Mobil melunjur menuju kawasan yang dijejali dengan
pusat-pusat perbelanjaan, kafe, bar dan butik-butik mewah. Kemudian berhenti di
depan sebuah kafe. Dari luar terdengar entakan music yang begitu kentara. nur
bisa merasakan ingar binger dari lampu disko yang menyoroti depan kafe. Mereka
bertiga turun dari mobil. Satu hal yang menjadi kesulitan tersendiri bagi nur;
memakai high heels di kedua kakinya yang lebar. Tante viola tak pernah
menyuruhnya memakai high heels ketika ia bekerja di kafe siang. Tapi saat ini
beda, tante mewajibkannya memakai sepatu tak tahu diuntung itu.
“nanti lama-lama kamu juga bakalan terbiasa kok,”ujar tante
viola enteng ketika nur mengeluh betapa sulitnya berjalan dengan memakai sepatu
seperti itu. Gerak kakinya merasa cukup terakekang oleh rok ketat di atas
lutut. Dan itu diperparah oleh sepasang sepatu high heels.
“oke, tante ada urusan lain. Kalian nanti pulang pake taksi
saja ya.”ujar tante viola sembari memutar mobilnya dan meninggalkan mereka
bertiga. Sekar sudah pergi duluan ke dalam kafe.
“ayo.”ujar ninon sembari menarik tangan nur. Mereka berjalan
beriringan. Semakin ke dalam, suara entakan music semakin keras terdengar. Loud
speaker ditempatkan di setiap atas sudut ruangan. Lampu disco membuat nur
merasa silau dan pusing.
Langkah nur hamper terseret-seret ketika ninon menggenggam
pergelangan tangannya. Perempuan itu begitu lincah menerobos kerumunan dan
berjalan anggun dengan high heelsnya. Padahal nur harus berjalan tertatih-tatih
dan meringis ketika hamper terjatuh.
“ninon, kamu mirip polisi nyeret penjahat. Bias nyantai
dikit nggak?”
Ninon menatap nur dan tertawa geli.”sorry.”
Beberapa lelaki yang sedang asyik dengan botol-botol bintang
bersuit dan memanggil ninon dengan mesra. Tapi ninon hanya memasang senyum
tipis. Bahkan beberapa orang ada yang menjawil lengannya. Huh, untungnya tak
satu pun yang menyentuh nur. Mungkin mereka masih merasa asing dengannya.
Mereka hanya menatap dan bersiul saja. Itu juga cukup membuat nur jengah.
Tak berapa lama mereka telah sampai di meja bartender. di
sana tampak seorang lelaki dengan wajah indo sedang asyikmengisap rokoknya.
Beberapa botol bir dengan merek bintang dan wine berjajar rapi di depan dan
disampingnya. Ninon menghampiri dan menyapa pria berwajah indo itu.” Hai
fernandes, apa kabar.”
“fine, nona manis.
Dia rekan kerja baru kita?”tannya sembari melirik kea rah nur. Nur
tersenyum.
“ya.”jawab ninon dan beralih menatap nur.”perkenalkan nur.
Ini fernandes. Dia juga pelayan disini.”
“nurani.”nur menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya.
“Sebastian fernandes.”jawabnya dan menyambut hangat uluran
tangan nur.
“oke, aku akan mengantarkan pesanan dulu ya.”ujar fernandes
masih dengan senyuman kahsnya. Tangan kekarnya cekatan mengambil beberapa botol
bir bintang dan menyusunnya di atas nampan dengan glas-gelas berkaki tinggi.
Kemudian pergi dari hadapan mereka berdua.
“kamu belum pernah cerita ninon.” Seru nur. Disini, bicara
harus dengan urat leher. Jika tak berteriak, suaramu akan tertelan suara ingar
binger music.
‘cerita tentang apa?”
“cerita tentang fernades. Aku kira Cuma kamu dan sekar yang
bekerja disini.”
Ninon tersenyum.” Ia, kita biasa malam nyampe sini. Adapun
fernandes, dia biasa sudah stand by disini sejak jam lima sore.”
