untuk yang kedua kalinya. Anak buahnya yang cantik dan selalu primadona para lelaki itu bahkan berani membentaknya sekarang. Dian menyorongkan kepalanya lebih dekat dan menjambak rambut Tia. Dia merasa diremehkan oleh anak buahnya itu. Bah, kemana Tia yang selalu penurut dan menyenangkan hatinya?
“Dengar Tia! Kau mau repot dengan bayimu? Dan kau tak akan bisa melayani para pelanggan jika kau punya bayi!”
Tia mendengus.”Sekali lagi aku katakan, aku tak peduli dengan hal itu tante!”
“Lalu kau makan dari mana, ha!”
Dian terhenyak untuk yang kedua kalinya. Anak buahnya yang cantik dan selalu primadona para lelaki itu bahkan berani membentaknya sekarang. Dian menyorongkan kepalanya lebih dekat dan menjambak rambut Tia. Dia merasa diremehkan oleh anak buahnya itu. Bah, kemana Tia yang selalu penurut dan menyenangkan hatinya?
“Dengar Tia! Kau mau repot dengan bayimu? Dan kau tak akan bisa melayani para pelanggan jika kau punya bayi!”
Tia mendengus.”Sekali lagi aku katakan, aku tak peduli dengan hal itu tante!”
“Lalu kau makan dari mana, ha!”
“Gusti Allah yang
memberiku makan! Bukan tante Dian!”
“Aku bersumpah akan mengusirmu dari sini! Kau sulit diatur!”
“Aku tak peduli! Usir saja sekarang!”
PLAK!PLAK!
Dua tamparan mendarat di pipi Tia. Ia sempoyongan dan
tersungkur di atas dipan. Beruntung, dahinya yang hampir membentur sandaran
dipan bisa ia tahan dengan tangan yang berpegangan di sandaran. Tia merasa
pusing. Ia tak memperdulikan bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah. Sial!
“Aku tak akan membiarkanmu bersikap kurang ajar Tia. Jika
kau masih berani melawan, aku tak segan-segan untuk memberimu pelajaran lebih!”
sesumbar Dian dan ia berlalu, meninggalkan bunyi berdebam dari pintu yang ia
banting.
Tia berdiri. Baru menyadari bahwa darah banyak keluar dari
mulutnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi tidak untuk menangis. Tia sudah
kebal dengan kesedihan dan air mata. Bagi Tia, segala hal yang membuatnya sedih
dan menderita sudah menjadi bagian dari riwayat kehidupannya. Matanya
berkaca-kaca karena rasa sakit di mulut dan pipinya.
****
Kali ini Dian benar-benar kalap. Ia menjambak rambut Tia dan
membenturkannya ke tembok kamar. Tia hanya mengerang kesakitan dan meringis
ketika tangan kurus tante Dian semakin mengencang di jalinan rambutnya.
“Kau membuat tante malu, Tia!”
Tia kembali meringis. Tapi ia tak berkata-kata lagi. Percuma ia membantah. Jika hal itu dilakukannya lagi, maka Dian akan semakin kesetanan dan bernafsu untuk menyiksanya lebih jauh lagi.
Tia kembali meringis. Tapi ia tak berkata-kata lagi. Percuma ia membantah. Jika hal itu dilakukannya lagi, maka Dian akan semakin kesetanan dan bernafsu untuk menyiksanya lebih jauh lagi.
“Kau menolak tiga lelaki malam tadi tanpa alasan yang
jelas.”bentak Dian dengan mata nyalang.
Tia kembali mengerang lemah. Kali ini dia harus menjelaskan
keengganannya.”Saya lagi sakit tante. Saya mual-mual sejak kemarin. Kan tante
juga tahu, aku hamil muda.”ujar Tia lirih. Rasa perih masih menjalari kulit
kepalanya walau tangan kurus dian sudah hengkang dari rambutnya yang hitam.
“Persetan dengan anak harammu! Kau hanya mencari-cari alasan
untuk bisa mempermalukanku.”
“Bukan anak di perutku yang haram. Tapi orang tuanya yang
haram dan hina.”
Dian membelalakan matanya.”Kau masih berani membantahku
hah!”
Tia terdiam dan berharap Dian menghentikan sikap jahanamnya.
Tia yakin, kata-katanya barusan sudah menyulut Dian semakin membara dan semakin
bernafsu untuk memjadikannya bulan-bulanan tangannya yang kejam.
Dian hanya terdiam dan menatap tajam ke arah Tia. Beberapa
saat kemudian, ia melangkah ke pojok kamar dan mengambil sesuatu dari laci meja
rias Tia. Ia menoleh ke arah Tia.
Tia menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Laku apa lagi
yang akan dilakukan Dian kepadanya? Ia hanya berharap paling tidak hanya
sebatas tamparan biasa atau jambakan.
