8 Dec 2017

Gajah Mencari Teman

Suatu hari seekor gajah berkelana ke hutan untuk mencari teman.

Dia melihat seekor monyet di pohon.

“Maukah kamu menjadi temanku?” tanya si gajah.

Monyet itu membalas, “Kamu terlalu besar. Kamu tidak bisa memanjat pohon dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Kamu tidak mungkin bisa bersamaku.”

Si gajah merasa sedih mendengar pengakuan si monyet. “Ya, aku memang tidak mungkin berteman denganmu.” Lirihnya.

Selanjutnya, gajah itu bertemu dengan seekor kelinci. Dia meminta si kelinci untuk menjadi temannya.

Tapi si kelinci berkata, “Kamu terlalu besar untuk bermain sarangku. Aku menggali tanah dan kamu tidak mungkin bisa masuk ke dalamnya.”

Si gajah pun mengerti bahwa ia tidak mungkin berteman dengan kelinci yang pandai membuat liang di dalam tanah.

Kemudian gajah itu bertemu dengan seekor kodok.

“Maukah kamu menjadi temanku? Tanya gajah.

“Bagaimana bisa?” ujar kodok sangsi. “Kamu terlalu besar untuk bisa melompat seperti aku.”

Kemudian kodok itu meloncat ke dalam danau, menghilang beberapa saat dan kembari muncul sembari bertanya, “bisakah kamu berenang seperti saya?”

Gajah itu kesal. Ia pun melanjutkan perjalanan sembari berharap akan ada seekor hewan yang bisa menjadi temannya. Tak lama kemudian dia bertemu dengan seekor rubah. Lagi-lagi si gajah menawarkan pertemanan, “Maukah kamu menjadi temanku?”

 Si rubah menjawab, “Maaf kamu terlalu besar untuk menjadi temanku.”

Gajah pun pulang tanpa memperoleh seorang teman pun. Dia merasa sedih karena tidak ada yang mau berteman dengan dia.

Keesokan harinya, gajah melihat semua binatang di hutan berlari ketakutan dan berteriak-teriak.

Gajah merasa penasaran dan bertanya kepada rombongan beruang yang melintas di hadapannya. “Apa yang terjadi. Kenapa kalian ketakutan seperti itu?”

Seekor beruang menjawab. “Ada harimau di hutan. Dia kelaparan dan ingin melahap kita semua.”

Binatang-binatang masih ribut dan berlarian kesana kemari. Gajah kemudian bertanya-tanya, apa yang bisa dia lakukan untuk menolong mereka.

Sementara itu, harimau terus melahap siapa pun yang bisa dia temukan. Si Gajah pun berjalan menghampiri harimau dan berkata, “ Tuan, saya mohon tuan tidak memakan hewan-hewan malang itu.”

“Tidak usah ikut campur urusanku. Pikirkan saja dirimu sendiri!” seru harimau. Ia tidak senang gajah mencampuri urusannya.

Gajah pun berpikir untuk memberi pelajaran terhadap kesombongan harimau. Dia tidak takut karena badannya yang besar. Harimau tidak mungkin bisa mengalahkannya. Oleh karena itu, gakah menendang Harimau dengan tendangan yang keras.

“Beraninya kau melawanku.” Seru harimau sembari meraung kesakitan. Tendangan gajah tepat mengenai lambungnya. Tapi harimau tahu diri, dia tidak mungkin bisa melawan gajah. Kulit si gajah terlalu keras untuk dia cakar. Taringnya tidak bisa mengoyak kulit gajah yang tebal.

Akhirnya si harimau berlari ketakutan ketika gajah mengambil ancang-ancang untuk menendang lagi.
Gajah itu kembali ke hutan untuk mengumumkan kepada semua hewan bahwa harimau sudah kabur.
Semua binatang berterimakasih kepada gajah.

Banyak diantara mereka yang ingin menjadi teman si gajah. Mereka berkata, “Ukuran badanmu tidak menjadi soal. Kamu adalah sahabat kami.”
Husni
Husni

Husni Magz adalah blog personal dari Husni Mubarok atau biasa dipanggil kang Uni. Cowok Sunda yang bibliomania. Menyukai dunia seni dan tentunya doyan nonton baca dan nulis.

No comments:

Post a Comment