Nur menatap sekitarnya. Suasana yang begitu meriah dengan
lampu disko yang menyoroti setiap wajah pengunjung. “lumayan juga ya
pengunjungnya.”
“iya dong, saya sama sekar biasa kerja sampe jam tiga dini
hari.”
“pantes aja kalian mirip vampire. Suka tidur siang.”
Ninon tertawa lebar mendengar gurauan nur. “begitulah
orang-orang yang mengabdikan hidupnya dengan kehidupan malam nur.
Ngomong-ngomong, kamu udah ngantuk ya.”
Nur mendengus.”aku belum terbiasa dengan kerja seperi ini.
Taku tak bias membayangkan, bagaimana aku bias bertahan sampai jam tiga dini
hari ninon.”
“nyantai aja kali, nati juga adaptasi.”jawab ninon enteng.
Ia mengalihkan pandangannya kepada sosok fernandes yang sudah kembali duduk
bersama mereka.”gimana saying, udah banyak laku birnya?”
Fernandes kembali mengambil sebatang rokok sampoerna dari
atas meja. Gayanya tak ubahnya seperti pria borjuis mettropolitan. “lumayan.”
Ninon mengamit lengan fernandes dan mengambil rokok yang
sama.” Rokok nur?” tawarnya.
Nur tertawa sarkastis.”sejak kapan aku suak rokok ninon.
Habiskan saja sama kekasihmu.”
Mereka bercengkrama hingga para pengunjung bar semakin
meamdati ruang utama.
“oke, sekarang giliran kamu untuk mengantarkan pesanan
bintang ini kea rah sana nur. “ujar fernandes sembari menunjuk kerumunan orang
di pojok kafe. Pojok gelap yang tak terlaluterusik keramaian.
Nur mengambil nampan di samping fernandes dan mengambil
beberapa botol dan gelas. Kemudian pergi menyusuri meja-meja yang terlihat
berantakan. Tak berapa lama, ia sudah sampai menuju meja di sudut kafe. Disana
terdapat tiga orang pria dengan pakain perlente sedang asyik bercengkrama satu
sama lain. Nur tersenyum kepada mereka dan menyimpan botol dan gelas di atas
meja.
“kalau kurang bias pesan lagi di meja bartender tuan.”ujar
nur dan kembali tersenyum.
“kurasa tiga botol cukup.”ujar salah seorang dari mereka
sembari menatap nur sedemikian rupa.
“kau baru disini?”
Nur mengangguk dan hendak kembali pergi. Tapi salah seorang
dari mereka mencekal pergelangan tanganya.”jangan dulu pergi manis…”
Nur terperanjat kaget.”iya tuan.”
“apakah nona manis punya waktu malam ini. Kebetulan saya
merasa kesepian.”
Nur terperanjat dan hamper saja terjatuh dari tumpuan high
heelsnya. Tapi dia segera sadar. Ini sebuah tuntutan. Ia ingat kata-kata tante
viola semalam. Lagi pula, bekerja disini atas kemauaanya sendiri. Kembali,
wajah dani membayang di kedua pelupuk matanya.
“oh, tentu saja bias tuan. Tapi tunggu sampai satu jam
kedepan. Aku ada perlu dengan pelanggan yang lain. Jika tuan mau, tinggal
memanggil saya di meja bartender.”
Lelaki bertubuh kekar itu tersenyum dan mengangguk puas. Nur
kembali dari hadapan mereka. Air mata hampir mengalir di kedua pelupuk matanya
jika ia tak segera menahannya. Malam ini ia harus berperan lain. Ya, nur
terpaksa haarus menanggalkan semua batasan-batasan norma yang ia pegang dari
desa. Ia hanya butuh uang.
Tuhan, aku hanya butuh uang untuk operasi
kanker dani. Maafkan aku tuhan. Berilah aku kelonggaran.
Ninon menyambutnya dengan wajah sumringah. “Tampaknya kamu
tadi ngobrol sama mereka. Apa yang kalian bicarakan?”
Nur tersenyum kecut.”pesanan.mereka butuh beberapa botol
lagi. Tapi nanti.”