Tapi tatapan tajam dian semakin membuat nyalinya menciut seketika.
Dian membalikan badannya dan… oh Tuhan, di tangannya
terdapat sebuah kabel dengan ujung kabel yang terbuka. Dari dalam kabel itu
mencuat benang-benang kawat halus. Mata sayu Tia mengikuti arah kabel itu
berasal. Oh, rupanya dian memutuskan kabel lampu dari pojok ruangan. Sialnya,
dengan refleks dian menekan sakelar yang menempel di tembok tak jauh dari
tempatnya bediri.
Tia semakin gemetaran dan ia yakin apa yang hendak dilakukan
dian terhadap dirinya.
“Kau belum merasakan setrum kan? Kau mau mencobanya Tia?”
“J-jangan tante. S-saya mo-mohon! Jangan lakukan itu tante.
J-jangan!”
Terlambat. Dian sudah mencengkram tangan ringkih Tia dan
dengan gerakan yang gesit, menempelkan kabel itu ke pahanya yang terbuka. Tia
menjerit sekencang-kencangnya. Bahkan ia sendiri tak percaya bisa menjerit
sekencang itu. Rasa sakit menjalari tubuhnya. Tuhan, aliran listrik itu
membuatnya semakin gemetaran. Seluruh urat tubuhnya meregang dan sengatan
itu….untuk yang terakhir kalinya tia tak ingat apa-apa.
****
Perlahan, tia membuka matanya dan ia sadar bahwa ia masih
berada di kamarnya. Dari jendela kamarnya yang lebar, tia melihat hari sudah
gelap. Sudah malam rupanya.
Rasa ngilu menjalari
tengkuk dan punggungnya ketika ia bangkit dari tempatnya berbaring.Aku masih hidup? Aku kira aku sudah mati.
Tapi, lebih baik aku mati dari pada merasa tersiksa.
Kepalanya terasa
berat karena pusing. Kakinya gemetaran. Sejak kemarin sore tante dian tak
memberinya makan. Ini pelajaran untuk
pembangkang. Mana bisa kamu makan, sementara kau tidak menghasilkan uang!
Masih terngiang-ngiang dengan jelas apa yang dikatana dian ketika tia meminta
jatah makan. Ia berusaha membujuk teman-temannya untuk memberinya makan dengan
diam-diam. Tapi mereka merasa takut terhadap tante dian. Tanpaknya, dian sudah
mengancam mereka sebelumnya. Lagi pula,sekarang tak ada yang bisa masuk ke
kamarnya kecuali dian.
Tia melangkah dengan
gontai. Rasa lapar membuat persendiannya lemas dan pandangannya
berkunang-kunang. Tapi tia bertekad akan mengakhiri semua penderitaan itu malam
ini juga.
Tia mulai mengemasi baju-bajunya ke dalam tas kecil.
Secukupnya saja. Ia melangkah menuju lemari yang isinya acak-acakan. Di bwah
lipatan bajunya ia menyimpan uang. Tangannya yang gemetar meraba-raba dan
menyingkap semua baju. Tia termenung. Uang itu telah hilang dari bawah lipatan
bajunya. Pasti tante dian mengambilnya tadi sore. Ah, apa peduliku dengan uang.
Yang penting aku harus keluar malam ini
juga.
Tia melangkah gontai menuju pintu dan membuka kenopnya.
Sial! Pintu terkunci dari luar. dian tak kehabisan akal. Ia sudah bertekad
untuk hengkang dari rumah itu mala mini juga. Ia hanya termenung beberapa saat
lamanya hingga ia terseyum lebar.ia puny aide.
Tia beranjak ke arah tempat tidur dan membuka seprei dan
beberapa potong pakaian. Dengan cekatan –kalau tidak boleh dibilang
tergesa-gesa- ia menyambungkan kain-kain potongan baju dan seprei itu hingga
menjuntai panjang. Setelah itu ia menalikannya ke kaki dipan dan mengulurkannya
kea rah jendela. Tia melongok ke luar jendela untuk memastikan bahwa kain itu
menjuntai sampai halaman. Sempurna. ia bisa turun sekarang juga.
Baru saja ia mau melangkah ketika kenop pintu berputar dan
daun pintu terbuka lebar. Tubuh tia membeku dan keringat dingin langsung
membanjiri tubuhnya. Gawat! Ia melihat dian menyeringai di ambang pintu.”mau
mencoba kabur sayang?”
Tia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Lututnya semakin
gemetaran. Degup jantungnya lebih cepat di atas normal. Andrenalinnya terpacu
lebih dari yang ia duga. Ia bisa memprediksi, dian akan menyiksanya lebih hebat
lagi setelah mengetahui rencana kaburnya yang gagal.