Fernandes bangkit darikursinya.”oh iya, aku sudah janji
untuk menemani temanku main billiard. Tunggu disini ya saying.”ujarnya dan
mengecup pipi ninon. Ninon bersemu merah dan melirik kea rah nur. Nur pura-pura
asyik memutar-mutar jam tangannya hingga fernandes pergi dari hadapannya.
“oke, sebetulnya salah seorang pria tadi memintaku untuk
menemaninya mala mini.”ujar nur lirih. Hamper tak terdengar oleh suara music
yang membahana.
Ninon tersenyum.”bagus dong, baru beberapa menit, kamu sudah
ada yang pesan.”
Nur tersenyum hambar.”semoga aku tak menyesal.”
Ninon menghela nafas panjang. Kali ini dia hanya diam.
“kemana sekar?” Tanya nur. Matanya celingukan mencari
kawannya yang arogan itu.
“mungkin sudah ada yang bawa. Tadi aku sempat melihatnya
merayu seorang bule.”
“kamu sendiri kenapa tidak berkeliling meja dan mencari__”
Ninon menutup mulut nur dengan tangan mungilnya.”please nur.
Aku tak ingin mengkhianati fernandes. Aku berjanji akan mencintainya sepenuh
hati.”
Nur terdiam dan paham apa yang dimaksud ninon. Ninon
menurunkan tangannya dan kembali menikmati sisa rokoknya.
“lalu, kamu dapat duit darimana?”
Ninon melepaskan asap rokok dari mulutnya sedemikian rupa.
Membentuk gumpalan-gumpalan berbentuk lingkaran.”kau belum tahu. Fernandes
bekerja disini bukan demi uang. Tapi demi diriku. Ia anak orang kaya nur.
Bapaknya seorang menteri dan ibunya sebagai dokter spesialis jantung.”
“bagaimana mungkin ia bias terdampar di kafe ini?”
“ceritanya panjang.” Jawab ninon. Tatapannya menarawang.
***
malam sudah begitu larut. Seorang gadis berwajah oval tampak
duduk di meja bartender dan menatap sekeliling kafe. Hmm, sudah sepi rupanya.
Hanya ada beberapa gelintir orang yang masih bertahan di mejanya masing-masing.
Beberapa botol minuman tampak berserakan di atas meja yang sudah tidak bertuan.
Gadis itu menunggu sampai pengunjung benar-benar pulang semua dan membayar bir
nya.
Satu jam berlalu ketika dia sudah benar-beanr yakin bahwa
kafenya sudah kosong dari pengunjung. Kemudian tangan mungilnya mulai mengambil
botol-botol kosong dan menumpuknya dalam keranjang plastic. Pekerjaan tambahan
adalah harus membersihkan sisa-sisa makanan dan puntung rokok yang berserakan
di setiap meja. Begitulah, kondisi meja-meja kafe tak ubahnya seperti kapal
titanic yang menabrak gunung es. Tapi gerakan tangannya berhenti ketika ia
melihat seseorang teronggok di sudut ruangan. Mulutnya mengeluarkan erangan
atau lebih mirip igauan tak jelas. Disampingnya terdapat tiga botol bir yang
sudah kosong melompong. Gadis itu mengerutkan keningnya, rupanya masih ada
seorang lelaki di kafenya. Ah, padahal ia ingin segera pulang dan membenamkan
kepalanya di atas bantal yang empuk. Dan lelaki ini membuatnya kembali frustasi
dan mendengus kesal.
Gadis itu menghampiri lelaki yang terduduk dengan
botol-botol yangberserakan disampingnya. Dua bungkus rorok juga tergeletak tak
jauh dari kakinya. Kemudian jemari tangannya yang lentik menyentuk bahu lebar
pemuda itu,”maaf bang, kafenya mau tutup”
Pemuda itu membuka matanya yang memerah. Ia menyeringai dan
seketika bau alcohol menyeruak dari mulutnya.”tunggu sayang, aku lagi fly.” Dan
serta merta ia tertawa keras.
Kemudian tangannya merogoh sesuatu dari jaketnya.sebuah
jarum suntik dengan cairan warna kuning kini bertengger di lima jarinya yang
panjang.”kau boleh coba.”
Gadis itu kembali mendengus.”aku tidak butuh jarus suntik
sial itu.”
Lelaki yang tengah dimabuk cairan suntikan itu bangkit dari
duduknya dan mencoba merengkuh tubuh gadis itu. Tabi gadis itu berkelit dan
mencoba menghindar dari berat tubuhnya. Tangannya dengan lincah menghempaskan
punggung pemuda malang itu hingga terjatuh.
Pemuda itu merasa terhina. Ia semakin beringas dan mulai
menarik tangan gadis itu dan mendekapnya. Gadis itu mengap-mengap. Ia begitu
ketakutan melihat sorot mata birunya yang begitu misterius. Bau alcohol semakin
menyeruak dari kedua celah bibirnya yang tipis.” Kau akan takluk dalam pelukanku.”
Tak menunggu lama, gadis itu tahu apa yang harus ia lakukan.
Kaki kanannya ia angkat beberpa centi dan ujung high heelsnya yang runcing
tepat mendarat di atas jemari kaki pemuda itu. Lelaki itu berteriak kesakitan.
Ia kembali sempoyongan dan melepaskan tangannya. Kini gadis itu terbebas dari
cengkeramannya. Namun naas bagi pemuda itu, ia limbung .Sejurus kemudian
tubuhnya yang tinggi besar itu menghantam beberapa botol dan gelas di
belakangnya. Gadis itu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kepala bagian
belakang dan kedua lengan pemuda itu terkena pecahan kaca dan berlumur dengan
darah. Dan lebih parah lagi, pemuda itu tak bergerak sama sekali. Pingsan.
Gadis itu mendesah dan mengurut keningnya.”bangsat!! apa
yang harus aku lakukan dengan pemuda sialan ini.”
Beberapa saat lamanya ia masih tertegun dan berdiri dengan
hati yang diliputi keresahan. Percikan darah semakin melebar dan membuat kedua
lengan jaket pemuda itu kuyup.
Rasa marah dan iba bercampur jadi satu. Bagaimana pun juga,
lelaki itu celaka dengan tangannya sendiri. Dan selama ia menjadi pelayan bari
disitu, tak pernah sekalipun ia menemukan pemuda onar seperti pemuda yang kini
pingsan di hadapannya.
Tak menunggu lama, akhirnya ia menyeret pemuda tak berdaya
itu. Peluh mulai membanjiri keningnya dan ia yakin, ia akan kehabisan tenaganya
hanya dengan menyeret pemuda itu dari pojok hingga pintu bar. dua puluh menit
kemudian, ia bias mengeluarkannya dari bar. Kakinya yang mungil kembali ke
dalam bar. Mematikan lampu disko dan music. Kemudian mengunci pintu dan
jendela. Ia tak peduli dengan botol-botol dan gelas yang berserakan. Toh, besok
ia akan kembali kesana. Paling tidak, rekannya akan membersihkan kafe itu besok
pagi. Tak peduli jika nanti ia kena damprat tante viola, sang pemilik kafe.
Tangannya yang ramping kembali menyeret tubuh pemuda itu dan
menghempaskannya di bagian belakang mobil. Ia tak peduli lagi dengan apa yang
bakalan terjadi. Gadis itu kembali mengusap keringat yangberleleran di kening
dan lehernya. Ia menutup pintu mobil dengan perasaan tak menentu. Kemudian
meluncur menuju rumah sakit terdekat.
Ketika menyetir, pikirannya kembali kacau.
Apa yang harus aku
lakukan? Bagaimana aku bisa membawa lelaki brengsek ini ke rumah sakit.
****
Ninon sudah memakai pakaiannya dengan rapi. Semalaman ia tak bisa tidur sama sekali. Pikirannya
dipenuhi oleh bayang-bayang kejadian semalam. ia juga merasa ragu untuk
mengatakan hal yang sebenarnya kepada tante viola.
Setelah sarapan pagi, ninon mendatangi tante viola dan
menceritakan kejadian semalam. tante viola tampak terkejut mendengarnya.