“oh sayangnya ya, aku keburu datAng…”ujar dian dengan nada
dibuat-buat. Langkah kakinya berirama ritmis di lantai marmer. Suara sepatu hak
tingginya seakan meneror detik demi detik waktu yang dilalui tia.
“Kenapa nggak bilang-bilang kamu mau kabur? Kan bahanya
lewat jendela.”ujar dian lagi denga senyum yang menjijikan. Sekali lagi,
tangannya dengan gesit mencengkram jalinan rambut tia dan membenturkannya ke
tembok kamar. Tia kembali mengerang. Tuhan!
Bebaskan aku dari tangan jahatnya. Aku mohon tuhan!
Dian menyeret tubuh lemah Tia ke pojok ruangan dan kembali
meraih kabel yang sedari tadi tergeletak di pojok ruangan. Menekan sakelar dan
bersiap memulai aksi selanjutnya. Tia tak bisa membayangkan dirinya akan
menerima setruman lagi. Ia tak ingin mati konyol dengan aliran tegangan
listrik. Dadanya bergemuruh karena marah, takut, sedih dan kalut yang bercampur
jadi satu. Tangannya yang gemetaran dengan refleks meraih jambangan bunga yang
terbuat dari tembikar dan melemparkannya ke arah dian. Dian terbelalak kaget.
Ia tak sempat menghindar ketika jambangan itu menghantam keningnya dengan
begitu cepat.
PRANG!! Jambangan itu hancur menimpa lantai setelah
menghujam wajah dian.
“ANJING!”dian menggerung dan bersungut-sungut. Ia menyeka
darah yang merembes dari dahi dan pipinya. Tia semakin gemetar. Dian akan
semakin murka. Bisa saja dian membunuhnya saat ini juga.
Benar. Sejurus kemudian dian sudah menatapnya dengan tatapan
nyalang penuh nafsu. Perempuan itu mengambil gunting besar yang tergeletak di
atas meja.
“Kau harus mati tia!!” serunya dengan nada kebencian.
Matanya berair karena terkena hantaman jambangan di mukanya. Dian masih
merasakan kebas di otot wajahnya. Rasa pening mulai menghajar kepalanya.”kau
tak tahu diuntung! Anak iblis!”
dian, dengan amarah yang merasuki setiap inci dari tubuhnya mulai menyerang tia dengan gunting di tangannya. Tia terbelalak dan menghindar sebisa mungkin. Ia menghindar kea rah kanan ketika dian berusaha menghunjamkan ujung gunting ke perutnya. Tuhan! Jangan biarkan janin di perutku mati karena tangan kotornya. Jangan biarkan tuhan!
dian, dengan amarah yang merasuki setiap inci dari tubuhnya mulai menyerang tia dengan gunting di tangannya. Tia terbelalak dan menghindar sebisa mungkin. Ia menghindar kea rah kanan ketika dian berusaha menghunjamkan ujung gunting ke perutnya. Tuhan! Jangan biarkan janin di perutku mati karena tangan kotornya. Jangan biarkan tuhan!
Dian semakin kalap ketika tia berusaha menghindar darinya.
Ia yang sudah terkuasai emosi yang memuncak
mulai menyerang kembali. Naas, kakinya yang telanjang menginjak serpihan
tembikar yang tajam. Dian menjerit dengan keras. Sumpah serapah kembali keluar
dari mulutnya ketika ia melihat darah merembes dari talapak kakinya. Darah itu
melebar di marmer putih. Darah itu terus memancar keluar. Dian menjerit-jerit.
Ia tak bisa berdiri lagi. Dian mencoba memanggil-manggil anak buahnya yang
lain. Tapi nihil. Mungkin mereka semua sudah tertidur di kamarnya
masing-masing. Lagi pula, teriakan di lantai bawah tidak akan terdengar sampai lantai
dua.
Dian frustasi. Ia menangis.”Jangan sakiti aku Tia. Maafkan
aku tia. Please, jangan sakiti aku…”erangnya dengan tatapan penuh ketakutan.
Tia tersenyum hambar.
Terimakasih tuhan. Kau telah mendengar doa orang yang teraniaya. Lantas ia
melenggang pergi dengan membawa tas kecilnya yang berisi beberapa potong
pakaian. Meski langkahya gemetaran dan sempoyongan karena lapar, tapi
kemenangan malam ini membuatnya kuat untuk segera pergi dari neraka rumah itu.
Meninggalkan Dian yang bersimpuh dan terbelalak ketakutan dengan darahnya
sendiri. Entah bertahan sampai kapan. Besok pagi mungkin?
“Selamat tinggal…”lirih tia dan melangkah pergi.
Meninggalkan kamarnya.


No comments:
Post a Comment