“kenapa kau tak membiarkannya?”ujar tante viola. Matanya
menatap tajam kea rah ninon.
“aku sudah lelah tante. Waktu itu aku ingin pulang dan
istirahat di rumah.”
“bodoh! Seharusnya kamu melayani semua pelangganmu dengan
baik. Bukankah lelaki itu juga memintanya kepadamu?”
Tapi dia dalam keadaan mabuk tante. Saya tidak suka melayani
orang yang mabuk.” Bantah ninon mencoba membela diri.
Tante viola mendengus kesal.”ya sudah, tante sama sekar mau
berangkat ke kafe siang jam delapan. Kamu tengok lelaki itu ke rumah sakit.”
Ninon merasa ragu.
Tante viola seakan tahu jalan pikiran ninon.” Tak perlu berpikir macam-macam. Aku yakin, lelaki itu
kaya. Dia bisa membayar semua biaya rumah sakitnya. Kau hubungi saja keluarganya.”
Tante viola berlalu dari hadapannya. Tiba-tiba ninon ingat
bahwa handphone milik pemuda itu ada di tasnya. Ia masih diliputi keraguan,
bagaimana mungkin ia mengatakan hal ini kepada keluarganya. Ah, biarlah.
Ia melangkahkan kakinya denagan perasaan bimbang.
***
Pemuda itu mengerjapkan matanya. Penglihatannya samar-samar
dan perlahan bisa melihat dengan jelas. Ia meringis menahan sakit dan baru
menyadari ada perban yang membelit kepala dan kedua pergelangan tangannya.
Tubuhnya terasa kaku. Ia edarkan pandangannya. Ruangan itu dicat putih
sempurna. Ia tengah berbaring di ranjang dengan kasur dan selimut dengan warna
sama putihnya. Otaknya mulai menyimpulkan bahwa ia sedang berada di rumha
sakit. Saat itu juga ia kembali teringat apa yang dialaminya semalam. lalu
siapa yang membawanya kesini? Gadis itukah? Atau bisa saja gadis itu
membuangnya di tepi jalan, kemudian ada orang lain yang menemukannya dan
membawanya ke rumah sakit? Atau bisa saja mamanya menelponnya tapi tak ada
jawaban. Kemudian mamanya pergi ke kafe itu. Karena mamanya tahu setiap tempat
yang menjadi tempat tongkrongan anak tunggalnya. Lalu mamanya menemukan dirinya
tergeletak pingsan. Saat itu juga ia dibawa ke rumah sakit. Dan rupanya
mustahil gadis itu membawanya langsung ke sini. Bukankah gadis itu yang
membuatnya celaka? Tapi mungkin saja gadis itu tidak sengaja mencelakakan
dirinya dan merasa menyesal dengan apa yang telah terjadi kemudian membawanya ke sini? Ah, kepalanya
berdenyut memikirkan itu semua.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang perawat membawa
nampan berisi bubur dan meletakkannya di meja. Seorang dokter perempuan paruh
baya mengikutinya dari arah belakang.
Lelaki itu berusaha bangkit dan menyandarkan bahunya di atas
bantal. Tahu apa yang diinginkan pasiennya, perawat itu membenahi letak bantal
sehingga nyaman untuk dijadikan sandaran.
Dokter itu tersenyum dan berdiri di sampingnya.”jangan
khawatir, anda akan baik-baik saja. Besok pun anda bisa boleh pulang. Tapi
harus berobat jalan.”
Pemuda itu tersenyum.”kalau boleh tahu, siapa orang yang
membawa saya kesini dok?”
Dokter itu mengerutkan kening.”lho, memangnya anda sendirian
ketika kecelakaan?”
Pemuda itu menghela nafas panjang. Bingung dengan apa yang
harus ia katakan.” Aku bersama seorang perempuan?”
“oh iya, perawatku mengatakan semalam kamu dibawa oleh
seorang gadis. Apakah dia adikmu? Atau pacarmu?”Tanya dokter itu penuh selidik.
Pemuda itu kembali menghela nafas panjang. Bertepatan dengan
itu, terdengar ketukan di pintu. Si perawat bergegas membuka pintu. Seorang
gadis muncul dari pintu dan tersenyum tipis.
”selamat pagi…”sapanya dengan agak canggung. Kemudian ia
mengulurkan tangannya untuk menyalami dokter dan perawat yang berdiri di tepi
ranjang.
“Pagi juga.”jawab
dokter itu. Tangannya menyambut uluran tangan si gadis.
Pemuda itu terhenyak. Ia menatap gadis yang baru datang
tampa berkedip. Gadis yang menyebabkannya terluka semalam.
“bagaimana keadaannya dok?” Tanya gadis tersebut sembari
menatap pemuda itu dengan senyum merekah.
“lumayan bagus. Tidak perlu membutuhkan perawatan lanjutan.
Di kedua tangannya ada luka sayatan sepanjang sepuluh centi. Adapun dikepalanya
ada dua luka yang cukup dalam. Jika tidak segera dibawa kesini, mungkin dia
akan kehabisan darah.”
Gadis itu terdiam.
“apakah dia kakak anda?”Tanya dokter lebih lanjut.
“teman”jawab gadis itu
pendek. Pemuda itu terperangah mendengar apa yang dikatakannya barusan.
Dokter itu kembali tersenyum dan berlalu dari hadapan mereka. Sementara si
perawat membuntutinya dari belakang.
Pemuda itu menatapnya tajam. Tapi sejurus kemudian tersenyum
lebar.” Kau gadis yang aneh.”
“kau juga pria yang aneh dan brengsek.”jawab ninon
sengit.”bikin repot orang lain saja.”
Pemuda itu tertawa dan berkata,”lalu kenapa kau membawaku
kesini? Padahal bisa saja kau membuangku di jalan.”
Ninon tersenyum sarkastis.” Aku tidak setolol yang kamu
duga. Masih untung kalau kamu mati. Tapi aku yakin, kamu masih hidup, makanya
aku membawamu kesini. Jika kau hanya pingsan dan aku membuangmu dijalan, bisa
saja kau kembali ke kafeku. Kemudian kau akan membalas dendam dengan
membunuhku. Sederhana bukan?”
“serius?”
Ninon tertawa. Ia merasa senang bisa mempermainkan lelaki
brengsek itu.”tentu saja aku bercanda. Aku tak pernah berpikiran sekejam itu.”
“terimakasih sudah membawaku ke sini.”ujarnya dengan wajah
memerah.
“ya. Tapi ingat. Aku nggak punya uang untuk membayar biaya
rumah sakit. Jadi, ditanggung sendiri ya. Kamu anak orang kayak an?”
Pemuda itu tertawa mendengar candaan ninon. Ia tak menyangka
gadis bartender kafe bisa bertingkah itu
sekocak ini. “tentu saja. Aku pemuda kaya.”
“siapa namamu?”Tanya ninon. Ia melangkah menuju jendela dan
meraih kursi plastic dan memindahkannya ke pinggir ranjang. Kemudian ia duduk
disana.
“kamu?”
“ditanya balik nanya!”serunya tak senang.
Pemuda itu tersenyum.”fernandes! kamu?”
“nanti juga kau akan tahu sendiri.ngomong-ngomong, aku nggak
habis piker. Kenapa kamu bertingkah kurang ajar semalam.”
Fernandes tertunduk malu.” Maafkan aku. Aku lagi teler
semalam.”
“kamu juga bawa suntikan juga kan? Kamu orang yang suka
ngobat ya. Masih untung aku membawamu ke sini. Bukan ke kantor polisi. Bisa
mampus kamu.”kata ninon dengan nada mengejek.
“aku lagi frustasi!!”seru fernandes dengan memasang muka
masan.”kata-katamu barusan juga bikin aku semakin frustasi.”
Ninon terperanjat dengan perubahan sikap fernandes.”maaf,
aku bercanda.”
“nggak papa. Jika bukan kamu yang membawamu ke sini mungkin
aku sudah menampar mulutmu.”
Ninon tersenyum kecut.” Maaf. Aku yakin kamu punya banyak
masalah.”
Fernandes menghela nafas dalam-dalam dan mendesah.”kamu
gadis sok tahu.”
Ninon mengaduk-ngaduk tasnya. Mencari hape milik fernandes.
Setelah menemukannya, ia mengulurkannya.”ini hapemu. Aku menemukannya dari
jaketmu.”
Pemuda itu menatapnya tajam.”tanganku susah digerakkan.”
“apa perlu aku telpon orang tuamu?”ujar ninon.
“tak perlu.”
“tapi setidaknya ada orang yang akan menungguimu disini.
Orang tuamu pasti khawatir dan menunggumu sejak semalam.”
Fernandes tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.”mereka
tak akan pernah mengkhawatirkanku. Mereka membuatku bebas. Bahkan aku jarang
pulang ke rumah. Orang tuaku terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Ketika aku
tak pulang, papa mungkin mengira aku pulang ke rumah mama. Begitu juga
sebaliknya.”
“kedua orang tuamu cerai?”
Fernandes kembali menghela nafas.”ya begitulah.”
Rupanya dia korban broken home. Pantas saja dia urakan
begitu, pikir ninon.”tapi harus ada yang menungguimu disini.”
“aku ingin kamu yang menungguimu!”ujar fernandes dengan
tegas. Matanya menatap ninon dengan tajam.
“memangnya aku mamamu apa. Aku juga punya banyak urusan.
Lagi pula, siapa yang akan membayar biaya rumah sakit jika orang tuamu tak ada
yang tahu dengan kondisimu saat ini.”
“tolong telpon temanku. Namanya jack. Cari di kontak
ha-peku.”
“jangan sampai kau menelpon teman sesama pengobat. Aku nggak
suka liat kamu ngobat.”
Fernandes tersenyum jahil.”kamu perhatian banget. Padahal
kamu mamaku kan?”
Ninon mendengus kesal.” Siapa pun aku tak suka ketika
melihat orang ngobat. Lebih mending teler gara-gara alhkohol.”
“sama saja kan?” timpal fernandes tak mau kalah.
Kali ini ia terdiam. Ninon merasa malas melayani perkataan
fernandes barusan. Kemudian ia mencari nama yang dimaksud dan setelah ketemu,
menekan tombol memanggil dan mendekatkannya kearah fernandes.
Setelah beberapa saat lamanya terdengar seseorang menyapa.
Dan seketika itu juga fernandes terssenyum sumringah.” Jack, gue di rumah
sakit. Iya. Lu nggak usah nanya kenapa gue bisa di tempat sialan ini. Iya, iya.
Pokonya lu ke sini. Bawa duit sekitar…..berapa?”fernandes mengalihkan
pandangannya kea rah ninon.
“mana aku tahu!”jawab ninon menggedikkan bahu.
Fernandes kembali berkata.”oh iya, sekitar……tunggu! Sekitar
tujuh juta. Ya, kamu sendiri. Nggak usah bawa-bawa yang lain. Iya. Gue ngerti.
Lu nggak usah bilang ke bokap gue.” Klik. Ha-pe mati.
Ninon beranjak dari kursi dan kembali menyampirkan tas
tangannya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.” Aku
harus pergi sekarang.”
“Tunggu.”seru fernandes. Kedua tangannya bergeraklemah.
Tampaknya dia merasa gemas dengan segala keterbatasannya. Tubuhnya
bergerak-gerak tak nyaman. Ia menjejakan kakinya ke lantai dan duduk di samping
ranjang.
“apa lagi?”Tanya ninon. Mata cokelatnya menatap curiga.
“kamu nanti kesini lagi kan?” ujarnya penuh harap.
“kukira urusanku selesai. Lagi pula ada temanmu yang akan
menungguimu dan membayar tanggungan biaya rumah sakit.”
“bukan masalah itu.”
“lalu apa?”Tanya ninon masih dengan tatapan curiga.
Fernandes tersenyum simpul.”aku merindukanmu.”
Ninon mendengus dan beranjak pergi.
“Hei tunggu. Kau belum menyebutkan namanu.
“ninon”jawab ninon dan menutup pintu kamar.


No comments:
Post a Comment